Showing posts with label Film. Show all posts
Showing posts with label Film. Show all posts

Sunday, June 16, 2013

Moon Lovers (Tsuki no Koibito)




Bahwa sebuah lagu bisa membangkitkan memori lama adalah benar. Gara-gara nggak sengaja abis ndengerin lagu Koi no Ame (Love Rain), aku pun merogoh kembali koleksi filmku untuk menonton ulang J-drama yang berjudul Tsuki no Koibito (Moon Lovers). Koi no Ame adalah original soundtrack yang dinyanyikan oleh Kubota Toshinobu untuk film itu.

The genre of that film is romantic, totally romantic! Although romantic films are not my interest, Tsuki no Koibito is one the exceptions. Film bergenre romantis umumnya terlalu mainstream, lebay, gitu-gitu doank, dengan ending yang hampir selalu bisa dipastikan happy. Malesinnya setengah mati sampai pengen banting meja, kursi, atau apapun yang bisa kubanting. Tapi di film ini, cerita romantisnya dikemas dengan apik dan menarik.

Tsuki no Koibito is one of my favourite Japanese drama. Ada beberapa hal sih yang bikin aku tertarik sama film ini. Tapi tentunya bukan karena sisi romantisnya lho cuma kebetulan aja filmnya bergenre romantis. Ketertarikanku pada film ini lebih pada kekuatan karakter tokoh-tokohnya. Ciri khas orang Jepang yang suka bekerja keras dan pantang menyerah sangat tergambar jelas. Dan kebetulan, tema film ini tentang desain interior, so, masih ada hubungannya lah sama minatku (baca: arsitektur).

Tokoh utama dari film ini adalah Hazuki Rensuke (diperankan oleh Takuya Kimura), seorang direktur perusahaan interior terbesar kedua di Jepang. Kalau udah soal pekerjaan, Rensuke is a hardworking and strong-willed person, but hard-headed, hard-nosed, cold-hearted, thick-skinned, insensitive and unbelievably annoying person! Ia menghalalkan segala cara dalam urusan pekerjaan, bahkan dengan cara kotor sekalipun nggak masalah. Rensuke nggak pernah mau peduli urusan orang lain, nggak peduli soal perasaan orang-orang yang dia sakiti. Masa bodoh. Nggak sedikit karyawan maupun rekan kerjanya yang jadi korban sakit hati. Tapi lucunya, banyak cewek yang tertarik alias jatuh cinta setengah mati sama dia. Walaupun nyebelinnya minta ampun, Rensuke punya inner beauty yang tanpa ia sadari mampu memikat para wanita. Karakternya yang charming dan cool membuat mereka jatuh cinta padanya.

Heroine di film ini adalah Ninomiya Maemi yang diperankan oleh Shinohara Ryoko. Dia adalah rekan kerja sekaligus teman dekat Rensuke sejak semasa kuliah. Aku suka banget sama karakter Maemi. Meski sama-sama workaholic seperti Rensuke, tapi kelebihan Maemi adalah cheerful, wise, mature, kind-hearted, soft-hearted, easygoing, good-humoured, etc. What a lovely woman! Dibandingkan Rensuke, usaha kerja keras Maemi dan kecintaannya pada pekerjaan lebih tergambar jelas di film ini. Struggle-nya sungguh bikin wow! Pernah dia berhasil menyelesaikan request hanya dalam waktu semalam. Ini sangat memotivasiku sebagai seorang arsitek!

Ada beberapa pelajaran yang bisa kupetik dari Maemi. Satu, kalau kita bersungguh-sungguh dalam pekerjaan kita, maka tidak ada yang tidak mungkin (meskipun dalam urusan hasil Allah yang menentukan sih). Dua, kalau kita mencintai pekerjaan kita maka segalanya akan berjalan lebih mudah. Tiga, jangan takut menerima tantangan (dalam hal pekerjaan) meskipun di awal kelihatannya impossible buat diselesaiin. Wow, two thumbs up for Maemi!

Dari tadi baru ngebahas soal Rensuke dan Maemi. Lalu bagaimana dengan tokoh yang lain? Hm, sebenernya banyak tokoh pendukung di luar mereka berdua. Tapi, di tulisan ini aku cuma mau ngebahas soal mereka aja. Karena menurutku cuma mereka yang karakternya menarik. So, kalau penasaran dengan tokoh lainnya, nonton sendiri aja ya! :)

Okay, back to Maemi. Bisa dibilang, Maemi adalah satu-satunya orang yang selalu berada di sisi Rensuke. Sebenernya banyak wanita yang pernah dekat dengan Rensuke, namun pada akhirnya mereka selalu meninggalkannya karena lama-lama nggak tahan dengan sikapnya. Cuma Maemi yang selalu di dekat Rensuke. Cuma Maemi yang bisa memahami Rensuke lebih dari siapa pun. So, pantes aja kalau Rensuke merasa nyaman membuka diri pada Maemi dan mengandalkan sahabatnya itu.

Maemi tahu di balik sikapnya yang dingin, Rensuke sebenarnya peduli dan memiliki hati yang baik. Di balik poker face-nya, Rensuke sesungguhnya menderita dan kesepian. Namun masa lalunya lah yang membuatnya menjadi orang yang sadistis seperti sekarang. Untuk itulah sebagai seorang sahabat yang baik, Maemi selalu berusaha men-support sahabatnya itu. Bahkan konsekuensinya adalah dia harus mengorbankan perasaan yang diam-diam dipendamnya terhadap Rensuke. 

(Haha, sayangnya Rensuke dan Maemi bukan suami istri. Kalau mereka sudah menikah, pasti oye banget tuh. Seorang istri yang selalu mendukung, menguatkan, dan mendampingi suaminya meski seluruh orang di dunia ini meninggalkannya lebay deh.)

Meski orangnya menyebalkan, dari Rensuke ini aku juga belajar banyak hal. Belajar tentang karakter manusia. Nggak sedikit satu dua orang atau bahkan belasan orang di sekeliling kita yang memiliki karakter yang membuat kita pengen memutilasi mereka (sadis!). Tapi jangan keburu emosi dulu, cobalah untuk berpikir positif! Contoh nih, banyak kan dosen killer yang nyebelinnya setengah mati? Nah, tapi kenapa harus membenci mereka?

Yakinilah setiap orang punya sisi baik di dalam dirinya. Dan percayalah bahwa manusia itu bisa berubah. Umar bin Khattab ra yang di masa jahiliyah-nya begitu keras membenci Islam saja bisa dapat hidayah, kenapa orang biasa tidak bisa? 

Percayalah setiap orang punya kelebihan dan kekurangan masing-masing. Ketika ada orang-orang seperti Rensuke, tugas kita adalah mengingatkan bukan meninggalkan mereka. Tidakkah kalian percaya dengan kekuatan doa? Doakan mereka dan selalulah bersikap positif. :) #NtMS

Well, sebagai penutup, aku kasih satu lagi sedikit bocoran alias spoiler dari film ini. Sebuah pelajaran lainnya yang bisa kita petik dari film ini adalah soal jodoh. Jodoh adalah sesuatu yang misteri. Kita tidak akan pernah bisa menebak siapa yang kelak akan menjadi jodoh kita. Bisa jadi, orang yang dengannya kita akan bersama kelak adalah seseorang yang sama sekali tak disangka-sangka. It is not impossible for an unrequited love becoming a requited love someday, haha. Who knows?

Jogja, 16 Juni 2013 12:00
Meidwinna Saptoadi


Tuesday, January 22, 2013

When A Stranger Calls



When A Stranger Calls. Itu judul film yang aku tonton semalem di televisi. Tadi malem emang sengaja mengagendakan nonton film itu, setelah ngeliat iklannya beberapa hari yang lalu. Maklum, penggemar film suspense and thriller. Tapi berhubung tu film kayaknya serem dan bikin deg-degan banget, makanya kuajakin adikku nemenin. Hehe.

Film itu bercerita tentang seorang anak SMA bernama Jill yang bekerja sambilan sebagai penjaga anak. Jill itu nama cewek lho Nah kali ini Jill disewa untuk menjaga anak-anak pasangan suami istri Mandrakis, dokter yang kaya raya. Rumahnya supeeerr!! Nggak cuma besar, tapi arsitekturnya juga keren. Gaya arsitektur modern dan smart building. Buat kamu yang nggak tau apa itu smart building, sesuai namanya, itu adalah rumah pintar. Lampunya bisa nyala-mati otomatis, adanya sistem keamanan yang canggih, dan lain-lain. Tapi, lokasi rumah tempat Jill bekerja jauh dari perkotaan, suburb. Rumah besar itu berdiri di tepi danau, dikelilingi air dan hutan. Padahal sebagian ekterior bangunannya pake kaca besar-besar. Serem gak tuh?  Kalau aku sih nggak mau disuruh tinggal di tempat kayak gitu, sebagus apapun rumahnya.

Ceritanya, malam itu pasangan Mandrakis ada acara sampe tengah malam. Jadi si Jill dimintain tolong jagain anak-anak sampe mereka pulang. Tapi sih menurutku bukan jagain anak-anak, lha wong sepanjang film anak-anaknya tidur mulu. So, mungkin lebih tepat sebagai penjaga rumah, wkwk. Jadilah si Jill jagain anak dan rumah itu sendirian. Sebenernya nggak sendirian sih, ada satu lagi pembantu di rumah itu yang kadang dateng kadang pulang, namanya Rosa. Tapi kocaknya, saking besarnya itu rumah, Jill sampe nggak bisa mastiin apa Rosa ada di rumah atau udah pulang.

Ketegangan dimulai saat ada unknown caller mulai mengganggu Jill. Tiap beberapa menit sekali, si penelepon tanpa identitas itu terus menelepon ke kediaman Mandrakis. Teror terus berlanjut sampe akhir cerita. Mau tau kelanjutannya? Silakan tonton sendiri deh! Yang jelas, si penelepon misterius itu akhirnya berhasil masuk ke dalam rumah.

---

Seperti yang aku ceritain di awal, rumah kediaman Mandrakis dilengkapi dengan sistem keamanan yang canggih. Jadi gimana cerita ada orang luar bisa menyusup ke dalam rumah? Nah itulah yang sebenernya mau aku bahas.

Dari film itu ada beberapa hikmah yang bisa kita ambil. Pertama, sistem keamanan tercanggih sekalipun adalah buatan manusia. Bukan mustahil jika ada manusia lain yang berhasil membobol sistem tersebut. Tak ada sistem keamanan yang bisa bener-bener menjamin keamanan kita. Tapi lain halnya jika itu sistem keamanan dari Allah, atau dengan kata lain perlindungan dari Sang Pencipta. Kalau sistem keamanan yang ini, yakin deh 100% nggak ada yang bisa membobol. Nah terus gimana donk caranya menginstal sistem keamanan dari Allah? Gampang kok. Cukup senantiasa mendekatkan hati ini kepada-Nya. Kalau kode keamananannya apa? Zikir sepanjang waktu. Dengan zikir, berarti kita menyerahkan sepenuhnya keamanan kita pada perlindungan-Nya.

“Katakanlah ‘Dialah Allah, Yang Maha Esa. Hanya Allah-lah Dzat yang seluruh makhluk bergantung kepada-Nya. Dia tidak beranak dan tidak pula diperanakkan, dan tidak ada satu pun yang menyamai-Nya’.”
(QS. Al Ikhlas : 1-4)

“Katakanlah, ‘Aku berlindung kepada Tuhannya manusia. Yang merajai seluruh manusia. Ilah (sembahan) manusia, dari kejahatan (bisikan) setan yang biasa bersembunyi, yang membisikkan (keburukan) ke dalam dada manusia, dari golongan jin dan manusia’.”
(QS. An Naas : 1-6)

Kedua, tidak diragukan lagi betapa bahayanya malam. Tidak bisa dipungkiri, banyak kejahatan bermunculan di malam hari. So, nggak salah jika orang bilang, “Nggak baik bagi wanita keluar malam, apalagi sendirian.” Keluarnya wanita (apalagi sendirian) pada malam hari itu sama aja mengundang bahaya.
Sebenarnya, ada apa dengan malam hari? Apa yang menyebabkan malam begitu berbahaya? Bahasan tentang kejahatan malam mungkin bisa dikaji lebih lanjut di kesempatan lain. Yang jelas, kita semua pastinya sudah sepakat dengan bahaya-bahaya yang bermunculan di malam hari. Lalu, di saat begitu banyaknya kejahatan malam mengintai kita, apa yang bisa kita lakukan? Jawabannya adalah pasrah. Pasrahkan keamanan kita pada Allah. Tapi tentunya nggak bisa pasrah begitu aja. Setelah mengusahakan keamanan yang terbaik, baru deh boleh kita pasrahkan sama Allah. Zikir nggak boleh ketinggalan.

“Katakanlah, ‘Aku berlindung kepada Rabb yang memiliki Subuh, dari kejahatan apa (makhluk) yang telah diciptakan-Nya, dari kejahatan malam apabila telah gelap gulita, dan dari kejahatan wanita-wanita tukang sihir yang mengembus pada ikatan, dan dari kejahatan orang yang dengki apabila ia dengki’.”
(QS. Al Falaq : 1-5)

Ketiga, masuknya penjahat ke dalam rumah di film tersebut bisa jadi terjadi karena kelalaian manusia. Entah lupa mengunci pintu, lupa mengaktifkan sistem keamanan, ataupun yang lainnya. Hal itu wajar saja terjadi, kan manusia itu tempatnya salah dan lupa. Tapi yang jelas, kalau Allah tidak akan pernah lalai kan? J

Keep Allah in our heart!


Yogyakarta, January 22, 2013
Meina Fathimah

Monday, January 21, 2013

Legal High



Drama serial Jepang yang sedang kutonton saat ini berjudul Legal High. Film itu bercerita tentang dunia pengacara, hukum, peradilan, dan lain-lain. Awalnya aku tertarik nonton karena penasaran dengan dunia pengacara. Aku yang lulusan Teknik ini buta soal dunia peradilan, makanya aku pengen tau, apa sih sebenarnya tugas dan wewenang seorang pengacara. Soalnya yang aku liat di berita koran maupun tivi, yang kutahu, tugas pengacara adalah membela klien mereka, nggak peduli dia orang baik, koruptor, pembunuh, dll. Tapi masa iya orang jahat dibela?

Tokoh utama dalam film itu adalah seorang pengacara wanita bernama Mayuzumi yang selalu berpegang teguh pada kebenaran. Ia awalnya bekerja sebagai seorang pengacara di biro pengacara yang cukup tenar. Namun karena ketidakcocokan ideologis, ia keluar dari biro tersebut. Atas rekomendasi seseorang, Mayuzumi  bergabung dengan sebuah biro kecil milik seorang pengacara bernama Komikado. Komikado ini terkenal sebagai seorang pengacara aneh, menyebalkan, dan mata duitan. Tapi ia punya kehebatan yaitu belum pernah sekalipun kalah di peradilan. Dan Mayuzumi pun akhirnya menjadi kolega sekaligus rival Komikado. Dengan bergabung di biro Komikado, Mayuzumi bertekad mengalahkan Komikado suatu saat nanti, selain berniat menemukan jawaban tentang apakah sebenarnya pengacara itu, apakah memperjuangkan keadilan ataukah memenangkan klien.

Kasus di episode satu adalah membela klien yang dituduh membunuh bosnya. False accusation. Kasus selesai, berakhir happy ending. Kasus kedua tentang lagu yang dicuri alias penjiplakan. Happy ending juga sih, meskipun nggantung, karena korbannya minta kasusnya ditarik. Damai. Tapi bikin geregetan yang nonton.

Nonton episode tiga, aku semakin geregetan. Tentang kasus seorang pria yang membawa kabur pengantin wanita. Yang menjadi pengacara dari si pelaku adalah Mayuzumi. Kalau di dua kasus sebelumnya Mayuzumi bekerja sama dengan Komikado, kali ini ia harus berjuang sendiri. Kasus ini sebenarnya hanya masalah kesalahpahaman. Dan setelah melalui proses peradilan akhirnya klien Mayuzumi dinyatakan bersalah. Padahal sebenarnya pembelaaan yang dilakukan Mayuzumi belum selesai. Tapi si klien minta dicukupkan saja, dan rela menerima hukuman.

Episode keempat bikin aku semakin bingung. Kasus kali ini melibatkan perusahaan yang akan membangun sebuah apartemen dengan warga sekitar. Warga tidak terima dengan pembagunan apartemen tersebut. Nah, duet Mayuzumi-Komikado menjadi pengacara dari perusahaan tersebut. Padahal hati Mayuzumi sebenarnya condong untuk membela para warga. Diam-diam dia melakukan semacam pengkhianatan yaitu membantu pihak lawan. Namun ulahnya ketahuan oleh Komikado.

Aku melakukan ini atas nama keadilan dan kebenaran, kurang lebih begitu kata Mayuzumi membela diri. Tapi yang bikin aku bingung, Komikado malah mempertanyakan balik apakah benar yang Mayuzumi lakukan itu demi keadilan. Menurutnya, perbuatan Mayuzumi tidak pantas dilakukan seorang pengacara. Huff, kasus kali ini cukup kompleks. Dan aku mulai bingung membedakan mana yang benar dan mana yang salah.

Rasa bingung dari kasus keempat kubawa sampai ke episode lima. Episode kali ini, Mayuzumi-Komikado menjadi pengacara dari seorang koruptor. Penjelasannya nggak usah kuceritain di sini ya. Soalnya aku bener-bener bingung. Makin nggak ketemu jawaban atas jawaban pertanyaanku : apakah sebenarnya tugas seorang pengacara? Membela keadilan atau memenangkan klien?

Masih tersisa enam episode yang belum kutonton. Nggak kuat, bisa-bisa malah makin bingung ntar. Meskipun mungkin kalau aku runut ceritanya sampai cerita terakhir di episode sebelas, pertanyaanku akan terjawab. Hm, mungkin ntar deh nontonnya dilanjut kapan-kapan, kalau aku udah siap.


Yogyakarta, January 21, 2013
Meina Fathimah

Monday, September 19, 2011

“Coffee House”


Senin 18 Juli 2011, aku menghabiskan waktu liburan dengan duduk di depan laptop, menonton film. Setelah menjelajah dan menelusuri daftar koleksi film yang aku punya, mataku tertumbu pada salah satu koleksi film lamaku. Aku tertarik untuk menonton kembali “Coffee House”, satu dari sedikit koleksi filmku yang bergenre Korean drama.


Film tersebut diberi judul “Coffee House” karena ceritanya tak lepas dari kehidupan di rumah kopi : cinta, persahabatan, pekerjaan, dan lain-lain. Drama ini sesungguhnya menekankan pada sisi romansa, namun pada tulisan ini aku sama sekali tak bermaksud mengangkat kisah percintaan para tokohnya. Tulisan ini bukan bertujuan untuk menceritakan kembali film tersebut, sebaliknya justru akan menitikberatkan pada karakter tokoh. Karena hal yang paling menarik bagiku dari film ini adalah karakter para tokoh utama : Seo Eun Yeong, Lee Ji Won, dan Kang Seung Eung. Well, check this out gan!


- Seo Eun Yeong (Presiden Seo/ Eun Yeong)

Eun Yeong digambarkan sebagai seorang wanita karir yang sempurna : cantik, kaya, sukses, mandiri, berjiwa pemimpin. Ia menjadi presiden di sebuah publishing company sekaligus pemilik sebuah rumah kopi. Namun sayangnya, dengan kesempurnaan yang Eun Yeong miliki, ia belum mendapatkan pendamping hidup alias menikah. Konon, tidak ada lelaki yang berani melamar Eun Yeong mengingat betapa sempurnanya ia. Banyak lelaki yang berharap menjadi suami Eun Yeong namun tak ada satupun yang berani dan percaya diri menawarkan diri.

Pesona seorang Eun Yeong terletak pada ketangguhannya, yang tak pernah menangis walau dihimpit beragam permasalahan berat, yang selalu mampu bangkit kembali dengan segera dari keterpurukan. Ia juga bukan tipe orang yang suka meminta belas kasihan orang lain. Semua permasalahan selalu ia hadapi sendiri, baik itu masalah pekerjaan, masalah hati, dan lain-lain. Saat dia terpaksa harus menangis, maka dia tidak akan menangis di depan orang lain, terutama di depan anak buahnya. Karakter Eun Yeong yang tegar, tangguh, serta selalu menjunjung tinggi harga diri alias gengsinya sangat aku sukai. Karakter itulah yang menginspirasiku untuk menjadi wanita yang tegar dan kuat.


- Lee Ji Won (Penulis Lee/ Ji Won)

Ji Won adalah sahabat karib Eun Yeong sejak sepuluh tahun yang lalu, ketika mereka masih sama-sama kuliah. Namun di sisi lain, Ji Won alias Penulis Lee menjadi “musuh” Presiden Seo. Penulis Lee adalah penulis buku-buku misteri yang berada di bawah publishing company milik Presiden Seo. Sifat sang penulis yang menyebalkan, suka membangkang dan tidak bisa diatur selalu membuat Presiden Seo berang dan kesal.

Ji Won diceritakan sebagai orang yang unggul pada kesan pertama, namun bagi orang yang sudah mengenal dia dengan baik, dipastikan akan gregetan dibuatnya. Bahkan hidup berdampingan dengan Ji Won tak jauh dari air mata. Istri Ji Won telah menceraikannya, Presiden Seo pun tak jarang dibuatnya menangis, lalu sekretaris pribadi Ji Won pun tak kalah teraniaya oleh sikapnya yang egois dan menyebalkan. Ji Won adalah seorang yang egois, pembohong, jalan pikiran dan kemauannya susah ditebak dan dipahami, tidak bisa diatur, dan lain-lain.

Walau menyebalkan dan tak tahu diri, ada sisi baik pada diri Ji Won. Ji Won terkadang rela dicap buruk demi menutupi penderitaan maupun perasaannya sendiri. Pada orang yang ia sayangi, seperti Eun Yeong, ia selalu menutupi penderitaannya agar Eun Yeong tidak menjadi sedih dan ikut menderita. Pernah suatu ketika Ji Won sakit. Namun demi menutupi kenyataan kalau ia sedang sakit, Ji Won bersikap menghindar dari Eun Yeong dan bahkan mengusir Eun Yeong yang hendak berkunjung. Pernah juga Ji Won kabur dari company tanpa mengucap sepatah kata apapun sehingga membuat Presiden Seo kalang kabut dan berang. Namun sesungguhnya dia kabur untuk mencari tempat dan suasana yang lain untuk menyelesaikan draft tulisan yang akan diserahkan kepada company.


- Kang Seung Eung (Penulis Kang/ Seung Eung)

Seung Eung adalah seorang gadis yang baru saja lulus kuliah namun belum juga mendapatkan pekerjaan hingga di usianya yang ke-25 tahun. Namun secara misterius dia direkrut menjadi sekretaris pribadi seorang penulis terkenal, Lee Ji Won. Seung Eung adalah gadis yang jujur, polos, dan baik hati. Mungkin karena keluguannya itulah, Penulis Lee tak segan-segan “menganiaya”nya dengan menyuruhnya melakukan hal-hal yang aneh dan tidak jelas. Meski begitu Seung Eung tetap melakukan apapun yang diminta oleh majikannya.

Hari-hari Seung Eung tak lepas dari kemarahan dan sikap menyebalkan dari majikannya, sehingga air mata cukup akrab dengannya. Namun sama seperti Eun Yeong yang selalu bangkit segera setelah terpuruk, senyum dan semangat selalu menggantikan air matanya. Bahkan lama-kelamaan, kemarahan Penulis Lee tak lagi ia hadapi dengan air mata namun senyum tulus dan besar hati.

Kebaikan Seung Eung yang patut ditiru juga adalah ia jauh lebih mementingkan orang daripada dirinya sendiri. Salah satu klimaks dalam cerita ini adalah ketika Seung Eung dipecat oleh Penulis Lee karena Seung Eung membocorkan sakit dan penderitaan yang dialami oleh majikannya itu kepada Presiden Seo. Padahal sebelumnya Penulis Lee menyuruh Seung Eung merahasiakan semua kesakitan itu. Namun demi menghentikan clash antara Penulis Lee dan Presiden Seo, Seung Eung membocorkan semua rahasia yang selama ini ditutupi oleh majikannya demi melindungi Presiden Seo. Walau dengan begitu clash dan kesalahpahaman di antara Penulis Lee dan Presiden Seo cukup mereda, munculah permasalahan baru. Penulis Lee merasa sangat marah pada Seung Eung yang ternyata tak bisa lagi dipercayai dan kemudian memecatnya. Seung Eung merasa sangat sedih dan hancur. Namun tak lama setelah itu dia kembali bangkit dan mencoba memberanikan diri untuk meminta maaf kepada Penulis Lee. Pada mulanya permintaan maaf Seung Eung ditolak. Penulis Lee mengatakan bahwa meminta maaf tidak akan dapat mengubah kenyataan. Lalu Seung Eung menanggapinya dengan berkata, “maaf memang tidak bisa mengubah apa yang sudah terjadi, namun maaf dapat mengubah pikiran dan hati”. (Wonderful, aku paling suka kalimat itu!) Mendengar perkataan tulus dan melihat kesungguhan hati dari Seung Eung, Penulis Lee pun memaafkannya.

Setelah cukup lama berguru pada sang penulis, akhirnya Seung Eung “lulus”. Setelah menjadi mandiri dan tumbuh dewasa, ia pun mengikuti jejak gurunya menjadi penulis juga.


Well, itulah sedikit banyak hal yang ingin aku share kepada teman-teman semua. Silakan dicerna sendiri dan diambil manfaatnya. Semoga tulisan ini berguna untuk menjadikan diri kita lebih baik dan lebih hebat dari sebelumnya, amin. J

Juli 2011

Meyna Fathimah

meidwinna.blogspot.com

Thursday, June 23, 2011

PESONA DRAMA ASIA VERSUS FILM NEGERIKU

Beberapa bulan terakhir aku teracuni pesona drama Asia alias dorama (sebutan untuk drama Jepang) oleh teman-temanku. Jenis film yang dulu aku benci dan aku hindari, namun kini menjadi film favorit. Film yang pernah aku anggap “sampah” dan cengeng, ternyata jauh dari bayanganku dan kini menjadi film yang layak aku acungkan kedua jempol (kecuali film yang bergenre romansa.. >_< bukan tipeku!!)

Terlepas dari adegan yang terkadang tidak seronok dan bertentangan dengan ajaran Islam, banyak sekali kutemukan nilai-nilai positif di dalamnya. Banyak sekali kata-kata hikmah maupun perilaku positif yang patut ditiru, jauh berbeda dengan sinetron Indonesia yang isinya hanya air mata, kesengsaraan, hingga roman picisan yang tak berisi layaknya tong kosong. Di sini aku ingin sedikit berbagi, bagaimana dorama mampu merebut hatiku dan pantas kita acungi jempol, berikut beberapa pandanganku :

- Ceritanya sederhana namun berbobot

Inti cerita dari suatu dorama biasanya hanya satu dengan satu permasalahan utama, sehingga makna ceritanya dapat ditangkap dengan baik. Jauh berbeda dengan cerita bertele-tele ala sinetron Indonesia yang hanya sekedar cari rating. Jika sinetron Indonesia berjumlah puluhan hingga ratusan episode, dorama umumnya hanya sepuluh hingga belasan episode saja.

- Ketegaran sang tokoh

Dalam cerita dorama, tak sedikit tokoh yang dirundung permasalahan berat seperti layaknya cerita sinetron. Namun perbedaannya, sang sutradara mampu menghadirkan tokoh (baik utama maupun pembantu) yang tetap tegar walau dianiayai, memiliki ketegaran hati dan tetap tersenyum menghadapi masalah seberat apapun, serta memiliki kemauan yang kuat (struggle) dalam mencapai impian walau harus terjatuh berkali-kali. Tokoh-tokoh dalam cerita dorama umumnya jauh dari tokoh cengeng yang pamer air mata.

- Banyak sekali kata-kata indah dan keteladanan yang mengandung nasehat

Aku menyukai kata-kata indah, kata-kata mutiara sebagai penyemangat diri. Dan kata-kata itu banyak sekali aku temukan di dalam dorama. Percakapan-percakapan nasehat banyak sekali dilontarkan antara orang tua dengan anak, guru dengan murid, antar teman, antara tokoh baik dan tokoh jahat, dan lain-lain.

Kata-kata penuh hikmah, semangat, dan cinta begitu lugas dilontarkan, begitu dalam dan tulus, sehingga dalam cerita tersebut tak sedikit mereka yang dinasehati tergerak hatinya untuk menjadi orang yang baik. Bahkan tokoh sejahat apapun digambarkan masih punya hati nurani sehingga mungkin untuk luluh oleh nasehat maupun oleh kebaikan seseorang.

Dalam tulisan ini aku sama sekali tidak bermaksud menjelek-jelekkan film lokal Indonesia dan mengagung-agungkan produk tetangga. Aku hanya ingin berbagi dan mengajak kita semua membuka mata, melihat contoh positif dari negeri tetangga untuk kemudian diambil sebagai panutan yang baik. Siapa sih yang tidak bangga jika film Indonesia kelak berkualitas?

Seharusnya kita malu, Indonesia yang notabene memiliki penduduk Muslim terbesar di dunia, masa iya miskin dengan film-film yang bernilai positif dan hikmah? Nilai-nilai positif tidak harus melulu ditunjukkan dengan ayat-ayat Al-Qur’an dan ceramah. Keindahan Islam dapat ditunjukkan pula dengan kemuliaan akhlaq, kelembutan lisan, ketegaran hati, kemauan yang keras, dan lain-lain. Islam itu menyeluruh dan mencakup semua aspek.

Penyampaian dakwah Islamiyah melalui film bisa menjadi alternatif yang menarik dan mudah diterima oleh masyarakat. Penanaman nilai-nilai Islam dalam setiap adegan dan keteladanan tokoh-tokohnya, jika dilakukan terus-menerus dan berkelanjutan dipastikan akan mempengaruhi pola berpikir dan pola perilaku masyarakat. Memang tidak mudah, perlu waktu cukup lama dan konsistensi untuk berdakwah melalui dunia perfilman. Namun memang inilah jalan yang harus ditempuh, panjang dan berliku, butuh keistiqomahan, dan tak semudah membalikkan telapak tangan.

Ah, aku bermimpi kelak suatu saat nanti aku menjadi penulis naskah drama yang merebut hati jutaan pemirsa Indonesia dan mampu menyiramkan nilai-nilai keislaman agar tertanam kokoh dalam akhlaq manusia Indonesia. Demi mewujudkan masyarakat Indonesia yang beradab, berbudi luhur, berdisiplin tinggi, peka sosial, dan berkarakter. Semoga.. Aamiin..

Juni 2011

Assalamu'alaykum warahmatullahi wabarakatuh...

(Puji syukur kehadirat Allah yang masih memberikan nikmat iman dan Islam pada diri ini..)

Selamat datang di blogku yang mungkin hanya berisi secuil pemikiran dan ungkapan isi hati...

Sungguh, kebenaran datangnya hanya dari Allah. Adapun kesalahan datangnya murni dari diri ini. Untuk itu mohon masukan, kritik, dan sarannya serta mohon dimaafkan atas segala kesalahan. Terima kasih. Selamat menikmati. Semoga bermanfaat dan membawa berkah. Amin

(Mulakanlah dengan membaca Basmalah.... dan akhirilah dengan Hamdalah..)