Monday, September 19, 2011

Yang Muda yang Tak Beretika


Di suatu pagi di bulan September di salah satu sudut Kota Yogyakarta, seorang ibu muda tengah mengemudikan sebuah mobil Grand Livina warna abu-abu. Ia hendak pulang ke rumah usai mengantarkan anaknya berangkat sekolah. Muda? Melihat penampilannya, orang pasti mengira usianya masih berkepala tiga, padahal sebenarnya si Ibu telah menginjak kepala lima. Dimana dengan usianya, ia seharusnya lebih pantas dipanggil ”nenek”. Namun rupanya, usia tak menghalangi ibu itu beraktivitas ke sana ke mari. Ia masih sangat energik yang bahkan lebih energik dari anak muda jaman sekarang, mungkin.

Di perempatan Sagan, si Ibu menghentikan mobilnya demi mematuhi lampu apill yang telah berubah menjadi merah. Si Ibu yang pernah lama tinggal di luar negeri tentunya sangat memahami urgensi mematuhi peraturan lalu lintas. Ia mengambil posisi di lajur tengah karena hendak mengambil jalan lurus, dari arah barat menuju timur. Sementara di samping kanannya sebuah mobil Terios putih berplat AD berhenti di lajur untuk belok kanan alias menuju selatan.

Tak lama kemudian, lampu apill berubah menjadi hijau. Roda-roda mobil pun bergerak sesuai kehendak tuannya, begitu pun mobil abu-abu si Ibu. Tiba-tiba sesuatu mengagetkannya. Dari arah kanan, mobil abu-abu miliknya ditabrak oleh sebuah mobil yang tak lain adalah mobil Terios putih berplat AD tadi. Gila! Lebar jalan di sebelah timur perempatan Sagan menyempit, sehingga mobil Terios yang ngawur itu terjepit di antara mobil si Ibu dengan kendaraan dari arah yang berlawanan. Karena panik, sebelum posisi mobilnya benar-benar terjepit, pengemudi Terios tadi tanpa pikir panjang memaksakan menyalip mobil si ibu. Dan... DUAKK!!

Bukannya berhenti dan menepikan mobilnya, pengemudi Terios yang tak tahu etika itu malah bablas, tanpa klarifikasi, tanpa minta maaf. Tabrak lari. Si Ibu yang telah makan asam garam jalanan tentu saja geram melihat tingkah tak tahu diri pengemudi itu. Si Ibu tak mau kalah, ia langsung saja tancap gas mengejar si penabrak demi meminta klarifikasi, demi sebuah etika.

Semakin dikejar, pengemudi itu bukannya berhenti tetapi malah semakin melajukan Terios-nya. Tak mungkin si Pengemudi itu tak sadar dirinya dikejar. Saat tengah mengejar si Penabrak, tiba-tiba seorang polisi lalu lintas menghentikan mobil si Ibu untuk menyeberangkan seorang pejalan kaki.

”Maaf, Pak! Saya terus ya?” pinta si Ibu membuka kaca mobilnya.

”Lho, kenapa Bu?” tanya Pak Polisi heran.

”Saya mau mengejar mobil yang tadi menabrak saya!”

”Lho? Kok nggak dikejar e Bu?” Pak Polisi malah balik bertanya.

”Lha wong ini malah disuruh berhenti sama Bapak tho?”

”Oh iya dink. Udah Bu, dikejar aja!! Silakan, silakan!!”

”Makasih, Pak!”

Si Ibu berpamitan pada Pak Polisi, melanjutkan pengejarannya. Namun tak disangka mobil yang dikejarnya malah sudah menepikan diri saat si Ibu sedang berbicara dengan polisi. Rupanya si Pengemudi Terios takut dilaporkan ke polisi. Di belakang mobil si Penabrak, si Ibu menepikan mobilnya. Ia pun turun dari mobil, nyamperin orang tak tahu etika itu. Sementara si Pengemudi Terios tetap tak beranjak dari mobilnya.

Si Penabrak rupanya seorang pemuda kepalang tanggung. Ia duduk di belakang setir, tak beranjak sedikit pun bahkan setelah tahu ia berhadapan dengan orang yang jauh lebih tua darinya. Oalaaah.. bocah ra tau sopan santun!

”Maaf, mas.. setelah nabrak kok nggak berhenti ya?” ujar si Ibu mengawali.

”Lho, harusnya ibu tahu donk posisi saya gimana,” pemuda itu malah balik menyalahkan si Ibu.

Dalam hati si Ibu berpikir, bukankah si Pemuda ini yang salah? Seharusnya ia tadi belok kanan alias ke arah selatan, eh.. tahunya malah lurus. Salah siapa?

”Lagipula mobil ibu cuma kena spionnya saja. Kenapa ibu malah lapor polisi? Padahal saya sebenernya malas pake berurusan sama polisi. Coba kalau mobil saya sudah gini, siapa yang nanggung?” lanjut pemuda itu nerocos.

Si Ibu kembali berpikir? Bagaimana pemuda di depannya ini bisa tahu kondisi mobil Terios putih miliknya, lha wong nggak ngecek sama sekali?

”Saya mah nggak masalah sama spion saya. Tapi harusnya Mas tahu donk, kalau ada kejadian kayak gini tuh etikanya ya berhenti. Lagipula kalau emang Mas nggak mau urusan ini lanjut ke polisi, kenapa nggak menepi dari tadi? Kita kan bisa selesaikan masalah ini baik-baik..” balas si Ibu.

Sebenarnya tadi si Ibu memang tak berniat melaporkan ke polisi, hanya kebetulan saja polisi muncul di depan mata. Mau gimana lagi?

“Lha terus ini gimana?” si Pemuda meminta pertanggungjawaban. Lho?

“Ya makanya ini diselesakan ke polisi biar tahu mana yang benar mana yang salah.”

”Saya nggak mau direpotin sama polisi!!”

Hal ini sebenarnya membuat si Ibu curiga. Pemuda itu ngotot tak mau berurusan dengan polisi jangan-jangan karena tidak mempunyai SIM? Nah lho.. tetapi si Ibu urung menanyakannya.

”Ya udah! Tapi lain kali jangan diulang seperti ini lagi. Kalau ada masalah di jalan sebaiknya segera turun..” nasihat si Ibu.

”Ya udah!!” jawab pemuda itu seolah mengusir si Ibu yang masih tak beranjak dari sisi kanan mobilnya. Ealah... anak muda..

Respon yang kurang ajar membuat si Ibu jadi kesal dan tak habis pikir sehingga ia pun mengurungkan niatnya untuk mengecek mobil si Penabrak. Ya, niat awal si Ibu mendatangi mobil penabrak selain mengklarifikasi, juga untuk mengecek kondisi mobil Terios putih itu. Namun polah tingkah si Pemuda membuatnya malas berbaik hati. Lha wong si pemilik mobilnya saja nggak peduli mobilnya sendiri, kenapa harus berbaik hati padanya? Akhirnya si Ibu kembali masuk mobil dan melaju meninggalkan pemuda tanggung itu.

Sepanjang perjalanan pulang ke rumah, si Ibu kembali mengingat-ingat kejadian tadi. Ngeyel-ngeyelan dengan pemuda itu mengingatkan si Ibu pada anaknya yang masih duduk di bangku sekolah dasar. Duh, anak segedhe gitu kok tingkah lakunya masih kayak anak SD. Si Ibu hanya bisa geleng-geleng kepala.

Dalam hati, si Ibu hanya bisa menangis. Miris. Ia yakin tak sedikit orang Indonesia yang bertingkah laku seperti pemuda tadi. Mengaku benar padahal salah. Melanggar lalu lintas tapi tak peduli. Betapa banyak pengemudi amatir di Indonesia ini? Mereka sok-sokan bawa sepeda motor sendiri, bawa mobil sendiri.. padahal tahu aturan saja tidak. Mau sampai kapan masalah ini akan berlanjut? Tanya kenapa?

Hal yang tak kalah membuat si Ibu miris adalah kenyataan bahwa orang yang dihadapinya tadi adalah seorang pemuda. Seburuk itukah etika generasi masa kini? Apakah buruknya generasi masa kini disebabkan oleh kegagalan para generasi sebelumnya dalam mendidik mereka? Mau dibawa kemana Indonesia?

Ah, namun begitu.. si Ibu menyadari masih banyak kok generasi masa kini yang tahu sopan santun dan berbudi luhur. Dalam hati, si Ibu berjanji tidak boleh ada satupun anak cucunya yang menjadi manusia tak tahu adat dan tak tahu aturan. Dan untuk Indonesia, si Ibu hanya bisa berdoa semoga Allah memberikan yang terbaik. Karena Indonesia tak boleh dan tak bisa terpuruk selamanya..

Yogyakarta, 19 September 2011

Meyna Fathimah

www.meidwinna.blogspot.com

*Kisah ini diangkat dari kisah nyata*

Penyakit Skripsi dan Obatnya


Lihatlah ke bawah, jangan ke atas. Istilah itu mungkin cocok untuk beberapa kasus tertentu. Namun agaknya istilah tersebut sangat tidak cocok bagi mereka yang tengah berjuang mengerjakan skripsi seperti aku. Bagaimana bisa begitu?


Seperti yang dikatakan oleh ibuku bahwa penyakit skripsi dimana-mana hampir sama, yaitu malas dan putus asa. Maka obat yang diperlukan untuk mengatasi penyakit malas dan putus asa ini adalah semangat dan motivasi. Lalu bagaimana cara mendapatkannya?


Lihatlah ke atas, jangan ke bawah. Agaknya istilah inilah yang cocok buat mereka-mereka yang sedang menempuh skripsi. Lihatlah teman-teman kita yang telah lulus duluan ataupun teman-teman yang sudah lebih maju progress skripsinya dibandingkan kita, lalu bandingkan dengan diri kita. Dengan melihat kesuksesan mereka sudah seharusnyalah kita malu, dan dengan malu itu harapannya menjadikan kita termotivasi untuk mengejar ketertinggalan. Jangan berbuat sebaliknya, yaitu malah melihat teman-teman yang di bawah, teman-teman yang progress-nya lebih lambat dari kita atau bahkan belum menyentuh skripsi mereka.


”Ah tenang, si A aja belum ngambil skripsi kok..”


”Jangan khawatir, skripsinya si B masih belum apa-apa. Belum ada kemajuan sama sekali, masih lebih bagusan punyaku..”


Nah lho.. Hati-hati, jangan bangga dulu jika berhasil menggungguli teman yang lain. Jangan merasa di atas awan dulu, perjuangan belum selesai. Ini baru proses, belum akhir. Tak ada yang menjamin jika suatu saat justru kita diselip oleh teman-teman yang tadinya berada di bawah kita.


Jadi buat kamu-kamu yang sedang skripsi, tetaplah berjuang. Tetaplah melihat ke atas, pandanglah jauh ke depan pada mimpi-mimpi yang kau ukir tinggi-tinggi. Tidakkah menyenangkan jika mimpi itu dapat kita gapai dengan segera?


Good luck!


Di tengah progress skripsi yang maju – mundur,

15 September 2011

Meyna Fathimah

www.meidwinna.blogspot.com

Mandek Menulis? No Way!


Beberapa waktu ini aku sempat mandek menulis. Nggak usah ditanyalah apa alasannya, karena alasannya nggak jauh-jauh dari alasan klasik : nggak mood, males, nggak ada ide. Mandek menulis itu rasanya sungguh nggak enak dan mengganjal. Rasa bersalah dan menyesal pada diri sendiri pun timbul dalam diri. Rasa bersalah ini pun kadang berefek buruk dengan menjadikan mood-ku drop, tidak stabil. Menyiksa sekali bukan? Hm..tapi sebenarnya kalau boleh jujur, penyebab ketidakproduktivanku menulis belakangan ini dipicu oleh suatu hal, ya, laptop kesayangan yang selalu menemani keseharianku ternyata sudah wafat. Alhasil, ketiadaannya membuatku sangat malas menulis.


Ini kebiasaan burukku : malas menulis dengan handwriting. Maka dengan alasan laptop rusak alias tidak ada fasilitas seolah memberikan pembenaran atas aksi mogok menulisku. Sungguh bodoh ya?


Aku vacuum hingga beberapa minggu lamanya, hingga suatu sore secara tidak sengaja aku bertemu dengan seorang temanku. Lama tidak bertemu dengannya membuatku mampu bercerita panjang lebar ini itu, sampai akhirnya aku curhat padanya yang notabene juga seorang penulis, tentang aksi bodohku selama beberapa minggu ini. Dengan menceritakan masalah ini padanya, aku berharap mendapatkan advice yang berharga demi menggugah kembali semangat menulisku.


Perbincangan kami selama beberapa menit itu memang tidak dibumbui dengan ceramah yang terkadang aku harapkan. Namun dari pertemuan singkat antara aku dengannya, kundapatkan beberapa nasehat yang berharga sebagai berikut :


1. Bertemu dengan sesama penulis (orang yang suka menulis) dapat menjadi pemantik semangat kita untuk menulis. Saling berdiskusi, bertukar pikiran, atau bahkan hanya sekedar bertatap muka saja dapat menumbuhkan semangat yang luar biasa. Percayakah? Coba saja.. J


2. Ketiadaan fasilitas bukanlah penghalang bagi kita untuk menulis. Masa iya tanpa laptop aku akan terus vacuum menulis? Tentu saja tidak kan? Ada begitu banyak hal yang terlalu sayang untuk luput kita tuangkan dalam tulisan. Ada begitu banyak hal yang akan membuat kita menyesal jika tidak kita tuliskan.. Benar kan?


3. Siapa bilang menulis itu harus panjang-panjang? Tidak ada kok yang mengatakan bahwa sekalinya kita menulis itu minimal sekian atau sekian. Jadi walau sesedikit apapun cerita yang mampu kita tuliskan, maka tuliskan saja. Daripada tidak menulis sama sekali? Lagipula tulisan yang sedikit belum tentu tidak berkualitas kan? Menulis sedikit tapi rutin jauh lebih baik daripada menulis jarang-jarang tapi langsung banyak, karena dengan merutinkan menulis akan mengasah kepekaan kita secara rutin juga.. So, bagi teman-teman yang punya blog silakan di-update blognya walau hanya tulisan-tulisan singkat.. Okay?


Well, ini sedikit pengalaman berharga yang ingin aku bagikan kepada teman-teman semuanya. Aku yakin, tidak sedikit diantara teman-teman yang pernah mengalami ”penyakit” serupa denganku. Semoga pengalaman yang aku share ini bermanfaat bagi kita semua dan mampu memompa semangat kita untuk terus menulis. Amin..


Teruslah berkarya!!


15 September 2011

Meyna Fathimah

www.meidwinna.blogspot.com

Dialog Malam


Gundah..

Galau..

Putus asa..

Penyakit yang kini tengah kurasakan..

Rasa yang mengkungkung hari-hariku..

Aku terpuruk.. sangat terpuruk..

Masa depanku gelap..

Suram..

Jauh..


Aku lelah Tuhan..

Lelah dengan segala keputusasaan ini..

Lelah dengan segala lemahku..

Aku ingin bangkit..


---


Tiba-tiba..

Kulihat cahaya di tengah gelapnya malam ini..

Begitu benderan di antara kelam..

Bintangkah itu? Ataukah bulan?

Atau malaikat?

Cahaya itu begitu hangat,

Tenteram, cemerlang..

Membuat hati ini menjadi damai..


Tuhan inikah pertanda dariMu?

Inikah jawaban atas doaku?

Ini jala terang dari gelap hariku?

Inikah cinta dari kelamnya jiwa?

Inikah harapan untukku bangkit dari hidupku yang suram?

Untuk berlari mengejar cahaya cintaMu yang abadi?



8 September 2011

Meyna Fathimah

www.meidwinna.blogspot.com

Curhat : Kehabisan Ide


Sebagai seorang penulis atau seseorang yang suka menulis, pernahkah kau merasakan kehabisan ide? Kalau aku pernah, bahkan bisa dibilang tidak jarang. Lalu apa yang kau rasakan ketika kehabisan ide? Marah atau biasa saja? Kalau aku rasanya geregetan dan ingin meledak. Entah pokoknya rasanya menyesakkan dan bikin stres.

Aku teringat nasehat seorang teman. Kata dia, sebuntu apapun ide, usahakan tetap menulis. Cobalah menulis dengan rutin dan intensif, walau hanya tulisan coret-coretan ataupun diary. Jadi ketika sedang kehabisan ide, kenapa tidak coba kau tuliskan saja tentang keadaanmu saat itu yang sedang kehabisan ide? Tuliskan saja perasaan depresimu saat itu yang sedang buntu ide, tuliskan betapa menderitanya dirimu tanpa ide. Betapa inginnya kau memukul-mukul kepala agar inspirasi mengalir dari mesin otak. Kenapa tidak?

Tapi ngomong-ngomong tentang kehabisan ide, salahku juga sih. Seharusnya aku bisa memaksa diriku untuk mencari sensasi baru atau sesuatu yang bisa menginspirasiku. Salahku juga yang seringkali menjadi budak mood setiap kali dikaitkan dengan ide dan inspirasi, selalu saja beralasan ”ah, aku lagi nggak mood nih”. Padahal dengan mengkondisikan diri kita dengan ketidak-mood-an, justru akan menghancurkan ide yang sebenarnya sudah ada dan siap kita tuangkan. Please, mulai sekarang cobalah untuk lebih bisa mengendalikan mood. Karena bad mood akan dapat merusak segalanya.

Ya sudahlah, jangan sampai ini terulang lagi. Saat-saat kehabisan ide rasanya sungguh menyiksa. Aku menyesal. Semoga tidak terulang lagi.

Agustus 2011

Meyna Fathimah

_hari-hari penuh siksa tanpa ide_

Syair Abu Nawas


Ilahi lastu lilfirdausi ahla,

Walaa aqwa ‘ala naaril jahiimi

Fahabli taubatan waghfir dzunubi,

Fainaka ghafirudz dzanbil azhimi…


Dzunubi mitslu a’daadir rimali,

Fahabli taubatan ya Dzal Jalaali,

Wa ’umri naqishu fi kulli yaumi,

Wa dzanbi zaaidun kaifa –htimali


Ilahi ‘abdukal ‘aashi ataak,

Muqirran bi dzunubi wa qad da’aaka

Fain taghfir fa anta lidzaka ahlun,

Wain tadrud faman narju siwaaka


Wahai Tuhanku.. aku sebetulnya tak layak masuk surgaMU,

Tapi… aku juga tak sanggup menahan amuk nerakaMu,

Karena itu mohon terima taubatku ampunkan dosaku,

Sesungguhnya Engkaulah Maha Pengampun dosa-dosa besar

Dosa-dosaku bagaikan bilangan butir pasir

Maka berilah ampunkan oh Tuhanku yang Maha Agung


Setiap hari umurku terus berkurang

Sedangkan dosaku terus menggunung,

Bagaimana aku menanggungkannya


Wahai Tuhan, hamba-Mu yang pendosa ini datang bersimpuh ke hadapanMU

Mengakui segala dosaku

Mengadu dan memohon kepadaMu


Kalau Engkau ampuni itu karena

Engkau sajalah yang bisa mengampuni

tapi kalau Engkau tolak, kepada siapa lagi kami mohon ampun selain kepadaMu?

(dikutip dari novel Negeri 5 Menara – A. Fuadi)


---

Siapa sih yang belum pernah mendengar syair di atas? Syair dari seorang Abu Nawas yang sudah cukup terkenal dan akrab di telinga kita. Bagiku syair itu sangat mengena di hati. Setiap kali mendendangkan syair itu, hati ini terenyuh, takut, resah..


Wahai Tuhanku.. aku sebetulnya tak layak masuk surgaMU.. Tapi… aku juga tak sanggup menahan amuk nerakaMu.. Kalimat ini menyadarkan betapa inginnya kita masuk surga. Namun kita sesungguhnya sadar bahwa dengan segala track record amal di dunia belumlah cukup untuk membawa kita memasuki surgaNya. Bahkan bisa jadi amalan-amalan kita justru menjadikan kita lebih layak untuk masuk neraka (na’udzubillah min dzalik). Walau bagaimanapun kita tidak kuasa dan tidak mau menjadi penghuni neraka..


Karena itu mohon terima taubatku ampunkan dosaku.. Sesungguhnya Engkaulah Maha Pengampun dosa-dosa besar.. Dosa-dosaku bagaikan bilangan butir pasir.. Maka berilah ampunkan oh Tuhanku yang Maha Agung.. Menyadari betapa banyaknya dosa yang telah kita lakukan, hanya taubat dan permohonan ampun dari Allah lah yang bisa menyelamatkan kita dari amuk neraka. Karena hanya dengan kemurahan Allah lah kita dapat selamat. Hanya Allah lah yang dapat mengampuni semua dosa-dosa yang sudah tak mampu terhitung lagi banyaknya, bagaikan jutaan bilangan butiran pasir.


Setiap hari umurku terus berkurang.. Sedangkan dosaku terus menggunung.. Bagaimana aku menanggungkannya.. Kita begitu takut dengan umur kita yang terus berkurang, sementara dosa tak henti-hentinya kita perbuat. Lalu bagaimanakah kita dapat menebusnya? Akankah dosa-dosa itu terus bertambah dan menghantui kita hingga akhir usia? Masya Allah.. Na’udzubillah min dzalik..


Wahai Tuhan, hamba-Mu yang pendosa ini datang bersimpuh ke hadapanMU.. Mengakui segala dosaku.. Mengadu dan memohon kepadaMu.. Menyadari bahwa hanya Allah lah yang bisa membantu kita, maka diri ini bersimpuh di hadapanNya memohon pengampunan dariNya. Berpasrah di hadapanNya, menangis, mengakui segala dosa yang telah kita perbuat. Mengadukan segala kegundahan ini dan memohon belas kasihan dariNya.. Hanya Allah lah yang mampu menyelamatkan kita..


Kalau Engkau ampuni itu karena.. Engkau sajalah yang bisa mengampuni.. tapi kalau Engkau tolak, kepada siapa lagi kami mohon ampun selain kepadaMu? Kita memohonkan ampun atas dosa-dosa ini hanya kepada Allah. Karena tidak ada dan tidak mungkin ada dzat lain yang mampu menyelamatkan kita dari dosa-dosa ini. Maka dengan penuh kesungguhan dan harap, kita mohonkan Allah menerima taubat kita dan mengampuni dosa-dosa ini. Namun jika Allah enggan mengampuni kita, kepada siapa lagi kita akan mengadu? Kepada siapa lagi kita akan mohon pengampunan? Tidak ada.


Semoga Allah masih memberikan kemurahanNya dan senantiasa memberikan pengampunan atas segala dosa dan kelalaian kita. Semoga dengan sisa umur yang diberikanNya kita dapat menebus dosa-dosa yang pernah kita perbuat. Aamiin..



Juli 2011

Dua hari menuju bulan penuh berkah..

Meyna Fathimah

“Coffee House”


Senin 18 Juli 2011, aku menghabiskan waktu liburan dengan duduk di depan laptop, menonton film. Setelah menjelajah dan menelusuri daftar koleksi film yang aku punya, mataku tertumbu pada salah satu koleksi film lamaku. Aku tertarik untuk menonton kembali “Coffee House”, satu dari sedikit koleksi filmku yang bergenre Korean drama.


Film tersebut diberi judul “Coffee House” karena ceritanya tak lepas dari kehidupan di rumah kopi : cinta, persahabatan, pekerjaan, dan lain-lain. Drama ini sesungguhnya menekankan pada sisi romansa, namun pada tulisan ini aku sama sekali tak bermaksud mengangkat kisah percintaan para tokohnya. Tulisan ini bukan bertujuan untuk menceritakan kembali film tersebut, sebaliknya justru akan menitikberatkan pada karakter tokoh. Karena hal yang paling menarik bagiku dari film ini adalah karakter para tokoh utama : Seo Eun Yeong, Lee Ji Won, dan Kang Seung Eung. Well, check this out gan!


- Seo Eun Yeong (Presiden Seo/ Eun Yeong)

Eun Yeong digambarkan sebagai seorang wanita karir yang sempurna : cantik, kaya, sukses, mandiri, berjiwa pemimpin. Ia menjadi presiden di sebuah publishing company sekaligus pemilik sebuah rumah kopi. Namun sayangnya, dengan kesempurnaan yang Eun Yeong miliki, ia belum mendapatkan pendamping hidup alias menikah. Konon, tidak ada lelaki yang berani melamar Eun Yeong mengingat betapa sempurnanya ia. Banyak lelaki yang berharap menjadi suami Eun Yeong namun tak ada satupun yang berani dan percaya diri menawarkan diri.

Pesona seorang Eun Yeong terletak pada ketangguhannya, yang tak pernah menangis walau dihimpit beragam permasalahan berat, yang selalu mampu bangkit kembali dengan segera dari keterpurukan. Ia juga bukan tipe orang yang suka meminta belas kasihan orang lain. Semua permasalahan selalu ia hadapi sendiri, baik itu masalah pekerjaan, masalah hati, dan lain-lain. Saat dia terpaksa harus menangis, maka dia tidak akan menangis di depan orang lain, terutama di depan anak buahnya. Karakter Eun Yeong yang tegar, tangguh, serta selalu menjunjung tinggi harga diri alias gengsinya sangat aku sukai. Karakter itulah yang menginspirasiku untuk menjadi wanita yang tegar dan kuat.


- Lee Ji Won (Penulis Lee/ Ji Won)

Ji Won adalah sahabat karib Eun Yeong sejak sepuluh tahun yang lalu, ketika mereka masih sama-sama kuliah. Namun di sisi lain, Ji Won alias Penulis Lee menjadi “musuh” Presiden Seo. Penulis Lee adalah penulis buku-buku misteri yang berada di bawah publishing company milik Presiden Seo. Sifat sang penulis yang menyebalkan, suka membangkang dan tidak bisa diatur selalu membuat Presiden Seo berang dan kesal.

Ji Won diceritakan sebagai orang yang unggul pada kesan pertama, namun bagi orang yang sudah mengenal dia dengan baik, dipastikan akan gregetan dibuatnya. Bahkan hidup berdampingan dengan Ji Won tak jauh dari air mata. Istri Ji Won telah menceraikannya, Presiden Seo pun tak jarang dibuatnya menangis, lalu sekretaris pribadi Ji Won pun tak kalah teraniaya oleh sikapnya yang egois dan menyebalkan. Ji Won adalah seorang yang egois, pembohong, jalan pikiran dan kemauannya susah ditebak dan dipahami, tidak bisa diatur, dan lain-lain.

Walau menyebalkan dan tak tahu diri, ada sisi baik pada diri Ji Won. Ji Won terkadang rela dicap buruk demi menutupi penderitaan maupun perasaannya sendiri. Pada orang yang ia sayangi, seperti Eun Yeong, ia selalu menutupi penderitaannya agar Eun Yeong tidak menjadi sedih dan ikut menderita. Pernah suatu ketika Ji Won sakit. Namun demi menutupi kenyataan kalau ia sedang sakit, Ji Won bersikap menghindar dari Eun Yeong dan bahkan mengusir Eun Yeong yang hendak berkunjung. Pernah juga Ji Won kabur dari company tanpa mengucap sepatah kata apapun sehingga membuat Presiden Seo kalang kabut dan berang. Namun sesungguhnya dia kabur untuk mencari tempat dan suasana yang lain untuk menyelesaikan draft tulisan yang akan diserahkan kepada company.


- Kang Seung Eung (Penulis Kang/ Seung Eung)

Seung Eung adalah seorang gadis yang baru saja lulus kuliah namun belum juga mendapatkan pekerjaan hingga di usianya yang ke-25 tahun. Namun secara misterius dia direkrut menjadi sekretaris pribadi seorang penulis terkenal, Lee Ji Won. Seung Eung adalah gadis yang jujur, polos, dan baik hati. Mungkin karena keluguannya itulah, Penulis Lee tak segan-segan “menganiaya”nya dengan menyuruhnya melakukan hal-hal yang aneh dan tidak jelas. Meski begitu Seung Eung tetap melakukan apapun yang diminta oleh majikannya.

Hari-hari Seung Eung tak lepas dari kemarahan dan sikap menyebalkan dari majikannya, sehingga air mata cukup akrab dengannya. Namun sama seperti Eun Yeong yang selalu bangkit segera setelah terpuruk, senyum dan semangat selalu menggantikan air matanya. Bahkan lama-kelamaan, kemarahan Penulis Lee tak lagi ia hadapi dengan air mata namun senyum tulus dan besar hati.

Kebaikan Seung Eung yang patut ditiru juga adalah ia jauh lebih mementingkan orang daripada dirinya sendiri. Salah satu klimaks dalam cerita ini adalah ketika Seung Eung dipecat oleh Penulis Lee karena Seung Eung membocorkan sakit dan penderitaan yang dialami oleh majikannya itu kepada Presiden Seo. Padahal sebelumnya Penulis Lee menyuruh Seung Eung merahasiakan semua kesakitan itu. Namun demi menghentikan clash antara Penulis Lee dan Presiden Seo, Seung Eung membocorkan semua rahasia yang selama ini ditutupi oleh majikannya demi melindungi Presiden Seo. Walau dengan begitu clash dan kesalahpahaman di antara Penulis Lee dan Presiden Seo cukup mereda, munculah permasalahan baru. Penulis Lee merasa sangat marah pada Seung Eung yang ternyata tak bisa lagi dipercayai dan kemudian memecatnya. Seung Eung merasa sangat sedih dan hancur. Namun tak lama setelah itu dia kembali bangkit dan mencoba memberanikan diri untuk meminta maaf kepada Penulis Lee. Pada mulanya permintaan maaf Seung Eung ditolak. Penulis Lee mengatakan bahwa meminta maaf tidak akan dapat mengubah kenyataan. Lalu Seung Eung menanggapinya dengan berkata, “maaf memang tidak bisa mengubah apa yang sudah terjadi, namun maaf dapat mengubah pikiran dan hati”. (Wonderful, aku paling suka kalimat itu!) Mendengar perkataan tulus dan melihat kesungguhan hati dari Seung Eung, Penulis Lee pun memaafkannya.

Setelah cukup lama berguru pada sang penulis, akhirnya Seung Eung “lulus”. Setelah menjadi mandiri dan tumbuh dewasa, ia pun mengikuti jejak gurunya menjadi penulis juga.


Well, itulah sedikit banyak hal yang ingin aku share kepada teman-teman semua. Silakan dicerna sendiri dan diambil manfaatnya. Semoga tulisan ini berguna untuk menjadikan diri kita lebih baik dan lebih hebat dari sebelumnya, amin. J

Juli 2011

Meyna Fathimah

meidwinna.blogspot.com

Surat Cinta untuk Sahabat


Teruntuk sahabat,

Kau yang di sana, apa kabar? Masihkah kau marah padaku?

Kau yang di sana, kenapa diam saja? Mana senyum yang selalu kau perlihatkan padaku?

Kau yang di sana, aku merindukanmu…

Sahabat, sampai kapan kau tidak mau menemuiku?

Sampai kapankah aku engkai abaikan?

Separah itukah kesalahanku padamu?


Sahabat, maafkan aku..

Maaf, aku tak bisa penuhi pintamu tuk ceritakan rahasiaku..

Bukannya aku tak percaya padamu, sungguh..

Tapi maaf, ini adalah rahasia antara aku dan Allah..

Ini rahasia yang tak bisa aku ceritakan pada siapapun..

Rahasia ini telah kusegel dan kukubur dalam kelam masa laluku..

Rahasia yang tak ingin lagi aku ungkit, sampai kapanpun..


Sahabat, sungguh aku menyesal telah buatmu murka..

Maaf jika hatimu luka atas apa yang kuperbuat..

Namun tak sedikit pun aku menyesal abaikan pintamu..

Tolong maafkan kelancanganku..

Tolong mengertilah aku..


Kau yang di sana, kenapa masih saja bisu?

Kumohon, jangan kau siksa aku dengan diammu..

Jangan kau hancurkan aku dengan sinismu..

Tolong, kembalilah sahabat..

Kembalilah seperti kau yang dulu..

Kau dengan senyum terindah yang aku tahu..


Tuhan, tolong sampaikan surat cintaku ini padanya..

Tolong sampaikan betapa aku rindukannya..

Bahwa aku akan terus menunggunya..

Menunggunya kembali tersenyum padaku..


15 Juli 2011

Meyna Fathimah

meidwinna.blogspot.com

-maafkan aku sahabat-

Satu Mimpi, Da’wahku Teaterku


Jum’at, 9 Juli 2011 di Balairung UGM sayap utara kali pertamanya aku dipertemukan dengan forum teater pena, sebuah forum teater kepunyaan Forum Lingkar Pena (FLP). Alhamdulillah.. one step accomplished!

Bermain peran alias akting sejak dahulu selalu mendapatkan tempat di hatiku. Entah karena alasan apa awalnya, sejak kecil aku selalu antusias akan hal itu. That’s my passion since I was a child! Namun agaknya peluang bagiku menyalurkan keinginan dan kesukaan itu sangatlah kecil.. rasa-rasanya tak akan ada kesempatan untukku mewujudkan mimpi itu. Mungkin orang akan bertanya, apa alasanku mengatakan “tidak mungkin”? Baiklah, akan kujelaskan.

Dunia teater, bagaikan dunia hitam bagiku. Kelam dan sangat menakutkan. Klub-klub teater yang kutahu, tak jauh dari unsur mistis, mengedepankan kebebasan (yang menurutku tak bertanggung jawab dan tak beralasan), serta akrab dengan perilaku amoral. Bukan bermaksud menyinggung pihak manapun, namun memang itulah adanya dan kenyataannya. Dan ketakutanku rupanya jauh lebih besar dibandingkan dengan passionku, alhasil selama bertahun-tahun keinginan itu hanyalah menjadi keinginan yang terpendam entah sampai kapan. Untungnya keinginanku untuk bermain peran masih bisa sedikit tersalurkan pada pelajaran di sekolah, yaitu ketika ada tugas untuk bermain drama.

Sedikit bercerita, ketika masih menjadi murid taman kanak-kanak, aku pernah dipilih oleh guruku untuk bermain dalam sebuah drama musikal bersama anak-anak yang lebih besar. Kami tampil untuk sebuah festival yang diselenggarakan oleh SD yang satu yayasan dengan TK-ku. Ibu mengatakan padaku bahwa guruku “merengek” agar ibu mengizinkan aku untuk bermain dalam festival itu karena aku sangat berbakat.. (benarkah?)

Menginjak bangku sekolah dasar, kesempatanku bemain drama bisa dibilang semakin jarang. Begitu lekat dalam ingatan, ketika aku sangat dikecewakan oleh guruku. Saat itu pelajaran sejarah kerajaan-kerajaan Indonesia. Guruku menyuruh murid-murid untuk mempraktikkan teks yang telah kami baca mengenai sejarah Kerajaan Singosari. Kami pun dibagi-bagi peran, dan aku mendapatkan peran sebagai Raja Kertanegara. Waww..aku menjadi raja, pikirku! Perasaanku ketika itu begitu senang tak tergambarkan. Namun di puncak perasaanku yang membuncah, tepat sesaat drama akan dimainkan, bel pergantian pelajaran berbunyi. Heii, ini bercanda kan? Dan seketika itu senyumku memudar, perasaan yang semula berbunga-bunga langsung jatuh hingga ke dasar jurang kekecewaan.

Pelajaran bahasa Indonesia menjadi pelajaran yang paling kutunggu-tunggu selama menjadi anak sekolah. Pelajaran bahasa Indonesia kelas 2 SMP kali itu memberikanku kesempatan untuk menyalurkan passionku. Yap, bermain drama untuk tugas bahasa Indonesia. Berperan sebagai ibu Malin Kundang, aku merasa puas karena bisa berakting dengan cukup total. Jujur, aku paling tidak suka berakting asal-asalan, tanpa penjiwaan sama sekali. Maka, ketika harus memerankan ibu Malin Kundang yang digambarkan “teraniaya”, aku pun melakukannya dengan sepenuh hati.

Kehidupan SMA dan kuliahku agaknya berjalan biasa saja, tanpa ada memori manis “bermain drama” seperti yang selalu kuimpikan. Sebenarnya, baik di SMA maupun universitasku memiliki klub teater yang tentunya berlabelkan “umum”. Namun seperti yang sudah aku ceritakan di awal tulisan ini, ketakutanku akan aura-aura negatif dunia teater jauh lebih besar dibandingkan dengan besarnya passion yang kumiliki. Klub teater yang notabene dipenuhi dengan orang-orang heterogen sungguh menjadi momok yang menciutkan nyali.

Tahun-tahun berlalu. Aku sudah hampir mengubur mati keinginanku untuk bermain peran. Hingga, subhanallah, Allah menunjukkanku sebuah titik harapan. Teater Pena.

Dengan dinyatakannya aku lolos seleksi menjadi anggota Forum Lingkar Pena (FLP) Wilayah Yogyakarta pada tanggal 28 Juni 2011, maka terbuka pula kesempatanku untuk bergabung dengan forum teater milik FLP, Teater Pena. Subhanallah, sungguh kuasa dan kasih sayang Allah tak terperikan. Allah bisa berkehendak apa saja, kapan pun dan bagaimana pun jalannya. Teater Pena –insya Allah- menjadi solusi yang indah atas ketakutanku selama ini. Berbeda dengan klub teater yang berlabelkan “umum”, Teater Pena ini bernapaskan Islam. Dengan berlandaskan nilai-nilai Islam dan berjuang untuk da’wah, insya Allah ini adalah pilihan yang tepat untuk berada di sini. Di tempat yang aku yakin jauh dari perilaku amoral dan unsur-unsur mistis atau syirik. Dan inilah aku, di sini berawal dari Teater Pena, aku akan mewujudkan mimpiku untuk terjun di dunia akting sebagai bagian dari usahaku berda’wah di jalan Allah. Semoga Allah memberkahi langkahku ini. Allahumma aamiin..

Juli, 2011

Meyna Fathimah

meidwinna.blogspot.com

Thursday, June 23, 2011

PESONA DRAMA ASIA VERSUS FILM NEGERIKU

Beberapa bulan terakhir aku teracuni pesona drama Asia alias dorama (sebutan untuk drama Jepang) oleh teman-temanku. Jenis film yang dulu aku benci dan aku hindari, namun kini menjadi film favorit. Film yang pernah aku anggap “sampah” dan cengeng, ternyata jauh dari bayanganku dan kini menjadi film yang layak aku acungkan kedua jempol (kecuali film yang bergenre romansa.. >_< bukan tipeku!!)

Terlepas dari adegan yang terkadang tidak seronok dan bertentangan dengan ajaran Islam, banyak sekali kutemukan nilai-nilai positif di dalamnya. Banyak sekali kata-kata hikmah maupun perilaku positif yang patut ditiru, jauh berbeda dengan sinetron Indonesia yang isinya hanya air mata, kesengsaraan, hingga roman picisan yang tak berisi layaknya tong kosong. Di sini aku ingin sedikit berbagi, bagaimana dorama mampu merebut hatiku dan pantas kita acungi jempol, berikut beberapa pandanganku :

- Ceritanya sederhana namun berbobot

Inti cerita dari suatu dorama biasanya hanya satu dengan satu permasalahan utama, sehingga makna ceritanya dapat ditangkap dengan baik. Jauh berbeda dengan cerita bertele-tele ala sinetron Indonesia yang hanya sekedar cari rating. Jika sinetron Indonesia berjumlah puluhan hingga ratusan episode, dorama umumnya hanya sepuluh hingga belasan episode saja.

- Ketegaran sang tokoh

Dalam cerita dorama, tak sedikit tokoh yang dirundung permasalahan berat seperti layaknya cerita sinetron. Namun perbedaannya, sang sutradara mampu menghadirkan tokoh (baik utama maupun pembantu) yang tetap tegar walau dianiayai, memiliki ketegaran hati dan tetap tersenyum menghadapi masalah seberat apapun, serta memiliki kemauan yang kuat (struggle) dalam mencapai impian walau harus terjatuh berkali-kali. Tokoh-tokoh dalam cerita dorama umumnya jauh dari tokoh cengeng yang pamer air mata.

- Banyak sekali kata-kata indah dan keteladanan yang mengandung nasehat

Aku menyukai kata-kata indah, kata-kata mutiara sebagai penyemangat diri. Dan kata-kata itu banyak sekali aku temukan di dalam dorama. Percakapan-percakapan nasehat banyak sekali dilontarkan antara orang tua dengan anak, guru dengan murid, antar teman, antara tokoh baik dan tokoh jahat, dan lain-lain.

Kata-kata penuh hikmah, semangat, dan cinta begitu lugas dilontarkan, begitu dalam dan tulus, sehingga dalam cerita tersebut tak sedikit mereka yang dinasehati tergerak hatinya untuk menjadi orang yang baik. Bahkan tokoh sejahat apapun digambarkan masih punya hati nurani sehingga mungkin untuk luluh oleh nasehat maupun oleh kebaikan seseorang.

Dalam tulisan ini aku sama sekali tidak bermaksud menjelek-jelekkan film lokal Indonesia dan mengagung-agungkan produk tetangga. Aku hanya ingin berbagi dan mengajak kita semua membuka mata, melihat contoh positif dari negeri tetangga untuk kemudian diambil sebagai panutan yang baik. Siapa sih yang tidak bangga jika film Indonesia kelak berkualitas?

Seharusnya kita malu, Indonesia yang notabene memiliki penduduk Muslim terbesar di dunia, masa iya miskin dengan film-film yang bernilai positif dan hikmah? Nilai-nilai positif tidak harus melulu ditunjukkan dengan ayat-ayat Al-Qur’an dan ceramah. Keindahan Islam dapat ditunjukkan pula dengan kemuliaan akhlaq, kelembutan lisan, ketegaran hati, kemauan yang keras, dan lain-lain. Islam itu menyeluruh dan mencakup semua aspek.

Penyampaian dakwah Islamiyah melalui film bisa menjadi alternatif yang menarik dan mudah diterima oleh masyarakat. Penanaman nilai-nilai Islam dalam setiap adegan dan keteladanan tokoh-tokohnya, jika dilakukan terus-menerus dan berkelanjutan dipastikan akan mempengaruhi pola berpikir dan pola perilaku masyarakat. Memang tidak mudah, perlu waktu cukup lama dan konsistensi untuk berdakwah melalui dunia perfilman. Namun memang inilah jalan yang harus ditempuh, panjang dan berliku, butuh keistiqomahan, dan tak semudah membalikkan telapak tangan.

Ah, aku bermimpi kelak suatu saat nanti aku menjadi penulis naskah drama yang merebut hati jutaan pemirsa Indonesia dan mampu menyiramkan nilai-nilai keislaman agar tertanam kokoh dalam akhlaq manusia Indonesia. Demi mewujudkan masyarakat Indonesia yang beradab, berbudi luhur, berdisiplin tinggi, peka sosial, dan berkarakter. Semoga.. Aamiin..

Juni 2011

Wednesday, June 15, 2011

Doing Things We Don't Like

The most lovely thing to do is doing activities we like and enjoy most. But people say that people should sometimes do things that they do not enjoy doing. I completely agree with that opinion.

There are some conditions when people should do things that they don't like. There are situations where people must force themselves into doing something boring. That's why people couldn't be selfish by only doing things that they like.

As an example, studying is an activity that some people hate. But I'm sure that all of us know that it is a very important activity we must do. Studying has great advantages for our life. The other example is eating healthy foods. Some people assume that most healthy foods always taste bad like rubbish. The same reason as studying, eating healthy foods gives us good effects even though we don't like the taste.

There are a lot of activities we don't like that we must try to enjoy. However, the key is in our mind. Try to keep our mind positive, try to enjoy all good activities. Try to do something not by judging whether we like or dislike, but by considering their advantages. Someday, little by little, we will enjoy something we used to hate.

May 2011
a writing task for my IBT class

Eating at Home is Better Than Eating at a Restaurant

Food is an important need for our body, it can produce energy to support our body to do our daily activities. There are some kinds of people who like to enjoy their meal by preparing and eating it at home, while others prefer to eat at food stands or restaurants.

In my opinios, there are about three reasons why people like eating food at restaurants. First, people who are busy and haven't enough time at home or to prepare the meal themselves, so they haven't any choice except buying foods outside.

The second reason is habit or lifestyle. Some people prefer to eat at food stands or restaurants to show their prestige. Restaurant's foods are usually more expensive than cooking at home. So, people will consider them as highclass.

Most teenagers like spending their time outside. They also take their meals outside while hanging out. Teens love to enjoy their meals at the same time as they chat and laugh together with their gangs.

There are various reasons why people eat at restaurants, but from my point of view, the best way to have our meals is by preparing and eating at home. Not only is it cheaper, eating at home is much healthier and safer. Why so? By cooking food on our own, we can control the quality : the cleanliness and also the content of the food. That's why eating at home is much better than eating at restaurant.


May 2011
a writing task for my IBT class

Assalamu'alaykum warahmatullahi wabarakatuh...

(Puji syukur kehadirat Allah yang masih memberikan nikmat iman dan Islam pada diri ini..)

Selamat datang di blogku yang mungkin hanya berisi secuil pemikiran dan ungkapan isi hati...

Sungguh, kebenaran datangnya hanya dari Allah. Adapun kesalahan datangnya murni dari diri ini. Untuk itu mohon masukan, kritik, dan sarannya serta mohon dimaafkan atas segala kesalahan. Terima kasih. Selamat menikmati. Semoga bermanfaat dan membawa berkah. Amin

(Mulakanlah dengan membaca Basmalah.... dan akhirilah dengan Hamdalah..)