Kita adalah manusia, ciptaan-Nya yang paling sempurna di antara makhluk yang lain. Tapi apakah yang sudah kita lakukan sebagai makhluk-Nya? Kita diciptakan di bumi ini bukan hanya sekedar "pemanis". Kita adalah KHALIFATULLAH! Lantas sudahkah kita menjalankan amanah suci ini? Selamat berjuang, Allah yubarik fik!
Sunday, June 16, 2013
Moon Lovers (Tsuki no Koibito)
Tuesday, January 22, 2013
When A Stranger Calls
Monday, January 21, 2013
Legal High
Monday, September 19, 2011
“Coffee House”
Senin 18 Juli 2011, aku menghabiskan waktu liburan dengan duduk di depan laptop, menonton film. Setelah menjelajah dan menelusuri daftar koleksi film yang aku punya, mataku tertumbu pada salah satu koleksi film lamaku. Aku tertarik untuk menonton kembali “Coffee House”, satu dari sedikit koleksi filmku yang bergenre Korean drama.
Film tersebut diberi judul “Coffee House” karena ceritanya tak lepas dari kehidupan di rumah kopi : cinta, persahabatan, pekerjaan, dan lain-lain. Drama ini sesungguhnya menekankan pada sisi romansa, namun pada tulisan ini aku sama sekali tak bermaksud mengangkat kisah percintaan para tokohnya. Tulisan ini bukan bertujuan untuk menceritakan kembali film tersebut, sebaliknya justru akan menitikberatkan pada karakter tokoh. Karena hal yang paling menarik bagiku dari film ini adalah karakter para tokoh utama : Seo Eun Yeong, Lee Ji Won, dan Kang Seung Eung. Well, check this out gan!
- Seo Eun Yeong (Presiden Seo/ Eun Yeong)
Eun Yeong digambarkan sebagai seorang wanita karir yang sempurna : cantik, kaya, sukses, mandiri, berjiwa pemimpin. Ia menjadi presiden di sebuah publishing company sekaligus pemilik sebuah rumah kopi. Namun sayangnya, dengan kesempurnaan yang Eun Yeong miliki, ia belum mendapatkan pendamping hidup alias menikah. Konon, tidak ada lelaki yang berani melamar Eun Yeong mengingat betapa sempurnanya ia. Banyak lelaki yang berharap menjadi suami Eun Yeong namun tak ada satupun yang berani dan percaya diri menawarkan diri.
Pesona seorang Eun Yeong terletak pada ketangguhannya, yang tak pernah menangis walau dihimpit beragam permasalahan berat, yang selalu mampu bangkit kembali dengan segera dari keterpurukan. Ia juga bukan tipe orang yang suka meminta belas kasihan orang lain. Semua permasalahan selalu ia hadapi sendiri, baik itu masalah pekerjaan, masalah hati, dan lain-lain. Saat dia terpaksa harus menangis, maka dia tidak akan menangis di depan orang lain, terutama di depan anak buahnya. Karakter Eun Yeong yang tegar, tangguh, serta selalu menjunjung tinggi harga diri alias gengsinya sangat aku sukai. Karakter itulah yang menginspirasiku untuk menjadi wanita yang tegar dan kuat.
- Lee Ji Won (Penulis Lee/ Ji Won)
Ji Won adalah sahabat karib Eun Yeong sejak sepuluh tahun yang lalu, ketika mereka masih sama-sama kuliah. Namun di sisi lain, Ji Won alias Penulis Lee menjadi “musuh” Presiden Seo. Penulis Lee adalah penulis buku-buku misteri yang berada di bawah publishing company milik Presiden Seo. Sifat sang penulis yang menyebalkan, suka membangkang dan tidak bisa diatur selalu membuat Presiden Seo berang dan kesal.
Ji Won diceritakan sebagai orang yang unggul pada kesan pertama, namun bagi orang yang sudah mengenal dia dengan baik, dipastikan akan gregetan dibuatnya. Bahkan hidup berdampingan dengan Ji Won tak jauh dari air mata. Istri Ji Won telah menceraikannya, Presiden Seo pun tak jarang dibuatnya menangis, lalu sekretaris pribadi Ji Won pun tak kalah teraniaya oleh sikapnya yang egois dan menyebalkan. Ji Won adalah seorang yang egois, pembohong, jalan pikiran dan kemauannya susah ditebak dan dipahami, tidak bisa diatur, dan lain-lain.
Walau menyebalkan dan tak tahu diri, ada sisi baik pada diri Ji Won. Ji Won terkadang rela dicap buruk demi menutupi penderitaan maupun perasaannya sendiri. Pada orang yang ia sayangi, seperti Eun Yeong, ia selalu menutupi penderitaannya agar Eun Yeong tidak menjadi sedih dan ikut menderita. Pernah suatu ketika Ji Won sakit. Namun demi menutupi kenyataan kalau ia sedang sakit, Ji Won bersikap menghindar dari Eun Yeong dan bahkan mengusir Eun Yeong yang hendak berkunjung. Pernah juga Ji Won kabur dari company tanpa mengucap sepatah kata apapun sehingga membuat Presiden Seo kalang kabut dan berang. Namun sesungguhnya dia kabur untuk mencari tempat dan suasana yang lain untuk menyelesaikan draft tulisan yang akan diserahkan kepada company.
- Kang Seung Eung (Penulis Kang/ Seung Eung)
Seung Eung adalah seorang gadis yang baru saja lulus kuliah namun belum juga mendapatkan pekerjaan hingga di usianya yang ke-25 tahun. Namun secara misterius dia direkrut menjadi sekretaris pribadi seorang penulis terkenal, Lee Ji Won. Seung Eung adalah gadis yang jujur, polos, dan baik hati. Mungkin karena keluguannya itulah, Penulis Lee tak segan-segan “menganiaya”nya dengan menyuruhnya melakukan hal-hal yang aneh dan tidak jelas. Meski begitu Seung Eung tetap melakukan apapun yang diminta oleh majikannya.
Hari-hari Seung Eung tak lepas dari kemarahan dan sikap menyebalkan dari majikannya, sehingga air mata cukup akrab dengannya. Namun sama seperti Eun Yeong yang selalu bangkit segera setelah terpuruk, senyum dan semangat selalu menggantikan air matanya. Bahkan lama-kelamaan, kemarahan Penulis Lee tak lagi ia hadapi dengan air mata namun senyum tulus dan besar hati.
Kebaikan Seung Eung yang patut ditiru juga adalah ia jauh lebih mementingkan orang daripada dirinya sendiri. Salah satu klimaks dalam cerita ini adalah ketika Seung Eung dipecat oleh Penulis Lee karena Seung Eung membocorkan sakit dan penderitaan yang dialami oleh majikannya itu kepada Presiden Seo. Padahal sebelumnya Penulis Lee menyuruh Seung Eung merahasiakan semua kesakitan itu. Namun demi menghentikan clash antara Penulis Lee dan Presiden Seo, Seung Eung membocorkan semua rahasia yang selama ini ditutupi oleh majikannya demi melindungi Presiden Seo. Walau dengan begitu clash dan kesalahpahaman di antara Penulis Lee dan Presiden Seo cukup mereda, munculah permasalahan baru. Penulis Lee merasa sangat marah pada Seung Eung yang ternyata tak bisa lagi dipercayai dan kemudian memecatnya. Seung Eung merasa sangat sedih dan hancur. Namun tak lama setelah itu dia kembali bangkit dan mencoba memberanikan diri untuk meminta maaf kepada Penulis Lee. Pada mulanya permintaan maaf Seung Eung ditolak. Penulis Lee mengatakan bahwa meminta maaf tidak akan dapat mengubah kenyataan. Lalu Seung Eung menanggapinya dengan berkata, “maaf memang tidak bisa mengubah apa yang sudah terjadi, namun maaf dapat mengubah pikiran dan hati”. (Wonderful, aku paling suka kalimat itu!) Mendengar perkataan tulus dan melihat kesungguhan hati dari Seung Eung, Penulis Lee pun memaafkannya.
Setelah cukup lama berguru pada sang penulis, akhirnya Seung Eung “lulus”. Setelah menjadi mandiri dan tumbuh dewasa, ia pun mengikuti jejak gurunya menjadi penulis juga.
Well, itulah sedikit banyak hal yang ingin aku share kepada teman-teman semua. Silakan dicerna sendiri dan diambil manfaatnya. Semoga tulisan ini berguna untuk menjadikan diri kita lebih baik dan lebih hebat dari sebelumnya, amin. J
Juli 2011
Meyna Fathimah
meidwinna.blogspot.com
Thursday, June 23, 2011
PESONA DRAMA ASIA VERSUS FILM NEGERIKU
Beberapa bulan terakhir aku teracuni pesona drama Asia alias dorama (sebutan untuk drama Jepang) oleh teman-temanku. Jenis film yang dulu aku benci dan aku hindari, namun kini menjadi film favorit. Film yang pernah aku anggap “sampah” dan cengeng, ternyata jauh dari bayanganku dan kini menjadi film yang layak aku acungkan kedua jempol (kecuali film yang bergenre romansa.. >_< bukan tipeku!!)
Terlepas dari adegan yang terkadang tidak seronok dan bertentangan dengan ajaran Islam, banyak sekali kutemukan nilai-nilai positif di dalamnya. Banyak sekali kata-kata hikmah maupun perilaku positif yang patut ditiru, jauh berbeda dengan sinetron Indonesia yang isinya hanya air mata, kesengsaraan, hingga roman picisan yang tak berisi layaknya tong kosong. Di sini aku ingin sedikit berbagi, bagaimana dorama mampu merebut hatiku dan pantas kita acungi jempol, berikut beberapa pandanganku :
- Ceritanya sederhana namun berbobot
Inti cerita dari suatu dorama biasanya hanya satu dengan satu permasalahan utama, sehingga makna ceritanya dapat ditangkap dengan baik. Jauh berbeda dengan cerita bertele-tele ala sinetron Indonesia yang hanya sekedar cari rating. Jika sinetron Indonesia berjumlah puluhan hingga ratusan episode, dorama umumnya hanya sepuluh hingga belasan episode saja.
- Ketegaran sang tokoh
Dalam cerita dorama, tak sedikit tokoh yang dirundung permasalahan berat seperti layaknya cerita sinetron. Namun perbedaannya, sang sutradara mampu menghadirkan tokoh (baik utama maupun pembantu) yang tetap tegar walau dianiayai, memiliki ketegaran hati dan tetap tersenyum menghadapi masalah seberat apapun, serta memiliki kemauan yang kuat (struggle) dalam mencapai impian walau harus terjatuh berkali-kali. Tokoh-tokoh dalam cerita dorama umumnya jauh dari tokoh cengeng yang pamer air mata.
- Banyak sekali kata-kata indah dan keteladanan yang mengandung nasehat
Aku menyukai kata-kata indah, kata-kata mutiara sebagai penyemangat diri. Dan kata-kata itu banyak sekali aku temukan di dalam dorama. Percakapan-percakapan nasehat banyak sekali dilontarkan antara orang tua dengan anak, guru dengan murid, antar teman, antara tokoh baik dan tokoh jahat, dan lain-lain.
Kata-kata penuh hikmah, semangat, dan cinta begitu lugas dilontarkan, begitu dalam dan tulus, sehingga dalam cerita tersebut tak sedikit mereka yang dinasehati tergerak hatinya untuk menjadi orang yang baik. Bahkan tokoh sejahat apapun digambarkan masih punya hati nurani sehingga mungkin untuk luluh oleh nasehat maupun oleh kebaikan seseorang.
Dalam tulisan ini aku sama sekali tidak bermaksud menjelek-jelekkan film lokal Indonesia dan mengagung-agungkan produk tetangga. Aku hanya ingin berbagi dan mengajak kita semua membuka mata, melihat contoh positif dari negeri tetangga untuk kemudian diambil sebagai panutan yang baik. Siapa sih yang tidak bangga jika film Indonesia kelak berkualitas?
Seharusnya kita malu, Indonesia yang notabene memiliki penduduk Muslim terbesar di dunia, masa iya miskin dengan film-film yang bernilai positif dan hikmah? Nilai-nilai positif tidak harus melulu ditunjukkan dengan ayat-ayat Al-Qur’an dan ceramah. Keindahan Islam dapat ditunjukkan pula dengan kemuliaan akhlaq, kelembutan lisan, ketegaran hati, kemauan yang keras, dan lain-lain. Islam itu menyeluruh dan mencakup semua aspek.
Penyampaian dakwah Islamiyah melalui film bisa menjadi alternatif yang menarik dan mudah diterima oleh masyarakat. Penanaman nilai-nilai Islam dalam setiap adegan dan keteladanan tokoh-tokohnya, jika dilakukan terus-menerus dan berkelanjutan dipastikan akan mempengaruhi pola berpikir dan pola perilaku masyarakat. Memang tidak mudah, perlu waktu cukup lama dan konsistensi untuk berdakwah melalui dunia perfilman. Namun memang inilah jalan yang harus ditempuh, panjang dan berliku, butuh keistiqomahan, dan tak semudah membalikkan telapak tangan.
Ah, aku bermimpi kelak suatu saat nanti aku menjadi penulis naskah drama yang merebut hati jutaan pemirsa Indonesia dan mampu menyiramkan nilai-nilai keislaman agar tertanam kokoh dalam akhlaq manusia Indonesia. Demi mewujudkan masyarakat Indonesia yang beradab, berbudi luhur, berdisiplin tinggi, peka sosial, dan berkarakter. Semoga.. Aamiin..
Assalamu'alaykum warahmatullahi wabarakatuh...
(Puji syukur kehadirat Allah yang masih memberikan nikmat iman dan Islam pada diri ini..)
Selamat datang di blogku yang mungkin hanya berisi secuil pemikiran dan ungkapan isi hati...
Sungguh, kebenaran datangnya hanya dari Allah. Adapun kesalahan datangnya murni dari diri ini. Untuk itu mohon masukan, kritik, dan sarannya serta mohon dimaafkan atas segala kesalahan. Terima kasih. Selamat menikmati. Semoga bermanfaat dan membawa berkah. Amin
(Mulakanlah dengan membaca Basmalah.... dan akhirilah dengan Hamdalah..)