Monday, September 19, 2011

Syair Abu Nawas


Ilahi lastu lilfirdausi ahla,

Walaa aqwa ‘ala naaril jahiimi

Fahabli taubatan waghfir dzunubi,

Fainaka ghafirudz dzanbil azhimi…


Dzunubi mitslu a’daadir rimali,

Fahabli taubatan ya Dzal Jalaali,

Wa ’umri naqishu fi kulli yaumi,

Wa dzanbi zaaidun kaifa –htimali


Ilahi ‘abdukal ‘aashi ataak,

Muqirran bi dzunubi wa qad da’aaka

Fain taghfir fa anta lidzaka ahlun,

Wain tadrud faman narju siwaaka


Wahai Tuhanku.. aku sebetulnya tak layak masuk surgaMU,

Tapi… aku juga tak sanggup menahan amuk nerakaMu,

Karena itu mohon terima taubatku ampunkan dosaku,

Sesungguhnya Engkaulah Maha Pengampun dosa-dosa besar

Dosa-dosaku bagaikan bilangan butir pasir

Maka berilah ampunkan oh Tuhanku yang Maha Agung


Setiap hari umurku terus berkurang

Sedangkan dosaku terus menggunung,

Bagaimana aku menanggungkannya


Wahai Tuhan, hamba-Mu yang pendosa ini datang bersimpuh ke hadapanMU

Mengakui segala dosaku

Mengadu dan memohon kepadaMu


Kalau Engkau ampuni itu karena

Engkau sajalah yang bisa mengampuni

tapi kalau Engkau tolak, kepada siapa lagi kami mohon ampun selain kepadaMu?

(dikutip dari novel Negeri 5 Menara – A. Fuadi)


---

Siapa sih yang belum pernah mendengar syair di atas? Syair dari seorang Abu Nawas yang sudah cukup terkenal dan akrab di telinga kita. Bagiku syair itu sangat mengena di hati. Setiap kali mendendangkan syair itu, hati ini terenyuh, takut, resah..


Wahai Tuhanku.. aku sebetulnya tak layak masuk surgaMU.. Tapi… aku juga tak sanggup menahan amuk nerakaMu.. Kalimat ini menyadarkan betapa inginnya kita masuk surga. Namun kita sesungguhnya sadar bahwa dengan segala track record amal di dunia belumlah cukup untuk membawa kita memasuki surgaNya. Bahkan bisa jadi amalan-amalan kita justru menjadikan kita lebih layak untuk masuk neraka (na’udzubillah min dzalik). Walau bagaimanapun kita tidak kuasa dan tidak mau menjadi penghuni neraka..


Karena itu mohon terima taubatku ampunkan dosaku.. Sesungguhnya Engkaulah Maha Pengampun dosa-dosa besar.. Dosa-dosaku bagaikan bilangan butir pasir.. Maka berilah ampunkan oh Tuhanku yang Maha Agung.. Menyadari betapa banyaknya dosa yang telah kita lakukan, hanya taubat dan permohonan ampun dari Allah lah yang bisa menyelamatkan kita dari amuk neraka. Karena hanya dengan kemurahan Allah lah kita dapat selamat. Hanya Allah lah yang dapat mengampuni semua dosa-dosa yang sudah tak mampu terhitung lagi banyaknya, bagaikan jutaan bilangan butiran pasir.


Setiap hari umurku terus berkurang.. Sedangkan dosaku terus menggunung.. Bagaimana aku menanggungkannya.. Kita begitu takut dengan umur kita yang terus berkurang, sementara dosa tak henti-hentinya kita perbuat. Lalu bagaimanakah kita dapat menebusnya? Akankah dosa-dosa itu terus bertambah dan menghantui kita hingga akhir usia? Masya Allah.. Na’udzubillah min dzalik..


Wahai Tuhan, hamba-Mu yang pendosa ini datang bersimpuh ke hadapanMU.. Mengakui segala dosaku.. Mengadu dan memohon kepadaMu.. Menyadari bahwa hanya Allah lah yang bisa membantu kita, maka diri ini bersimpuh di hadapanNya memohon pengampunan dariNya. Berpasrah di hadapanNya, menangis, mengakui segala dosa yang telah kita perbuat. Mengadukan segala kegundahan ini dan memohon belas kasihan dariNya.. Hanya Allah lah yang mampu menyelamatkan kita..


Kalau Engkau ampuni itu karena.. Engkau sajalah yang bisa mengampuni.. tapi kalau Engkau tolak, kepada siapa lagi kami mohon ampun selain kepadaMu? Kita memohonkan ampun atas dosa-dosa ini hanya kepada Allah. Karena tidak ada dan tidak mungkin ada dzat lain yang mampu menyelamatkan kita dari dosa-dosa ini. Maka dengan penuh kesungguhan dan harap, kita mohonkan Allah menerima taubat kita dan mengampuni dosa-dosa ini. Namun jika Allah enggan mengampuni kita, kepada siapa lagi kita akan mengadu? Kepada siapa lagi kita akan mohon pengampunan? Tidak ada.


Semoga Allah masih memberikan kemurahanNya dan senantiasa memberikan pengampunan atas segala dosa dan kelalaian kita. Semoga dengan sisa umur yang diberikanNya kita dapat menebus dosa-dosa yang pernah kita perbuat. Aamiin..



Juli 2011

Dua hari menuju bulan penuh berkah..

Meyna Fathimah

“Coffee House”


Senin 18 Juli 2011, aku menghabiskan waktu liburan dengan duduk di depan laptop, menonton film. Setelah menjelajah dan menelusuri daftar koleksi film yang aku punya, mataku tertumbu pada salah satu koleksi film lamaku. Aku tertarik untuk menonton kembali “Coffee House”, satu dari sedikit koleksi filmku yang bergenre Korean drama.


Film tersebut diberi judul “Coffee House” karena ceritanya tak lepas dari kehidupan di rumah kopi : cinta, persahabatan, pekerjaan, dan lain-lain. Drama ini sesungguhnya menekankan pada sisi romansa, namun pada tulisan ini aku sama sekali tak bermaksud mengangkat kisah percintaan para tokohnya. Tulisan ini bukan bertujuan untuk menceritakan kembali film tersebut, sebaliknya justru akan menitikberatkan pada karakter tokoh. Karena hal yang paling menarik bagiku dari film ini adalah karakter para tokoh utama : Seo Eun Yeong, Lee Ji Won, dan Kang Seung Eung. Well, check this out gan!


- Seo Eun Yeong (Presiden Seo/ Eun Yeong)

Eun Yeong digambarkan sebagai seorang wanita karir yang sempurna : cantik, kaya, sukses, mandiri, berjiwa pemimpin. Ia menjadi presiden di sebuah publishing company sekaligus pemilik sebuah rumah kopi. Namun sayangnya, dengan kesempurnaan yang Eun Yeong miliki, ia belum mendapatkan pendamping hidup alias menikah. Konon, tidak ada lelaki yang berani melamar Eun Yeong mengingat betapa sempurnanya ia. Banyak lelaki yang berharap menjadi suami Eun Yeong namun tak ada satupun yang berani dan percaya diri menawarkan diri.

Pesona seorang Eun Yeong terletak pada ketangguhannya, yang tak pernah menangis walau dihimpit beragam permasalahan berat, yang selalu mampu bangkit kembali dengan segera dari keterpurukan. Ia juga bukan tipe orang yang suka meminta belas kasihan orang lain. Semua permasalahan selalu ia hadapi sendiri, baik itu masalah pekerjaan, masalah hati, dan lain-lain. Saat dia terpaksa harus menangis, maka dia tidak akan menangis di depan orang lain, terutama di depan anak buahnya. Karakter Eun Yeong yang tegar, tangguh, serta selalu menjunjung tinggi harga diri alias gengsinya sangat aku sukai. Karakter itulah yang menginspirasiku untuk menjadi wanita yang tegar dan kuat.


- Lee Ji Won (Penulis Lee/ Ji Won)

Ji Won adalah sahabat karib Eun Yeong sejak sepuluh tahun yang lalu, ketika mereka masih sama-sama kuliah. Namun di sisi lain, Ji Won alias Penulis Lee menjadi “musuh” Presiden Seo. Penulis Lee adalah penulis buku-buku misteri yang berada di bawah publishing company milik Presiden Seo. Sifat sang penulis yang menyebalkan, suka membangkang dan tidak bisa diatur selalu membuat Presiden Seo berang dan kesal.

Ji Won diceritakan sebagai orang yang unggul pada kesan pertama, namun bagi orang yang sudah mengenal dia dengan baik, dipastikan akan gregetan dibuatnya. Bahkan hidup berdampingan dengan Ji Won tak jauh dari air mata. Istri Ji Won telah menceraikannya, Presiden Seo pun tak jarang dibuatnya menangis, lalu sekretaris pribadi Ji Won pun tak kalah teraniaya oleh sikapnya yang egois dan menyebalkan. Ji Won adalah seorang yang egois, pembohong, jalan pikiran dan kemauannya susah ditebak dan dipahami, tidak bisa diatur, dan lain-lain.

Walau menyebalkan dan tak tahu diri, ada sisi baik pada diri Ji Won. Ji Won terkadang rela dicap buruk demi menutupi penderitaan maupun perasaannya sendiri. Pada orang yang ia sayangi, seperti Eun Yeong, ia selalu menutupi penderitaannya agar Eun Yeong tidak menjadi sedih dan ikut menderita. Pernah suatu ketika Ji Won sakit. Namun demi menutupi kenyataan kalau ia sedang sakit, Ji Won bersikap menghindar dari Eun Yeong dan bahkan mengusir Eun Yeong yang hendak berkunjung. Pernah juga Ji Won kabur dari company tanpa mengucap sepatah kata apapun sehingga membuat Presiden Seo kalang kabut dan berang. Namun sesungguhnya dia kabur untuk mencari tempat dan suasana yang lain untuk menyelesaikan draft tulisan yang akan diserahkan kepada company.


- Kang Seung Eung (Penulis Kang/ Seung Eung)

Seung Eung adalah seorang gadis yang baru saja lulus kuliah namun belum juga mendapatkan pekerjaan hingga di usianya yang ke-25 tahun. Namun secara misterius dia direkrut menjadi sekretaris pribadi seorang penulis terkenal, Lee Ji Won. Seung Eung adalah gadis yang jujur, polos, dan baik hati. Mungkin karena keluguannya itulah, Penulis Lee tak segan-segan “menganiaya”nya dengan menyuruhnya melakukan hal-hal yang aneh dan tidak jelas. Meski begitu Seung Eung tetap melakukan apapun yang diminta oleh majikannya.

Hari-hari Seung Eung tak lepas dari kemarahan dan sikap menyebalkan dari majikannya, sehingga air mata cukup akrab dengannya. Namun sama seperti Eun Yeong yang selalu bangkit segera setelah terpuruk, senyum dan semangat selalu menggantikan air matanya. Bahkan lama-kelamaan, kemarahan Penulis Lee tak lagi ia hadapi dengan air mata namun senyum tulus dan besar hati.

Kebaikan Seung Eung yang patut ditiru juga adalah ia jauh lebih mementingkan orang daripada dirinya sendiri. Salah satu klimaks dalam cerita ini adalah ketika Seung Eung dipecat oleh Penulis Lee karena Seung Eung membocorkan sakit dan penderitaan yang dialami oleh majikannya itu kepada Presiden Seo. Padahal sebelumnya Penulis Lee menyuruh Seung Eung merahasiakan semua kesakitan itu. Namun demi menghentikan clash antara Penulis Lee dan Presiden Seo, Seung Eung membocorkan semua rahasia yang selama ini ditutupi oleh majikannya demi melindungi Presiden Seo. Walau dengan begitu clash dan kesalahpahaman di antara Penulis Lee dan Presiden Seo cukup mereda, munculah permasalahan baru. Penulis Lee merasa sangat marah pada Seung Eung yang ternyata tak bisa lagi dipercayai dan kemudian memecatnya. Seung Eung merasa sangat sedih dan hancur. Namun tak lama setelah itu dia kembali bangkit dan mencoba memberanikan diri untuk meminta maaf kepada Penulis Lee. Pada mulanya permintaan maaf Seung Eung ditolak. Penulis Lee mengatakan bahwa meminta maaf tidak akan dapat mengubah kenyataan. Lalu Seung Eung menanggapinya dengan berkata, “maaf memang tidak bisa mengubah apa yang sudah terjadi, namun maaf dapat mengubah pikiran dan hati”. (Wonderful, aku paling suka kalimat itu!) Mendengar perkataan tulus dan melihat kesungguhan hati dari Seung Eung, Penulis Lee pun memaafkannya.

Setelah cukup lama berguru pada sang penulis, akhirnya Seung Eung “lulus”. Setelah menjadi mandiri dan tumbuh dewasa, ia pun mengikuti jejak gurunya menjadi penulis juga.


Well, itulah sedikit banyak hal yang ingin aku share kepada teman-teman semua. Silakan dicerna sendiri dan diambil manfaatnya. Semoga tulisan ini berguna untuk menjadikan diri kita lebih baik dan lebih hebat dari sebelumnya, amin. J

Juli 2011

Meyna Fathimah

meidwinna.blogspot.com

Surat Cinta untuk Sahabat


Teruntuk sahabat,

Kau yang di sana, apa kabar? Masihkah kau marah padaku?

Kau yang di sana, kenapa diam saja? Mana senyum yang selalu kau perlihatkan padaku?

Kau yang di sana, aku merindukanmu…

Sahabat, sampai kapan kau tidak mau menemuiku?

Sampai kapankah aku engkai abaikan?

Separah itukah kesalahanku padamu?


Sahabat, maafkan aku..

Maaf, aku tak bisa penuhi pintamu tuk ceritakan rahasiaku..

Bukannya aku tak percaya padamu, sungguh..

Tapi maaf, ini adalah rahasia antara aku dan Allah..

Ini rahasia yang tak bisa aku ceritakan pada siapapun..

Rahasia ini telah kusegel dan kukubur dalam kelam masa laluku..

Rahasia yang tak ingin lagi aku ungkit, sampai kapanpun..


Sahabat, sungguh aku menyesal telah buatmu murka..

Maaf jika hatimu luka atas apa yang kuperbuat..

Namun tak sedikit pun aku menyesal abaikan pintamu..

Tolong maafkan kelancanganku..

Tolong mengertilah aku..


Kau yang di sana, kenapa masih saja bisu?

Kumohon, jangan kau siksa aku dengan diammu..

Jangan kau hancurkan aku dengan sinismu..

Tolong, kembalilah sahabat..

Kembalilah seperti kau yang dulu..

Kau dengan senyum terindah yang aku tahu..


Tuhan, tolong sampaikan surat cintaku ini padanya..

Tolong sampaikan betapa aku rindukannya..

Bahwa aku akan terus menunggunya..

Menunggunya kembali tersenyum padaku..


15 Juli 2011

Meyna Fathimah

meidwinna.blogspot.com

-maafkan aku sahabat-

Satu Mimpi, Da’wahku Teaterku


Jum’at, 9 Juli 2011 di Balairung UGM sayap utara kali pertamanya aku dipertemukan dengan forum teater pena, sebuah forum teater kepunyaan Forum Lingkar Pena (FLP). Alhamdulillah.. one step accomplished!

Bermain peran alias akting sejak dahulu selalu mendapatkan tempat di hatiku. Entah karena alasan apa awalnya, sejak kecil aku selalu antusias akan hal itu. That’s my passion since I was a child! Namun agaknya peluang bagiku menyalurkan keinginan dan kesukaan itu sangatlah kecil.. rasa-rasanya tak akan ada kesempatan untukku mewujudkan mimpi itu. Mungkin orang akan bertanya, apa alasanku mengatakan “tidak mungkin”? Baiklah, akan kujelaskan.

Dunia teater, bagaikan dunia hitam bagiku. Kelam dan sangat menakutkan. Klub-klub teater yang kutahu, tak jauh dari unsur mistis, mengedepankan kebebasan (yang menurutku tak bertanggung jawab dan tak beralasan), serta akrab dengan perilaku amoral. Bukan bermaksud menyinggung pihak manapun, namun memang itulah adanya dan kenyataannya. Dan ketakutanku rupanya jauh lebih besar dibandingkan dengan passionku, alhasil selama bertahun-tahun keinginan itu hanyalah menjadi keinginan yang terpendam entah sampai kapan. Untungnya keinginanku untuk bermain peran masih bisa sedikit tersalurkan pada pelajaran di sekolah, yaitu ketika ada tugas untuk bermain drama.

Sedikit bercerita, ketika masih menjadi murid taman kanak-kanak, aku pernah dipilih oleh guruku untuk bermain dalam sebuah drama musikal bersama anak-anak yang lebih besar. Kami tampil untuk sebuah festival yang diselenggarakan oleh SD yang satu yayasan dengan TK-ku. Ibu mengatakan padaku bahwa guruku “merengek” agar ibu mengizinkan aku untuk bermain dalam festival itu karena aku sangat berbakat.. (benarkah?)

Menginjak bangku sekolah dasar, kesempatanku bemain drama bisa dibilang semakin jarang. Begitu lekat dalam ingatan, ketika aku sangat dikecewakan oleh guruku. Saat itu pelajaran sejarah kerajaan-kerajaan Indonesia. Guruku menyuruh murid-murid untuk mempraktikkan teks yang telah kami baca mengenai sejarah Kerajaan Singosari. Kami pun dibagi-bagi peran, dan aku mendapatkan peran sebagai Raja Kertanegara. Waww..aku menjadi raja, pikirku! Perasaanku ketika itu begitu senang tak tergambarkan. Namun di puncak perasaanku yang membuncah, tepat sesaat drama akan dimainkan, bel pergantian pelajaran berbunyi. Heii, ini bercanda kan? Dan seketika itu senyumku memudar, perasaan yang semula berbunga-bunga langsung jatuh hingga ke dasar jurang kekecewaan.

Pelajaran bahasa Indonesia menjadi pelajaran yang paling kutunggu-tunggu selama menjadi anak sekolah. Pelajaran bahasa Indonesia kelas 2 SMP kali itu memberikanku kesempatan untuk menyalurkan passionku. Yap, bermain drama untuk tugas bahasa Indonesia. Berperan sebagai ibu Malin Kundang, aku merasa puas karena bisa berakting dengan cukup total. Jujur, aku paling tidak suka berakting asal-asalan, tanpa penjiwaan sama sekali. Maka, ketika harus memerankan ibu Malin Kundang yang digambarkan “teraniaya”, aku pun melakukannya dengan sepenuh hati.

Kehidupan SMA dan kuliahku agaknya berjalan biasa saja, tanpa ada memori manis “bermain drama” seperti yang selalu kuimpikan. Sebenarnya, baik di SMA maupun universitasku memiliki klub teater yang tentunya berlabelkan “umum”. Namun seperti yang sudah aku ceritakan di awal tulisan ini, ketakutanku akan aura-aura negatif dunia teater jauh lebih besar dibandingkan dengan besarnya passion yang kumiliki. Klub teater yang notabene dipenuhi dengan orang-orang heterogen sungguh menjadi momok yang menciutkan nyali.

Tahun-tahun berlalu. Aku sudah hampir mengubur mati keinginanku untuk bermain peran. Hingga, subhanallah, Allah menunjukkanku sebuah titik harapan. Teater Pena.

Dengan dinyatakannya aku lolos seleksi menjadi anggota Forum Lingkar Pena (FLP) Wilayah Yogyakarta pada tanggal 28 Juni 2011, maka terbuka pula kesempatanku untuk bergabung dengan forum teater milik FLP, Teater Pena. Subhanallah, sungguh kuasa dan kasih sayang Allah tak terperikan. Allah bisa berkehendak apa saja, kapan pun dan bagaimana pun jalannya. Teater Pena –insya Allah- menjadi solusi yang indah atas ketakutanku selama ini. Berbeda dengan klub teater yang berlabelkan “umum”, Teater Pena ini bernapaskan Islam. Dengan berlandaskan nilai-nilai Islam dan berjuang untuk da’wah, insya Allah ini adalah pilihan yang tepat untuk berada di sini. Di tempat yang aku yakin jauh dari perilaku amoral dan unsur-unsur mistis atau syirik. Dan inilah aku, di sini berawal dari Teater Pena, aku akan mewujudkan mimpiku untuk terjun di dunia akting sebagai bagian dari usahaku berda’wah di jalan Allah. Semoga Allah memberkahi langkahku ini. Allahumma aamiin..

Juli, 2011

Meyna Fathimah

meidwinna.blogspot.com

Thursday, June 23, 2011

PESONA DRAMA ASIA VERSUS FILM NEGERIKU

Beberapa bulan terakhir aku teracuni pesona drama Asia alias dorama (sebutan untuk drama Jepang) oleh teman-temanku. Jenis film yang dulu aku benci dan aku hindari, namun kini menjadi film favorit. Film yang pernah aku anggap “sampah” dan cengeng, ternyata jauh dari bayanganku dan kini menjadi film yang layak aku acungkan kedua jempol (kecuali film yang bergenre romansa.. >_< bukan tipeku!!)

Terlepas dari adegan yang terkadang tidak seronok dan bertentangan dengan ajaran Islam, banyak sekali kutemukan nilai-nilai positif di dalamnya. Banyak sekali kata-kata hikmah maupun perilaku positif yang patut ditiru, jauh berbeda dengan sinetron Indonesia yang isinya hanya air mata, kesengsaraan, hingga roman picisan yang tak berisi layaknya tong kosong. Di sini aku ingin sedikit berbagi, bagaimana dorama mampu merebut hatiku dan pantas kita acungi jempol, berikut beberapa pandanganku :

- Ceritanya sederhana namun berbobot

Inti cerita dari suatu dorama biasanya hanya satu dengan satu permasalahan utama, sehingga makna ceritanya dapat ditangkap dengan baik. Jauh berbeda dengan cerita bertele-tele ala sinetron Indonesia yang hanya sekedar cari rating. Jika sinetron Indonesia berjumlah puluhan hingga ratusan episode, dorama umumnya hanya sepuluh hingga belasan episode saja.

- Ketegaran sang tokoh

Dalam cerita dorama, tak sedikit tokoh yang dirundung permasalahan berat seperti layaknya cerita sinetron. Namun perbedaannya, sang sutradara mampu menghadirkan tokoh (baik utama maupun pembantu) yang tetap tegar walau dianiayai, memiliki ketegaran hati dan tetap tersenyum menghadapi masalah seberat apapun, serta memiliki kemauan yang kuat (struggle) dalam mencapai impian walau harus terjatuh berkali-kali. Tokoh-tokoh dalam cerita dorama umumnya jauh dari tokoh cengeng yang pamer air mata.

- Banyak sekali kata-kata indah dan keteladanan yang mengandung nasehat

Aku menyukai kata-kata indah, kata-kata mutiara sebagai penyemangat diri. Dan kata-kata itu banyak sekali aku temukan di dalam dorama. Percakapan-percakapan nasehat banyak sekali dilontarkan antara orang tua dengan anak, guru dengan murid, antar teman, antara tokoh baik dan tokoh jahat, dan lain-lain.

Kata-kata penuh hikmah, semangat, dan cinta begitu lugas dilontarkan, begitu dalam dan tulus, sehingga dalam cerita tersebut tak sedikit mereka yang dinasehati tergerak hatinya untuk menjadi orang yang baik. Bahkan tokoh sejahat apapun digambarkan masih punya hati nurani sehingga mungkin untuk luluh oleh nasehat maupun oleh kebaikan seseorang.

Dalam tulisan ini aku sama sekali tidak bermaksud menjelek-jelekkan film lokal Indonesia dan mengagung-agungkan produk tetangga. Aku hanya ingin berbagi dan mengajak kita semua membuka mata, melihat contoh positif dari negeri tetangga untuk kemudian diambil sebagai panutan yang baik. Siapa sih yang tidak bangga jika film Indonesia kelak berkualitas?

Seharusnya kita malu, Indonesia yang notabene memiliki penduduk Muslim terbesar di dunia, masa iya miskin dengan film-film yang bernilai positif dan hikmah? Nilai-nilai positif tidak harus melulu ditunjukkan dengan ayat-ayat Al-Qur’an dan ceramah. Keindahan Islam dapat ditunjukkan pula dengan kemuliaan akhlaq, kelembutan lisan, ketegaran hati, kemauan yang keras, dan lain-lain. Islam itu menyeluruh dan mencakup semua aspek.

Penyampaian dakwah Islamiyah melalui film bisa menjadi alternatif yang menarik dan mudah diterima oleh masyarakat. Penanaman nilai-nilai Islam dalam setiap adegan dan keteladanan tokoh-tokohnya, jika dilakukan terus-menerus dan berkelanjutan dipastikan akan mempengaruhi pola berpikir dan pola perilaku masyarakat. Memang tidak mudah, perlu waktu cukup lama dan konsistensi untuk berdakwah melalui dunia perfilman. Namun memang inilah jalan yang harus ditempuh, panjang dan berliku, butuh keistiqomahan, dan tak semudah membalikkan telapak tangan.

Ah, aku bermimpi kelak suatu saat nanti aku menjadi penulis naskah drama yang merebut hati jutaan pemirsa Indonesia dan mampu menyiramkan nilai-nilai keislaman agar tertanam kokoh dalam akhlaq manusia Indonesia. Demi mewujudkan masyarakat Indonesia yang beradab, berbudi luhur, berdisiplin tinggi, peka sosial, dan berkarakter. Semoga.. Aamiin..

Juni 2011

Wednesday, June 15, 2011

Doing Things We Don't Like

The most lovely thing to do is doing activities we like and enjoy most. But people say that people should sometimes do things that they do not enjoy doing. I completely agree with that opinion.

There are some conditions when people should do things that they don't like. There are situations where people must force themselves into doing something boring. That's why people couldn't be selfish by only doing things that they like.

As an example, studying is an activity that some people hate. But I'm sure that all of us know that it is a very important activity we must do. Studying has great advantages for our life. The other example is eating healthy foods. Some people assume that most healthy foods always taste bad like rubbish. The same reason as studying, eating healthy foods gives us good effects even though we don't like the taste.

There are a lot of activities we don't like that we must try to enjoy. However, the key is in our mind. Try to keep our mind positive, try to enjoy all good activities. Try to do something not by judging whether we like or dislike, but by considering their advantages. Someday, little by little, we will enjoy something we used to hate.

May 2011
a writing task for my IBT class

Eating at Home is Better Than Eating at a Restaurant

Food is an important need for our body, it can produce energy to support our body to do our daily activities. There are some kinds of people who like to enjoy their meal by preparing and eating it at home, while others prefer to eat at food stands or restaurants.

In my opinios, there are about three reasons why people like eating food at restaurants. First, people who are busy and haven't enough time at home or to prepare the meal themselves, so they haven't any choice except buying foods outside.

The second reason is habit or lifestyle. Some people prefer to eat at food stands or restaurants to show their prestige. Restaurant's foods are usually more expensive than cooking at home. So, people will consider them as highclass.

Most teenagers like spending their time outside. They also take their meals outside while hanging out. Teens love to enjoy their meals at the same time as they chat and laugh together with their gangs.

There are various reasons why people eat at restaurants, but from my point of view, the best way to have our meals is by preparing and eating at home. Not only is it cheaper, eating at home is much healthier and safer. Why so? By cooking food on our own, we can control the quality : the cleanliness and also the content of the food. That's why eating at home is much better than eating at restaurant.


May 2011
a writing task for my IBT class

Wednesday, May 25, 2011

Aku Sudah Besar

Aku sudah besar.. sudah 22 tahun lebih aku bernapas, menggeliat, merangkak, berjalan, berlari dalam buaian bumi ciptaanNya.. telah sekian banyak waktu kulewati penuh suka cita, cinta, dan air mata..

Aku sudah besar..
Aku bukan anak kecil lagi yang bisanya hanya merengek-rengek..
Aku bukan juga remaja labil yang hari-harinya diisi dengan canda tawa semata..

Aku sudah 22 tahun..
Saatnya bercermin, sudah berapa banyak waktu kusiakan?
sudah berapa banyak dosa kuperbuat?
Saatnya memikirkan, sudah jadi apakah aku sekarang?
sudah seberapa besar kualitas diri ini?
sudah seberapa banyak amalan yang kuperbuat?

Ah, yang lalu biarkan saja berlalu..
Namun jangan kubur masa lalu, biarkan ia menjadi pijakan untuk terus melangkah maju..
Teruslah memperbaiki diri, ukirlah mimpi-mimpi..
Mulai pikirkan masa depan yang sesungguhnya, genggamlah dengan tangan ini.. bergegaslah dan bersemangatlah!!

25 Mei 2011
(detik-detik menjelang deadline tugas)

Friday, October 15, 2010

Kisah Kasih Cinderbolong

Scene 1 (di rumah Cinderbolong)

Once upon a time. Hiduplah seorang anak lelaki yatim piatu bernama Cinderbolong. Ia tinggal bersama ibu tiri dan kedua saudara tirinya yang jahat, Anarkis dan Drijila. Mereka sangat suka menjahati Cinderbolong. Bahkan Cinderbolong mereka jadikan sebagai pembantu. (Cinderbolong terlihat sedang menyapu. Ibu tirinya sedang kipas-kipas, sementara kedua putrinya yang jahat mengganggu Ciderbolong yang sedang menyapu)

Tiba-tiba terdengar suara seseorang mengetuk pintu. Serta merta Cinderbolong bergegas mendekati pintu dan membukanya.. Siapakah gerangan yang datang..?

Hulubalang : “Undangan dari Kerajaan Ngampoooonnnn......” (membuka sebuah gulungan dan mulai membaca isinya)

Oh rupanya dua orang hulubalang dari Kerajaan Ngampon. Mendengar hal itu, ibu jahat dan kedua putrinya bergegas mendekati hulubalang dan mengusir Cinderbolong.

Cinderbolong : (pergi menjauh, dan meneruskan menyapu. Sambil mencuri-curi dengar apa yang disampaikan oleh hulubalang)

Tak lama setelah menyampaikan berita dari kerajaan dan menyerahkan undangan tersebut kepada sang ibu tiri, kedua hulubalang segera meninggalkan rumah Cinderbolong. (Sementara Anarkis dan Drijila terlihat begitu girang sambil melompat-lompat. Tiba-tiba mereka melirik tajam ke arah Cinderbolong, lantas merebut dengan kasar sapu yang sedang digenggam oleh Cinderbolong.)

Anarkis : “Ahahaha.. aku akan bawa sapu ini. Dan pasti akulah yang akan dipilih oleh ratu!”

Drijila : “Lalu aku pakai sapu apa, Kak?” (dengan wajah sedih)

Ibu tiri : “Tenang sayang.. kita masih punya dua sapu lagi di belakang..”

Drijila : “Ah betul ibu? Ayo Kak..” (menarik lengan Anarkis. Pemain meninggalkan panggung)

Ibu tiri : “Ayo kita bersiap-siap..” (mengikuti kedua putrinya dari belakang, menjatuhkan undangan dari kerajaan dengan sengaja di hadapan Cinderbolong. Pemain meninggalkan panggung)

Setelah ibu dan kedua saudara tirinya pergi, Cinderbolong memungut undangan yang jatuh itu. Perlahan ia mulai membaca isinya.....

Oh rupanya undangan pesta dari Kerajaan Ngampon. Dan setiap tamu undangan wajib membawa sapu sebagai persyaratannya. Syarat yang aneh, gumam Cinderbolong dalam hati.

Anarkis dan Drijila : (sudah berdandan, berganti pakaian dan menggenggam sapu. Menghanpiri Cinderbolong)

Anarkis : “Ohohohooo.. kamu mau ikut ya? Sayang sekali, tak ada sapu lagi di rumah ini.. hohoho..”

Drijila : “Iya kasihan sekali.. hahaha”

Ibu tiri : “Maaf ya kami tidak bisa mengajakmu..” (menyindir Cinderbolong, lantas menoleh kepada kedua putrinya), “ayo sayang kita berangkat..”

A dan D : “Baik ibu..”

Sepeninggal ibu dan kedua saudara tirinya, Cinderbolong membaca kembali undangan yang masih ia genggam. Dengan wajah sedih, ia terduduk di lantai.

Cinderbolong : (mendesah sambil menitikkan air mata) “Huff.. malang sekali nasibku.. padahal aku ingin sekali ikut..”

Tiba-tiba, tanpa Cinderbolong sadari, datang sesosok makhluk serba hitam mendekatinya.

Papi peri : “Ba...!!!!” (mengagetkan Cinderbolong dari lamunannya)

Cinderbolong : “Aaaaa...” (melompat kaget), ”si...sii..siiiapa ka..kaauuu..?? Pergii.....!!!!”

Papi peri : “Tenang anakku..” (berjalan mendekati Cinderbolong, menyentuh pundaknya, dan tersenyum), “aku bukan orang jahat..”

Cinderbolong : “Lalu kau siapa?”

Papi peri : “Hm, saya biasa dipanggil PAPI PERI.. Papi dari Kerajaan Peri SOSMAS ceria..”

Cinderbolong : “Cie ciee.....”

Papi Peri : “Nah anakku, aku tahu mengapa kau bersedih. Aku tahu kau ingin sekali ikut pesta di Kerajaan Ngampon. Untuk itulah aku datang kemari hendak mengabulkan keinginanmu.. Lihat ini..”

Cling.... (Papi peri mengayunkan tongkatnya)

Cinderbolong : “Aaaa..” (tubuhnya tiba-tiba berputar dengan sendirinya. Pemain meninggalkan panggung)

Ada apa dengan Cinderbolong? Kemanakah perginya ia?

Cinderbolong : (pemain memasuki panggung dengan kostum yang necis, lengkap dengan sapu antiknya)

Papi Peri : “Nah, kau keren sekali nak...”

Cinderbolong : “Betulkah..?? Terima kasih papi..” (Cinderbolong tersenyum gembira)

Papi Peri : “Tapi kau harus ingat satu hal nak.. tepat pukul 12.00 siang, kekuatanmu akan hilang. Kau akan kembali compang-camping dan sapu ajaibmu akan kehilangan kekuatan. Jadi sebelum adzan dzuhur kau sudah harus meninggalkan kerajaan..oke?”

Cinderbolong : “Beres papi... tetapi... bagaimana aku bisa pergi ke Kerajaan Ngampon tanpa kendaraan?”

Papi Peri : “Jangan kuatir anakku, coba kau naiki sapu yang kau pegang itu.”

Cinderbolong : “Begini Pi? Eh, huwaaaaa.... tolong aku terbang....” (sapu yang dinaiki Cinderbolong tiba-tiba terbang, membawa Cinderbolong menuju Kerajaan Ngampon. Pemain meninggalkan panggung)

Papi Peri : “Selamat jalan anakku...” (melambaikan tangan ke arah Cinderbolong yang mulai terbang menjauh), “nah sekarang saatnya aku pergi.. ada rapat nih, bisa-bisa aku telat...” (pemain meninggalkan panggung)

Scene 2 (suasana pesta di Kerajaan Ngampon)

Saat ini, Cinderbolong masih dalam perjalanan menuju kerajaan. Sementara suasana pesta di Kerajaan Ngampon sudah sangat ramai. Lihatlah betapa bersemangatnya para tamu undangan menyapu. Menyapu? Yah rupanya ini adalah pesta KERJA BAKTI!!!! Rupanya Ratu Hana sedang mengadakan sayembara pemilihan kepala pelayan spesialis tukang sapu. Barangsiapa menyapu paling bersih, rajin, dan bersemangat, maka dia lah yang akan dipilih oleh ratu Hana.

Ibu tiri, A, D, dan para tamu : (berlomba-lomba menyapu, sambil sesekali tersenyum ke arah ratu Hana. Caper)

Ratu Hana dengan seksama memperhatikan para peserta sayembara, sambil diikuti oleh kedua hulubalangnya. Oh lihatlah Ratu Hana menggeleng-gelengkan kepala pertanda tidak puas. Tiba-tiba..

Cinderbolong : (Cinderbolong mendarat dengan sapu ajaibnya di halaman kerajaan) “Oh tidak, aku terlambat..” (Cinderbolong langsung menyusul, bergabung ke arah kerumunan, dan mulai menyapu)

Cinderbolong : “Yiihaaaaaa...!!!!”

(Musik diputar. Cinderbolong mulai menari diikuti oleh para peserta lainnya)

Ratu Hana rupanya begitu tersepona dengan aksi Cinderbolong. Wajahnya tersenyum, sambil berdecak kagum. (Ratu Hana dan dua hulubalangnya memperhatikan Cinderbolong sedang menari. Kemudian, perlahan ikut menari.)

(Musik selesai. Suara bel pertanda pukul 12 siang berdentang)

Tet.. tot...tet.. tot..

Cinderbolong : “Ah tidak, aku terlena..” (berhenti menari kemudian menjatuhkan sapunya, dan bergegas meninggalkan kerajaan.)

Ratu Hana : “Lho kok pergi? Pengawal!!!! Kejar dia!!!”

Ratu Hana, hulubalang, dan seluruh peserta sayembara mengejar Cinderbolong yang melarikan diri. Nah bagaimanakah kelanjutan kisah kasih Cinderbolong ini?

Sayang sekali pemirsa, waktu sudah habis. Jadi ceritanya berakhir sampai di sini... THE END

(Semua anak SOSMAS langsung kembali ke panggung, menyanyi bersama.. Musik berputar.. First Love by Utada Hikaru)

-------------------------

KETERANGAN : (PENTING!!!)

- Yang dicetak miring : dibaca oleh narator

- (Yang di dalam kurung) : action

- “Yang dikasih tanda petik” : dialog

Para Pemeran :

- Cinderbolong : PNF

- Ibu Tiri : RGA

- Anarkis (A) : YS

- Drijila (D) : TLK

- Hulubalang 1 : DA

- Hulubalang 2 : ASJ

- Papi Peri : DAM

- Ratu Hana : HA

- Peserta sayembara : seluruh anak SOSMAS

Narator : AP

Operator : DUNI

Naskah by : M

Saturday, October 2, 2010

Luka Hati

Beberapa waktu yang lalu, tepatnya hari Sabtu tanggal 19 Januari 2008, aku mendapatkan luka-luka pada beberapa bagian tubuhku. Memar berwarna kebiru-biruan banyak membekas di kakiku. Ya, hari itu aku dan seorang temanku -sebut saja N- yang membonceng di belakang, terjatuh dari New Smash 110cc kesayanganku setelah menabrak pick up yang tiba-tiba berbelok. Alhamdulillah…ucapku dalam hati. Untung hanya memar di kaki. Dan aku pun sangat senang ketika kuketahui bahwa N baik-baik saja.

Setelah perasaanku sedikit tenang, kami melanjutkan perjalanan. Namun karena masih tegang, kusuruh N untuk membonceng temanku R yang kebetulan tidak ada yang memboncengnya. Mesin dinyalakan, dan kami pun meneruskan perjalanan kami yang sempat tertunda. Menuju ke sebuah penginapan di Kaliurang. Makrab SOSMAS.

Hari ini sudah memasuki bulan kedua tanggal enam. Memar “kenangan” sudah jauh-jauh hari kulupakan, bahkan beberapa saat setelah peristiwa itu, rasa sakitnya sudah hilang. Ah begitu mudahnya luka pada tubuhku sembuh pikirku. Namun mengapa luka hati susah untuk disembuhkan? Pertanyaan itu tiba-tiba muncul.

Luka hati, kan begitu lama terendap dalam diri. Hati yang luka, hati yang sakit, mengapa tak semudah menyembuhkan luka-luka biasa? Bahkan terkadang ia akan terasa semakin menjadi. Semakin sakit dan terluka. Semakin membutakan mata, menulikan telinga, serta melumpuhkan segalanya. Tidak, bukan! Bukan mata yang buta, bukan pula telinga yang tuli. Hatilah yang buta. Hatilah yang menjadi kotor. Itulah hati yang sakit, hati yang terluka.

Sesungguhnya, penawar hati yang luka adalah kecintaan padaMu. Obat hati yang sakit adalah kepasrahan kepadaMu. Obat yang begitu mudah dicari, namun mengapa begitu sulit aku mendapatkannya? Mungkinkah diri ini begitu kotor, Rabbi?

Coba renungkan, Cinta…

Sudah berapa lama kau tinggalkan baca Qur’anmu?

Sudah berapa lama shalat sunnah kau lalaikan?

Sudah berapa lama shalatmu jauh dari kekhusyukan?

Sudah berapa lama kau tidak merasakan manisnya berpuasa sunnah?

Sudah berapa lama, Cinta?

(Oh Rabbi, sungguh aku begitu kotor dan hina. Diri ini terlalu busuk untuk dapatkan cintaMu. Diriku seolah tak pantas menghadap diriMu yang Agung.)

(Rabbi, aku ingin sembuhkan luka hati ini. Aku tak rela syaithan terkutuk tertawa puas melihat keadaanku yang hina ini.)

(Rabbi, aku rindu merasakan manisnya kebersamaan denganMu. Aku rindu dengan belaian tanganMu yang senantiasa menguatkan jiwa ini.)

Hati yang merindu

07 Februari 2008 (00:31)

Cara Memberi Label pada Tulisan

Cari memberi label blog kita yang udah terlanjur diposting (blogger ; Bahasa Indonesia)
1. Klik 'perancangan' pada navbar
2. Pilih 'posting' --> edit entri
3. Berikan tanda 'check' (alias centang) pada checkbox di sebelah kiri postingan kamu yang akan kamu jadikan satu kategori/label
4. Selanjutnya klik 'aksi label' --> 'terapkan label' --> 'label baru'
5. Beri nama label sesuai dengan yang kamu inginkan
6. Ulangi langkah 3 untuk membuat label-label baru

Selamat mencoba!!

Akibat Utak-atik Blog

Hari ini aku lebih memilih untuk duduk diam di rumah menyelesaikan semua tugas-tugas yang memang harus aku selesaikan. Sambil membereskan activation code AutoCAD 2010 milikku yang hingga kini masih expired, aku pun menyambi untuk menengok blogku. Mengutak-atik blog, mengubah dan menambah tatanannya, asik juga ternyata.

Ada salah satu gadget baru yang ingin kutambahi di blog, yaitu "label". Selama ini, tidak ada satupun tulisan di blog yang aku beri label.. yah, mau gimana lagi, habisnya bingung mengkategorikannya! Nah makanya, hari ini aku 'iseng' mengkategorikan tulisan-tulisanku.

Tapi eh dasarnya emang gaptek, dan emang belum pernah nyobain pake label, edit sana sini dengan instingku (maklum lebih percaya insting daripada petunjuk :P).. akhirnya sempet ada salah satu tulisan lamaku yang kehapus.. Haduuuh, Na.. kamu gimana sih? Niatnya tuh tadi mengedit label yang salah, eh taunya malah tulisannya yang terhapus.. duh, duh.. Tak apalah biarlah itu menjadi pengalaman :D

Nah tulisan yang terhapus tadi akan aku re-post nanti, oke.. ^^ Judulnya "LUKA HATI"
Selamat membaca!

Assalamu'alaykum warahmatullahi wabarakatuh...

(Puji syukur kehadirat Allah yang masih memberikan nikmat iman dan Islam pada diri ini..)

Selamat datang di blogku yang mungkin hanya berisi secuil pemikiran dan ungkapan isi hati...

Sungguh, kebenaran datangnya hanya dari Allah. Adapun kesalahan datangnya murni dari diri ini. Untuk itu mohon masukan, kritik, dan sarannya serta mohon dimaafkan atas segala kesalahan. Terima kasih. Selamat menikmati. Semoga bermanfaat dan membawa berkah. Amin

(Mulakanlah dengan membaca Basmalah.... dan akhirilah dengan Hamdalah..)