Kita adalah manusia, ciptaan-Nya yang paling sempurna di antara makhluk yang lain. Tapi apakah yang sudah kita lakukan sebagai makhluk-Nya? Kita diciptakan di bumi ini bukan hanya sekedar "pemanis". Kita adalah KHALIFATULLAH! Lantas sudahkah kita menjalankan amanah suci ini? Selamat berjuang, Allah yubarik fik!
Wednesday, May 23, 2012
Paatii de (Di Pesta)
Monday, March 26, 2012
UHIBBUKI FILLAH, YAA UMMI..
“Ibu.. sedang apa sih?” sapaku pada suatu siang. Kulihat Ibu asyik melakukan sesuatu di dapur.
“Ini Ibu sedang mengupas rambutan..” jawabnya tersenyum.
“Astaghfirullah Bu.. kurang kerjaan banget sih?” kataku manyun berlagak memarahi Ibu. Ia hanya tertawa kecil mendengar ucapanku.
“Bu, kenapa sih Ibu mau repot-repot melakukan hal yang tidak perlu Ibu lakukan?” protesku kembali. Ya, Ibu memang suka sekali merepotkan diri dengan mengupas buah-buahan untuk kami sekeluarga. Rambutan, mangga, pepaya, dan lain-lain. Yang kemudian dipotong-potong dan ditempatkan di wadah. Siap disantap.
Tak hanya itu, sarapan pun selalu Ibu yang menyiapkan untuk kami. Kenapa sih Ibu mau capek-capek? Toh kami juga bisa mengurus diri sendiri, pikirku. Dan ketika kutanyakan hal itu padanya, ia menjawab, “Inilah bahagianya menjadi seorang ibu. Rasa capek tidak ada apa-apanya jika melihat suami dan anak-anak senang. Besok saat Mei menjadi seorang ibu, Mei akan merasakan sendiri kenikmatannya.”
Sekali lagi aku hanya manyun mendengar jawabannya.
[[]]
Di mataku, Ibu adalah seorang wanita perkasa. Wanita hebat. Sosok idolaku. Siapa sangka jika masa lalunya bisa dikatakan 180 derajat?
Ibu berasal dari keluarga kaya yang tidak terbiasa mengurus rumah tangga sendiri karena parakhadimat (pembantu) senantiasa melayani keperluan sehari-hari. Selepas kuliah, Ibu sukses dengan karirnya sebagai seorang dokter gigi. Meskipun pada akhirnya, demi menjalankan tugas mulia sebagai seorang ibu, ia rela meninggalkan profesi yang sangat dibanggakannya itu. Ibu terpaksa harus mengorbankan karirnya demi mengabdikan diri mendidik kelima putra-putrinya. Namun ia ikhlas.
Di rumah sederhana kami, tidak ada khadimat. Otomatis pekerjaan rumah tangga menjadi tanggung jawab seluruh anggota keluarga. Bertujuh. Ayah, Ibu, aku, dan keempat adikku. Masing-masing dari kami mendapatkan pembagian tugas. Aku kebagian mencuci baju, adikku yang paling besar kebagian jatah membuang sampah, adikku yang lebih kecil kebagian jatah mengurusi dapur, dan lain-lain. Namun sering kali kami mangkir dari tugas yang telah ditetapkan. Apabila kami lalai, Ibu bukannya memarahi kami, sebaliknya justru mengambil alih tugas.
“Ibu nih lho, mbok sekali-kali tegas sama anak-anak Ibu. Kalau ada yang mangkir dari tugas tuh mbokya dimarahin kek atau gimana?” tegurku.
“Ah marah-marah bikin capek, mending Ibu kerjakan sendiri.”
Ibu yang ketika muda dulu adalah anak manja yang tak bisa apa-apa, kini menjelma menjadi wanita super bagi suami dan anak-anaknya. Ibu tak pernah berpangku tangan. Segala keperluan keluarga, Ibu kerjakan sendiri. Tak peduli meski harus bolak-balik mengurus ini dan itu dari satu tempat ke tempat yang lain.
“Mbok minta tolong sama aku tho Bu, kan aku bisa bantuin. Bapak dan adik-adik juga bisa kan dimintain tolong? Kan nggak harus Ibu yang mengerjakan semuanya?”
“Nggak ah, kalau Ibu bisa kerjakan sendiri akan Ibu kerjakan sendiri. Toh Ibu masih sehat wal’afiat. Kalau Ibu sakit, barulah Ibu minta tolong..” jawabnya.
Ah.. Ibu terlalu baik, terlalu banyak mengalah, terlalu banyak berkorban untuk kami. Bahkan menurutku, Ibu terlalu mengurusi hal-hal remeh. Terlalu ambil pusing. Sebagai contoh lain, ia tidak mau tidur kalau masih ada anaknya yang belum pulang hingga larut. Kadang aku sampai memarahinya.
“Mbok udah tho, Ibu tidur saja. Biar Mei yang nungguin adik pulang..” bujukku.
“Nggak ah, Ibu nggak bisa tenang kalau ada anak Ibu yang belum pulang..”
Dalam urusan makanan pun, Ibu selalu mendahulukan suami dan anak-anaknya. Ia rela mendapatkan sisa, bahkan jika tidak kebagian sekalipun tidak menjadi masalah baginya.
“Ah waktu muda dulu, Ibu udah terlalu sering makan enak. Udah cukup lah..” kata Ibu beralasan.
“Udah makan aja, Ibu malas makan. Sudah kenyang..” kata Ibu di kesempatan lain.
[[]]
Perjalananku menjadi seorang ibu mungkin masih jauh. Namun telah banyak pelajaran yang aku dapatkan dari Ibuku tercinta. Padaku ia berpesan bahwa seorang ibu itu haruslah serba bisa.Supermom. Darinya aku belajar tegar dan mandiri. Dari ia pulalah aku belajar mengalah, sabar, ikhlas, dan rela berkorban.
Ya Allah, aku sayang Ibuku. Tolong sayangilah Ibu seperti ia menyayangiku sedari kecil. Lindungilah ia dengan kasih sayang-Mu. Jagalah ia dengan sebaik-baik penjagaan-Mu. Aamiin..
Uhibbuki fillah, yaa Ummi..
Yogyakarta, 19 Desember 2011
Meidwinna Vania Michiani
(Meina Fathimah)
http://www.meidwinna.blogspot.com
*Cerita ini dalam rangka mengikuti kisah pendek The Great Power of Mother Pro-U Media
http://www.facebook.com/proumedia
KAPAN LULUS?
Aku adalah mahasiswi Teknik Arsitektur tingkat akhir di sebuah universitas negeri yang katanya terkemuka di Indonesia. Tahun keempat. MABA alias mahasiswa bangkotan. Posisi dimana kebanyakan orang mengasumsikannya sebagai tahun wajib lulus. Tahun dimana katanya status kemahasiswaan sudah seharusnya beralih menjadi alumni mahasiswa. Menjadi wisudawan wisudawati. Lulus. Lalu mencari kerja.
“Udah lulus belum?”
“Kapan wisuda nih?”
“Hah, kok belum lulus sih?”
“Mbak belum lulus toh? Awas ntar kuselip lho..”
Pertanyaan demi pertanyaan terus berulang. Teman-teman dari jurusan lain, sanak saudara, hingga orang yang baru kukenal, semua mengajukan pertanyaan sejenis. Pertanyaan klasik. Serupa meski tak sama. Entah itu ekspresi kepedulian ataukah ekspresi cemooh. Dengan bumbu canda maupun serius. Pertanyaan dengan beragam varian hanya untuk meminta kepastian : KAPAN LULUS?
“Kelulusan bagi mahasiswa arsitektur tidak bisa secepat jurusan lain..” jawabku singkat setiap ada yang menanyakan masalah itu. Jawaban yang terkadang aku lengkapi dengan penjelasan panjang lebar mengenai alasanku ‘menunda’ menjemput kelulusan. “Lamanya masa studi di Teknik Arsitektur minimal empat tahun. Delapan semester. Jadi paling cepat lulus ya empat tahun. Tapi umumnya jarang ada mahasiswa yang bisa lulus empat tahun pas. Ada begitu banyak tahapan dan syarat menjalani tugas akhir..”
“Pertama, di semester tujuh ada yang namanya Pra Tugas Akhir (Pra TA). Pra TA ini bisa dibilang mirip dengan skripsinya jurusan lain, yaitu menulis laporan yang diakhiri dengan seminar atau sidang. Tahapan ini harus dijalani minimal selama satu semester, belum ditambah dengan revisi atau bahkan mengulang.”
“Kedua, tahap Tugas Akhir. Tugas Akhir bisa diambil di semester delapan dengan syarat sudah lulus semua mata kuliah, termasuk Pra TA. Kalau masih ada mata kuliah dengan nilai E, jangan harap bisa mengambil Tugas Akhir. Adapun Tugas Akhir sendiri dibagi menjadi dua tahap, yang masing-masing dijalani selama dua bulan. Transformasi Desain (TD) dan Pengembangan Desain (PD). Produk TD berupa hand drawing hasil mentransformasikan konsep dari Pra TA ke dalam bentuk gambar sketsa. Setelah tahap TD selesai, lengkap dengan seminarnya, baru bisa lanjut ke PD. Produk PD juga berupa gambar seperti TD. Namun bedanya, produk PD adalah gambar kerja dengan komputer. Gambar jadi,fixed, bukan lagi sketsa seperti TD. Proses PD ini berakhir dengan pendadaran yang dilengkapi dengan produk berupa maket. Setelah final pendadaran inilah kami baru bisa yudisium dan wisuda.”
Ada yang percaya dengan penuturanku. Namun ada pula yang mencemooh tak percaya, “halah, paling kamu aja tuh yang malas-malasan..”, tebakku bersu’udzon.
Ah tidak, tidak! Aku tidak boleh berburuk sangka seperti itu. Siapa tahu justru dari mereka lah do’a untukku terkirim. Ya benar. Siapa tahu do’a mereka lah yang membantu melancarkan perjalananku menuju kelulusan. Bukankah do’a seseorang bagi saudaranya tanpa diketahui saudaranya tersebut insya Allah terkabul?1 Berarti, seharusnya aku justru berterima kasih atas pertanyaan-pertanyaan itu.. Ya, karena itu adalah wujud kepedulian mereka kepadaku. Bukankah begitu?
Menyandang status sebagai mahasiswa tahun keempat, pertanyaan-pertanyaan tentang kelulusan menjadi sangat akrab di telingaku. Menghiasi setiap hariku. Melekat bagaikan lem di benakku. Terkadang membuatku gusar. Resah. Jujur, ini cukup membebani pikiran. Aku harus segera lulus, tak ada kompromi. Aku sadar itu. Sangat sadar. Namun aku berusaha bersikap biasa. Berusaha tidak menggubris pandangan-pandangan orang. Berusaha menenangkan hati dan pikiran, berkhusnudzon pada Allah. Kalau sudah waktunya, insya Allah pasti lulus, yakinku. Aku percaya seutuhnya pada ketentuanNya. Layaknya jodoh yang sudah Allah takdirkan, kelulusan pun sudah Allah tentukan. Setiap orang punya jalan hidupnya masing-masing. Percayalah..
---
Di saat kebanyakan orang menggencet-gencet dengan pertanyaan seputar kelulusan, orang tuaku justru tidak pernah sekalipun menuntut untuk segera lulus. “Semua sudah diatur oleh Allah. Kalau sudah tiba waktunya insya Allah ada jalan,” nasehat ibuku mengingatkan setiap kali aku gusar memikirkan kelulusan. Tak pernah ibu protes sedikit pun. Begitu juga ayahku. Bahkan beliau sama sekali tak pernah menyinggung hal itu. Ayah hanya menanyakan kabarku dan tugas akhirku.
Namun sebagai seorang anak, tentu saja aku memikirkan perasaan keduanya. Bukankah setiap orang tua pasti akan lega dan senang melihat anaknya segera lulus? Lulus dengan hasil yang baik tentunya. Jadi, meski kedua orang tuaku tidak pernah mengatakan secara lisan, aku yakin mereka ingin segera melihat putri sulungnya ini segera lulus. Maka tak ada kompromi. Segera selesaikan tugas akhir. Segeralah lulus!!
NB : Buat temen2 yang sedang berikhtiar menjemput kelulusan,jangan patah semangat..ayo kita berjuang!! :)
“Masalah kelulusan tentu saja urusan Allah. Meski memang, usaha atau ikhtiar serta do’a tetap menjadi kunci utama..Bismillah..”
Yogyakarta, 14 Desember 2011
Meina Fathimah
www.meidwinna.blogspot.com
#saat ide tugas akhir tak kunjung hadir#
Berhati-hatilah Ketika Hendak Membeli Bensin
Assalamu'alaykum warahmatullahi wabarakatuh...
(Puji syukur kehadirat Allah yang masih memberikan nikmat iman dan Islam pada diri ini..)
Selamat datang di blogku yang mungkin hanya berisi secuil pemikiran dan ungkapan isi hati...
Sungguh, kebenaran datangnya hanya dari Allah. Adapun kesalahan datangnya murni dari diri ini. Untuk itu mohon masukan, kritik, dan sarannya serta mohon dimaafkan atas segala kesalahan. Terima kasih. Selamat menikmati. Semoga bermanfaat dan membawa berkah. Amin
(Mulakanlah dengan membaca Basmalah.... dan akhirilah dengan Hamdalah..)