Showing posts with label Lingkar Pena. Show all posts
Showing posts with label Lingkar Pena. Show all posts

Wednesday, November 27, 2013

Udah lama banget aku menduakan blogku demi kesenangan baru yang berdalihkan kesibukan. Sejak bulan September tanggal 27 lalu, kehidupan baruku di kota Toyohashi, Jepang telah dimulai. Namanya juga orang pindahan, sibuk belanja ini itu. Sibuk me-layout kamar baru dengan perabotan-perabotan dan "hiasan" di sana sini. Maklum, ini pertama kalinya aku hidup sendiri. Pertama kalinya aku mengurusi apa-apanya sendiri. Jadi wajar saja, kalau out of control.

Well, udah dua bulan lamanya sejak aku meninggalkan tanah air. Nggak kerasa ya? Tapi kenapa juga masih belum nulis blog? Sibuk? Ah, itu hanya alasan yang dibuat-buat aja kan, Mei? Jujur aja, semua lebih dikarenakan males kan?

Huff, bener. :( Kesenangan dan kehidupan "foya-foya"-ku telah merenggut passion menulis. Halloo... kemana idealismemu selama ini? Kamu bilang, menulis itu adalah energi. Kamu bilang berbagi cerita kepada orang lain lewat tulisan adalah cinta dan hikmah. Apa kamu rela melewatkan cerita-cerita serumu di Jepang tanpa mengabadikannya lewat tulisan dan berbagi kepada dunia? Dan... tidakkah kamu ingat pernah berjanji pada diri sendiri untuk terus menulis blog selama di Negeri Sakura agar bisa menceritakan kisahmu kepada keluarga di tanah air? Apa semua itu hanya omong kosong?

Yosh!
Bismillah, ayo nulis!


Toyohashi, 27 November 2013
Meidwinna Saptoadi

Sunday, July 14, 2013

"Katakan Cinta" Edisi Juli with FLP Jogja

Iman bagi ibadah ibarat lidah bagi makanan. #KCJuliFLPJogja

Faktor ruhiyah mempengaruhi produktivitas kita. #KCJuliFLPJogja

Modal utama seorang penulis adalah KEPEKAAN dalam menanggapi setiap peristiwa dengan aksi positif. #KCJuliFLPJogja

Ubahlah kekecewaan menjadi energi positif. #KCJuliFLPJogja

Ada empat tipe orang yang menanggapi peristiwa.
Tipe pertama: tipe orang yang suka mengutuki keadaan.
Tipe kedua: tipe orang yang selalu berpikir dari sisi positif.
Tipe ketiga: tipe orang yang membiarkan semuanya mengalir begitu saja, alias "penikmat takdir".
Tipe keempat: tipe orang yang suka mengeluh, curhat ini itu, curhat sana sini....
So, tipe yang manakah kita?
#KCJuliFLPJogja

Apabila kamu ditimpa sesuatu, katakanlah: "Entah ini berkah atau musibah, tugas saya hanya berprasangka baik pada Allah..." #KCJuliFLPJogja

Ketika Rasulullah saw didzolimi, yang keluar dari mulut beliau adalah DOA... sedangkan yang seringkali keluar dari mulut kita tak lain hanyalah umpatan... #KCJuliFLPJogja

Tulisan yang islami adalah tulisan yang memuat nilai-nilai kebaikan dan mampu memunculkan energi positif bagi sekitar. #KCJuliFLPJogja



Jogja, 14 Juli 2013
"Katakan Cinta" Edisi Juli with FLP Jogja
@Foodcourt UNY

Thursday, February 21, 2013

Aku Editor?




 “Assalamu’alaikum Mei, ada uang untuk editing naskah novel saya kemarin. Meski tidak besar, mohon jangan ditolak.”

What is this?! Sebuah pesan singkat yang kuterima dari Gerry N, senior di FLP Jogja cukup membuat kaget dan speechless. Baru kali ini ada yang memberikan “honor” atas usahaku mengedit atau mungkin lebih tepatnya me-review karya. Apalagi, nggak pernah sekalipun aku mengomersialkan jasa sebagai editor atau reviewer.

Oh ya, sebelumnya perkenalkan, aku adalah anggota Forum Lingkar Pena Jogja. Forumnya para penulis, sebut saja begitu. Selama ini aku menjalani aktivitas edit mengedit hanya sebagai sampingan, di sela-sela mengasah kemampuan menulisku. Ya, anggap saja sebagai hobi, hobi mengkritik karya. Pun yang meminta bantuan pengeditan nggak lain hanyalah teman-temanku sendiri. Beberapa kali mereka meminta tolong untuk sekedar memberi masukan terhadap karya seperti cerpen, artikel, dan lain-lain.

Namun pengalamanku mengedit calon buku yang sesungguhnya bermula saat Kun Geia yang juga senior di FLP Jogja, mempercayakan draf novelnya untuk aku review. Saat itu bulan April 2012. Aku menyanggupi saja, toh membantu teman kan nggak ada salahnya, pikirku. Dan, meskipun kurang sempurna, aku pun berhasil menyelesaikan “misi” yang diberikan hingga akhirnya terbitlah sebuah novel berjudul “The Lost Java” karya Kun Geia.

Ini nih bukunya, ayo lengkapi koleksimu dengan membeli novel ini!

Nggak lama setelah sukses membantu Kun Geia dalam proses penerbitan novel pertamanya, ada sebuah kejadian “lucu”. Aku dikontak oleh seorang pengurus FLP Jogja untuk memberikan materi dalam forum rutin anggota baru. Apa materinya? Tentu saja tentang proses editing. Duh, yang bener aja? Seumur-umur baru kali ini yang namanya ngedit beneran, kok bisa-bisanya disuruh jadi pemateri. Lagian, aku kan nggak pernah woro-woro kalau pernah jadi editor. Wah kayaknya ada konspirasi nih! Ups….

Tapi dengan berlagak PeDe-nya kusanggupi permintaan itu. Bermodalkan sok tahu dan sedikit referensi, jadilah aku menyampaikan materi yang diminta. Alhamdulillah nggak ada kendala berarti saat hari-H. Semoga aja deh materi yang kusampaikan nggak menyesatkan! Xixixiii…

Proyek kedua. Sebuah komunitas “ikhwan - akhwat” yang menamakan dirinya Pejuang07, berencana untuk membuat buku tentang memoar dakwah kampus. Bulan Juli 2012. Secara tiba-tiba, aku ditarik untuk meramaikan tim editor. Karena memang agak senggang, kuiyakan saja permintaan itu. Itung-itung sebagai penyaluran hobi.

Proses penyeleksian dan editing karya dari para penulis Pejuang07 cukup menguras pikiran. Nggak cuma pikiran sih, tapi juga perasaan. Namun apapun alasannya, amanah ini harus kujalani dengan sebaik-baiknya. Totalitas, men! Akhirnya, meski harus berdarah-darah (maaf, agak lebay), alhamdulillah, proses editing selesai dalam waktu total kurang lebih lima bulan. Calon buku pun siap naik cetak. Lalu apakah sekarang buku itu udah terbit? Hm, maaf, sayangnya belum. Masih ada proses pasca editing yang harus dilalui. Doakan saja bisa segera terbit agar bisa menambah koleksi bacaan bermutu Anda! :-)

Beberapa bulan kemudian, tepatnya bulan Oktober 2012, aku kembali menerima request dari senior di FLP Jogja, KaGe. Sebenarnya saat itu aku masih terlibat dalam proyek keduaku. Namun karena kurasa dengan menerima tawaran KaGe tak akan mengganggu amanah di proyek sebelumnya, I accepted his order. Lagian rugi deh kalau aku menolak tawarannya. You know why? Draf kali ini berjudul “Satu Pena Berjuta Karya, 7 Formula Menulis Hebat yang Akan Punah”. Udah ketebak kan bukunya tentang apa? Ya, sebuah buku saku tentang bagaimana menjadi penulis yang hebat. Lumayan kan, sambil menyelam minum air. Sambil mengedit, dapet ilmu gratis! Peace, KaGe! XD

Lalu beberapa pekan sebelum tulisan ini dibuat, sekali lagi, ada permintaan editing dari Gerry N (lagi-lagi senior di FLP Jogja). Kali ini sebuah draf novel berjudul “Hitam Putih Penantian”. Naskah setebal kurang lebih 379 halaman itu berhasil kuselesaikan dalam waktu bersih sekitar empat hari. Nah dari novel inilah pertama kalinya aku dapat “honor” mengedit, seperti yang kuceritakan di awal tadi. Sekarang naskahnya udah naik cetak. Kita tunggu saja!

---

Mungkin ada orang yang berpikir, apa sih enaknya jadi editor yang kerjaannya cuma di balik layar? Mereka yang mengejar ketenaran mungkin akan berpikir begitu. Tapi kalau aku boleh bilang, ada cukup banyak keuntungan yang kurasakan selama menjadi editor amatir. Mau tahu?

1.    Mendapatkan inspirasi atau ide-ide baru dari karya orang lain. Tapi bukan berarti penjiplakan lho….

2.    Mengedit karya orang bisa membangkitkan semangat menulis dan semangat bersaing “nggak mau kalah”! Yah, sebagai motivasi lah….

3.      Belajar dari kesalahan penulis lain. 

4.     Privilege untuk membaca karya orang lain sebelum diterbitkan, gratis lagi! Lumayan kan?

5.  Sebagai tambahan. Seorang editor profesional, misalnya yang bekerja di penerbitan, punya kewenangan untuk menerima atau menolak karya. Keren kan?

Wah memang menyenangkan deh jadi editor. Nggak sia-sia aku menyukai pelajaran Bahasa Indonesia saat masih sekolah dulu. Ternyata apa yang kupelajari ada gunanya juga. Tapi, jadi editor harus cukup kuat lho, kuat di bawah tekanan. Terutama dalam menghadapi konflik-konflik batin yang muncul. Konflik batin? Ah hanya editor yang tahu. :-P

Ngomong-ngomong nih, mana karyaku? Kok kerjaannya ngedit mulu? Nah itu dia masalahnya. Sebenernya malu juga, bagaimana mungkin aku yang belum pernah sekalipun menelurkan karya ini berhak memberikan kritikan atas karya-karya orang lain? :-( Minta doanya aja deh ya, semoga segera ada karya atas nama Meina Fathimah, aamiin....

Well, aku tidak berpikir menjadi editor profesional, meskipun sepertinya cukup keren dan menyenangkan. Tapi sayangnya ada keterbatasan secara fisik yang menyebabkan aku harus menghindari pekerjaan itu. Warning yang bisa jadi cukup fatal jika kulanggar. Memang, apa yang kita sukai belum tentu baik untuk kita. Nggak masalah sih, toh aku menikmati jadi freelance editor kok. Just enjoy our life and let it flow!



Yogyakarta, 20 Februari 2013
Meina Fathimah

Monday, September 19, 2011

Mandek Menulis? No Way!


Beberapa waktu ini aku sempat mandek menulis. Nggak usah ditanyalah apa alasannya, karena alasannya nggak jauh-jauh dari alasan klasik : nggak mood, males, nggak ada ide. Mandek menulis itu rasanya sungguh nggak enak dan mengganjal. Rasa bersalah dan menyesal pada diri sendiri pun timbul dalam diri. Rasa bersalah ini pun kadang berefek buruk dengan menjadikan mood-ku drop, tidak stabil. Menyiksa sekali bukan? Hm..tapi sebenarnya kalau boleh jujur, penyebab ketidakproduktivanku menulis belakangan ini dipicu oleh suatu hal, ya, laptop kesayangan yang selalu menemani keseharianku ternyata sudah wafat. Alhasil, ketiadaannya membuatku sangat malas menulis.


Ini kebiasaan burukku : malas menulis dengan handwriting. Maka dengan alasan laptop rusak alias tidak ada fasilitas seolah memberikan pembenaran atas aksi mogok menulisku. Sungguh bodoh ya?


Aku vacuum hingga beberapa minggu lamanya, hingga suatu sore secara tidak sengaja aku bertemu dengan seorang temanku. Lama tidak bertemu dengannya membuatku mampu bercerita panjang lebar ini itu, sampai akhirnya aku curhat padanya yang notabene juga seorang penulis, tentang aksi bodohku selama beberapa minggu ini. Dengan menceritakan masalah ini padanya, aku berharap mendapatkan advice yang berharga demi menggugah kembali semangat menulisku.


Perbincangan kami selama beberapa menit itu memang tidak dibumbui dengan ceramah yang terkadang aku harapkan. Namun dari pertemuan singkat antara aku dengannya, kundapatkan beberapa nasehat yang berharga sebagai berikut :


1. Bertemu dengan sesama penulis (orang yang suka menulis) dapat menjadi pemantik semangat kita untuk menulis. Saling berdiskusi, bertukar pikiran, atau bahkan hanya sekedar bertatap muka saja dapat menumbuhkan semangat yang luar biasa. Percayakah? Coba saja.. J


2. Ketiadaan fasilitas bukanlah penghalang bagi kita untuk menulis. Masa iya tanpa laptop aku akan terus vacuum menulis? Tentu saja tidak kan? Ada begitu banyak hal yang terlalu sayang untuk luput kita tuangkan dalam tulisan. Ada begitu banyak hal yang akan membuat kita menyesal jika tidak kita tuliskan.. Benar kan?


3. Siapa bilang menulis itu harus panjang-panjang? Tidak ada kok yang mengatakan bahwa sekalinya kita menulis itu minimal sekian atau sekian. Jadi walau sesedikit apapun cerita yang mampu kita tuliskan, maka tuliskan saja. Daripada tidak menulis sama sekali? Lagipula tulisan yang sedikit belum tentu tidak berkualitas kan? Menulis sedikit tapi rutin jauh lebih baik daripada menulis jarang-jarang tapi langsung banyak, karena dengan merutinkan menulis akan mengasah kepekaan kita secara rutin juga.. So, bagi teman-teman yang punya blog silakan di-update blognya walau hanya tulisan-tulisan singkat.. Okay?


Well, ini sedikit pengalaman berharga yang ingin aku bagikan kepada teman-teman semuanya. Aku yakin, tidak sedikit diantara teman-teman yang pernah mengalami ”penyakit” serupa denganku. Semoga pengalaman yang aku share ini bermanfaat bagi kita semua dan mampu memompa semangat kita untuk terus menulis. Amin..


Teruslah berkarya!!


15 September 2011

Meyna Fathimah

www.meidwinna.blogspot.com

Assalamu'alaykum warahmatullahi wabarakatuh...

(Puji syukur kehadirat Allah yang masih memberikan nikmat iman dan Islam pada diri ini..)

Selamat datang di blogku yang mungkin hanya berisi secuil pemikiran dan ungkapan isi hati...

Sungguh, kebenaran datangnya hanya dari Allah. Adapun kesalahan datangnya murni dari diri ini. Untuk itu mohon masukan, kritik, dan sarannya serta mohon dimaafkan atas segala kesalahan. Terima kasih. Selamat menikmati. Semoga bermanfaat dan membawa berkah. Amin

(Mulakanlah dengan membaca Basmalah.... dan akhirilah dengan Hamdalah..)