Wednesday, May 23, 2012

Paatii de (Di Pesta)


Paatii de

Satomi : ”Aa, Maki san, assalamu’alaikum, konnichiwa.”
Maki    : ”Aa, wa’alaikumussalam Satomi san, ogenki desu ka.”
Satomi : ”Hai, genki desu. Anata wa hitori de paatii e ikimasu ka.”
Maki    : ”Iie, tomodachi to paatii e ikimasu. Soko no tsukue no chikaku no iru hito wa watashi no tomodachi desu.”
Satomi : ”Aa, sou desu ka.”
Maki    : “Anata wa dare to ikimasu ka.”
Satomi : “Watashi wa hitori de ikimasu.”
Maki    : “Sou desu ne.”
Satomi : “Aa, mite kudasai. Shiroi shatsu no onna wa kawaii desu yo ne.”
Maki    : “Ee. Kanojo wa Haruka san desu. Haruka san wa tomodachi no okusan desu. Yamato san no desu. Yamato san wa Haruka san no tonari ni imasu.”
Satomi : “Anoo, sono onna mo tomodachi desu ka.”
Maki    : “Hai, sou desu. Namae wa Rika san desu.”
Satomi : “Rika san wa se ga takai desu ne.”
Maki    : “Hai, takai desu. Demo, Mia san wa Rika san yori takai desu yo.”
Satomi : “Mia san wa dare desu ka.”
Maki    : “Mia san wa Rika san no ushiro no onna desu. Aoi shatsu no onna desu. Mia san wa Rika san imouto desu. Karera wa kodomo kara no tomodachi desu.”
Satomi : “Aa, sou desu ka. Rika san to Mia san wa donna hito desu ka.”
Maki    : “Sou desu ne. Rika san to Mia san wa shinsetsu na hito desu. Demo, Mia san wa Rika san yori motto motto shinsetsu desu. Soshite Mia san wa Rika san yori genki de, urusai desu.”
Satomi : “Rika san wa muguchi na hito desu ka.”
Maki    : “Hai, sou desu. Rika san wa taihen kinben de, rikoo na hito desu. Rika san wa yawarakai desu ga, Mia san wa atama ga katai desu.”
Satomi : “Tokoro de, nomimono wa doko ni arimasu ka. Watashi wa nodo ga kawakimashita.”
Maki    : “Sou desu ne. Aa, nomimono wa asoko no tsukue ni arimasu.”
Satomi : ”Ja, soko e ikimashou.”
Maki    : ”Hai, ikimashou.”
Satomi : ”Aa, kore wa juusu desu. Mikan no juusu wa dou desu ka.”
Maki    : ”Hai, doumo. Itadakimasu.”
            ”Aa....”
Satomi : ”Dou shimashita ka. Anata wa mikan no juusu ga suki dewa arimasen ka.”
Maki    : ”Iie, taihen suki desu ga. Kono juusu wa suppai desu kara, watashi wa chotto....”
Satomi : ”Sou desu ne.”
            ”Hai, douzo. Kore wa ice cream desu yo. Taihen amakutte oishii desu.”
Maki    : ”Aa, arigatou..”
            ”Aa, oishii.. Gochisu sama deshita.”
            ”Anoo, Satomi san, anata wa kamera ga arimasu ka.”
Satomi : ”Hai, arimasu. Kore desu. Doushite desu ka.”
Maki    : ”Issho ni shashin o torimasen ka.”
Satomi : ”Ee, torimashou.”

---

Di Pesta

Satomi : ”Aa, assalamu’alaikum, selamat siang Maki.”
Maki    : ”Aa, Satomi wa’alaikumussalam, gimana kabarnya?”
Satomi : ”Baik. Kamu pergi ke pesta sendirian?”
Maki    : ”Enggak, aku pergi ke pesta sama temen. Orang yang ada di deket meja di sana itu temenku..”
Satomi : ”Oh..”
Maki    : “Kamu pergi sama siapa?”
Satomi : “Aku perginya sendiri.”
Maki    : “Hm, gitu ya..”
Satomi : “Eh liat! Perempuan yang pake baju putih itu imut ya?”
Maki    : “Iya, dia itu Haruka. Haruka itu istrinya temenku. Istrinya Yamato. Nah Yamato itu yang ada di sebelahnya Haruka.”
Satomi : “Kalo perempuan yang itu temenmu juga kah?”
Maki    : “Iya bener. Namanya Rika.”
Satomi : “Badannya Rika tinggi ya..”
Maki    : “Yup, tapi Mia lebih tinggi daripada Rika lho..”
Satomi : “Mia itu siapa?”
Maki    : “Mia itu perempuan yang ada di belakangnya Rika. Perempuan yang pake baju biru. Mia itu adik perempuannya Rika. Mereka itu temenku sejak kecil.”
Satomi : “Iyakah? Rika dan Mia itu orangnya kayak gimana?”
Maki    : “Hm gimana ya.. Rika dan Mia itu orang yang ramah. Tapi Mia lebih ramah daripada Rika. Selain itu Mia lebih lincah dan lebih rame.”

Satomi : “Rika itu pendiam ya?”
Maki    : “Yupz. Rika itu orang yang sangat rajin dan cerdas. Rika itu orangnya lembut, kalo Mia orang yang keras kepala.”
Satomi : “Eh ngomong-ngomong minuman ada dimana ya? Aku haus..”
Maki    : “Hm.. Ah, minuman ada di meja sana!”
Satomi : ”Oke, ke sana yuk!”
Maki    : ”Yuk!”
Satomi : ”Aa, ini jus! Mau jus jeruk?”
Maki    : ”Makasih. Bismillah..”
            ”Aa....”
Satomi : ”Ada apa? Kamu nggak suka jus jeruk?”
Maki    : ”Suka banget kok. Cuma jus ini kecut, jadinya aku agak gimanaa gitu..”
Satomi : ”Oh gitu.”
            ”Nih, es krim aja. Manis dan enak banget!”
Maki    : ”Aa, makasih..”
            ”Mmm, enak.. alhamdulillah..”
            ”Btw kamu punya kamera nggak?”
Satomi : ”Ada, nih.. emang kenapa?”
Maki    : ”Mau foto bareng nggak?”
Satomi : ”Ayuk!”


Shukudai- nisen juu ni nen gogatsu juu nana
PR- 17 Mei 2012

Meina Fathimah


Monday, March 26, 2012

UHIBBUKI FILLAH, YAA UMMI..

“Ibu.. sedang apa sih?” sapaku pada suatu siang. Kulihat Ibu asyik melakukan sesuatu di dapur.


“Ini Ibu sedang mengupas rambutan..” jawabnya tersenyum.


“Astaghfirullah Bu.. kurang kerjaan banget sih?” kataku manyun berlagak memarahi Ibu. Ia hanya tertawa kecil mendengar ucapanku.


“Bu, kenapa sih Ibu mau repot-repot melakukan hal yang tidak perlu Ibu lakukan?” protesku kembali. Ya, Ibu memang suka sekali merepotkan diri dengan mengupas buah-buahan untuk kami sekeluarga. Rambutan, mangga, pepaya, dan lain-lain. Yang kemudian dipotong-potong dan ditempatkan di wadah. Siap disantap.


Tak hanya itu, sarapan pun selalu Ibu yang menyiapkan untuk kami. Kenapa sih Ibu mau capek-capek? Toh kami juga bisa mengurus diri sendiri, pikirku. Dan ketika kutanyakan hal itu padanya, ia menjawab, “Inilah bahagianya menjadi seorang ibu. Rasa capek tidak ada apa-apanya jika melihat suami dan anak-anak senang. Besok saat Mei menjadi seorang ibu, Mei akan merasakan sendiri kenikmatannya.”


Sekali lagi aku hanya manyun mendengar jawabannya.


[[]]


Di mataku, Ibu adalah seorang wanita perkasa. Wanita hebat. Sosok idolaku. Siapa sangka jika masa lalunya bisa dikatakan 180 derajat?

Ibu berasal dari keluarga kaya yang tidak terbiasa mengurus rumah tangga sendiri karena parakhadimat (pembantu) senantiasa melayani keperluan sehari-hari. Selepas kuliah, Ibu sukses dengan karirnya sebagai seorang dokter gigi. Meskipun pada akhirnya, demi menjalankan tugas mulia sebagai seorang ibu, ia rela meninggalkan profesi yang sangat dibanggakannya itu. Ibu terpaksa harus mengorbankan karirnya demi mengabdikan diri mendidik kelima putra-putrinya. Namun ia ikhlas.


Di rumah sederhana kami, tidak ada khadimat. Otomatis pekerjaan rumah tangga menjadi tanggung jawab seluruh anggota keluarga. Bertujuh. Ayah, Ibu, aku, dan keempat adikku. Masing-masing dari kami mendapatkan pembagian tugas. Aku kebagian mencuci baju, adikku yang paling besar kebagian jatah membuang sampah, adikku yang lebih kecil kebagian jatah mengurusi dapur, dan lain-lain. Namun sering kali kami mangkir dari tugas yang telah ditetapkan. Apabila kami lalai, Ibu bukannya memarahi kami, sebaliknya justru mengambil alih tugas.


“Ibu nih lho, mbok sekali-kali tegas sama anak-anak Ibu. Kalau ada yang mangkir dari tugas tuh mbokya dimarahin kek atau gimana?” tegurku.


“Ah marah-marah bikin capek, mending Ibu kerjakan sendiri.”


Ibu yang ketika muda dulu adalah anak manja yang tak bisa apa-apa, kini menjelma menjadi wanita super bagi suami dan anak-anaknya. Ibu tak pernah berpangku tangan. Segala keperluan keluarga, Ibu kerjakan sendiri. Tak peduli meski harus bolak-balik mengurus ini dan itu dari satu tempat ke tempat yang lain.


Mbok minta tolong sama aku tho Bu, kan aku bisa bantuin. Bapak dan adik-adik juga bisa kan dimintain tolong? Kan nggak harus Ibu yang mengerjakan semuanya?”


“Nggak ah, kalau Ibu bisa kerjakan sendiri akan Ibu kerjakan sendiri. Toh Ibu masih sehat wal’afiat. Kalau Ibu sakit, barulah Ibu minta tolong..” jawabnya.


Ah.. Ibu terlalu baik, terlalu banyak mengalah, terlalu banyak berkorban untuk kami. Bahkan menurutku, Ibu terlalu mengurusi hal-hal remeh. Terlalu ambil pusing. Sebagai contoh lain, ia tidak mau tidur kalau masih ada anaknya yang belum pulang hingga larut. Kadang aku sampai memarahinya.


Mbok udah tho, Ibu tidur saja. Biar Mei yang nungguin adik pulang..” bujukku.


“Nggak ah, Ibu nggak bisa tenang kalau ada anak Ibu yang belum pulang..”


Dalam urusan makanan pun, Ibu selalu mendahulukan suami dan anak-anaknya. Ia rela mendapatkan sisa, bahkan jika tidak kebagian sekalipun tidak menjadi masalah baginya.


“Ah waktu muda dulu, Ibu udah terlalu sering makan enak. Udah cukup lah..” kata Ibu beralasan.


“Udah makan aja, Ibu malas makan. Sudah kenyang..” kata Ibu di kesempatan lain.


[[]]


Perjalananku menjadi seorang ibu mungkin masih jauh. Namun telah banyak pelajaran yang aku dapatkan dari Ibuku tercinta. Padaku ia berpesan bahwa seorang ibu itu haruslah serba bisa.Supermom. Darinya aku belajar tegar dan mandiri. Dari ia pulalah aku belajar mengalah, sabar, ikhlas, dan rela berkorban.


Ya Allah, aku sayang Ibuku. Tolong sayangilah Ibu seperti ia menyayangiku sedari kecil. Lindungilah ia dengan kasih sayang-Mu. Jagalah ia dengan sebaik-baik penjagaan-Mu. Aamiin..


Uhibbuki fillah, yaa Ummi..



Yogyakarta, 19 Desember 2011

Meidwinna Vania Michiani

(Meina Fathimah)

http://www.meidwinna.blogspot.com


*Cerita ini dalam rangka mengikuti kisah pendek The Great Power of Mother Pro-U Media

http://www.facebook.com/proumedia


KAPAN LULUS?

Aku adalah mahasiswi Teknik Arsitektur tingkat akhir di sebuah universitas negeri yang katanya terkemuka di Indonesia. Tahun keempat. MABA alias mahasiswa bangkotan. Posisi dimana kebanyakan orang mengasumsikannya sebagai tahun wajib lulus. Tahun dimana katanya status kemahasiswaan sudah seharusnya beralih menjadi alumni mahasiswa. Menjadi wisudawan wisudawati. Lulus. Lalu mencari kerja.


“Udah lulus belum?”


“Kapan wisuda nih?”


“Hah, kok belum lulus sih?”


“Mbak belum lulus toh? Awas ntar kuselip lho..”


Pertanyaan demi pertanyaan terus berulang. Teman-teman dari jurusan lain, sanak saudara, hingga orang yang baru kukenal, semua mengajukan pertanyaan sejenis. Pertanyaan klasik. Serupa meski tak sama. Entah itu ekspresi kepedulian ataukah ekspresi cemooh. Dengan bumbu canda maupun serius. Pertanyaan dengan beragam varian hanya untuk meminta kepastian : KAPAN LULUS?


“Kelulusan bagi mahasiswa arsitektur tidak bisa secepat jurusan lain..” jawabku singkat setiap ada yang menanyakan masalah itu. Jawaban yang terkadang aku lengkapi dengan penjelasan panjang lebar mengenai alasanku ‘menunda’ menjemput kelulusan. “Lamanya masa studi di Teknik Arsitektur minimal empat tahun. Delapan semester. Jadi paling cepat lulus ya empat tahun. Tapi umumnya jarang ada mahasiswa yang bisa lulus empat tahun pas. Ada begitu banyak tahapan dan syarat menjalani tugas akhir..”


Pertama, di semester tujuh ada yang namanya Pra Tugas Akhir (Pra TA). Pra TA ini bisa dibilang mirip dengan skripsinya jurusan lain, yaitu menulis laporan yang diakhiri dengan seminar atau sidang. Tahapan ini harus dijalani minimal selama satu semester, belum ditambah dengan revisi atau bahkan mengulang.”


Kedua, tahap Tugas Akhir. Tugas Akhir bisa diambil di semester delapan dengan syarat sudah lulus semua mata kuliah, termasuk Pra TA. Kalau masih ada mata kuliah dengan nilai E, jangan harap bisa mengambil Tugas Akhir. Adapun Tugas Akhir sendiri dibagi menjadi dua tahap, yang masing-masing dijalani selama dua bulan. Transformasi Desain (TD) dan Pengembangan Desain (PD). Produk TD berupa hand drawing hasil mentransformasikan konsep dari Pra TA ke dalam bentuk gambar sketsa. Setelah tahap TD selesai, lengkap dengan seminarnya, baru bisa lanjut ke PD. Produk PD juga berupa gambar seperti TD. Namun bedanya, produk PD adalah gambar kerja dengan komputer. Gambar jadi,fixed, bukan lagi sketsa seperti TD. Proses PD ini berakhir dengan pendadaran yang dilengkapi dengan produk berupa maket. Setelah final pendadaran inilah kami baru bisa yudisium dan wisuda.”


Ada yang percaya dengan penuturanku. Namun ada pula yang mencemooh tak percaya, “halah, paling kamu aja tuh yang malas-malasan..”, tebakku bersu’udzon.


Ah tidak, tidak! Aku tidak boleh berburuk sangka seperti itu. Siapa tahu justru dari mereka lah do’a untukku terkirim. Ya benar. Siapa tahu do’a mereka lah yang membantu melancarkan perjalananku menuju kelulusan. Bukankah do’a seseorang bagi saudaranya tanpa diketahui saudaranya tersebut insya Allah terkabul?1 Berarti, seharusnya aku justru berterima kasih atas pertanyaan-pertanyaan itu.. Ya, karena itu adalah wujud kepedulian mereka kepadaku. Bukankah begitu?


Menyandang status sebagai mahasiswa tahun keempat, pertanyaan-pertanyaan tentang kelulusan menjadi sangat akrab di telingaku. Menghiasi setiap hariku. Melekat bagaikan lem di benakku. Terkadang membuatku gusar. Resah. Jujur, ini cukup membebani pikiran. Aku harus segera lulus, tak ada kompromi. Aku sadar itu. Sangat sadar. Namun aku berusaha bersikap biasa. Berusaha tidak menggubris pandangan-pandangan orang. Berusaha menenangkan hati dan pikiran, berkhusnudzon pada Allah. Kalau sudah waktunya, insya Allah pasti lulus, yakinku. Aku percaya seutuhnya pada ketentuanNya. Layaknya jodoh yang sudah Allah takdirkan, kelulusan pun sudah Allah tentukan. Setiap orang punya jalan hidupnya masing-masing. Percayalah..


---


Di saat kebanyakan orang menggencet-gencet dengan pertanyaan seputar kelulusan, orang tuaku justru tidak pernah sekalipun menuntut untuk segera lulus. “Semua sudah diatur oleh Allah. Kalau sudah tiba waktunya insya Allah ada jalan,” nasehat ibuku mengingatkan setiap kali aku gusar memikirkan kelulusan. Tak pernah ibu protes sedikit pun. Begitu juga ayahku. Bahkan beliau sama sekali tak pernah menyinggung hal itu. Ayah hanya menanyakan kabarku dan tugas akhirku.


Namun sebagai seorang anak, tentu saja aku memikirkan perasaan keduanya. Bukankah setiap orang tua pasti akan lega dan senang melihat anaknya segera lulus? Lulus dengan hasil yang baik tentunya. Jadi, meski kedua orang tuaku tidak pernah mengatakan secara lisan, aku yakin mereka ingin segera melihat putri sulungnya ini segera lulus. Maka tak ada kompromi. Segera selesaikan tugas akhir. Segeralah lulus!!


NB : Buat temen2 yang sedang berikhtiar menjemput kelulusan,jangan patah semangat..ayo kita berjuang!! :)

Masalah kelulusan tentu saja urusan Allah. Meski memang, usaha atau ikhtiar serta do’a tetap menjadi kunci utama..Bismillah..



Yogyakarta, 14 Desember 2011

Meina Fathimah

www.meidwinna.blogspot.com

#saat ide tugas akhir tak kunjung hadir#


Berhati-hatilah Ketika Hendak Membeli Bensin



Kejadian naas itu (rada lebay sih) terjadi Senin sore tanggal 12 Desember 2011 di salah satu pom bensin di sudut kota Sleman. Musibah ini menimpa seorang mahasiswi Teknik Arsitektur UGM yang tak lain dan tak bukan adalah aku sendiri.

---

Kejenuhan rutinitas mendekam di studio tugas akhir (TA) setiap harinya membuatku selalu merindukan rumah. Home sick. Bagaimana tidak? Setiap jam delapan pagi hingga jam empat sore, para pejuang TA dikarantina di studio yang terletak di lantai dua kampus kami. Kami dipaksa duduk di depan layar PC, menggambar garis demi garis. Ada garis yang lurus, ada yang lengkung, bahkan ada yang patah-patah. (Penting yak?) Dan selama proses karantina itu kami sama sekali tidak diberi minum apalagi makan! (Ya iyalah, kalau mau makan beli sendiri..). Maka ketika sore hari tiba, ketika begitu bel tanda pulang berbunyi (nggak ada belnya kali Dwin!), tanpa pikir panjang kami buas menyerbu pintu keluar bagaikan harimau yang kelaparan. Harimau kelaparan yang berusaha meloloskan diri ke alam liar dari kungkungan ruang berukuran sekian kali sekian (aku lupa ukuran ruangnya) yang mengurung kami bagaikan penjara. Menyedihkan sekali bukan?

Aku, salah satu harimau betina kelaparan yang terpenjara (?), tak luput dari perilaku menyedihkan itu. Sore itu pun aku yang sangat merindukan alam liar eh maksudku merindukan rumah segera angkat kaki dari studio. Berlari secepat angin menuju tempat kumenambatkan mustang (baca : sepeda motor) kesayanganku, si Putih.

Pulang! Pulang! Pulang! Rumah! Rumah! Rumah! Hanya itulah yang memenuhi benakku sore itu. Namun rupanya, aku perlu menahan sedikit keinginan untuk segera tiba di rumah. Si Putih nampak kelaparan. Maka mampirlah aku di sebuah pom bensin untuk membelikannya pakan.

Wow antri, bo! Pikirku kecewa. Di stasiun khusus pengisian bensin sepeda motor yang terletak di sisi kiri pom terlihat antrian yang sangat panjang. Dalam hitungan detik, kedua tanganku refleks membelokkan si Putih ke kanan setelah memergoki adanya stasiun pengisian bensin untuk sepeda motor di sisi lain yang sangat lengang. Ya ampun orang-orang itu pada ngapain sih antri panjang-panjang di sebelah sana, wong di sebelah sini sepi. Pikirku polos (atau bodoh?) tanpa curiga sambil membuka tutup tangki bensin si Putih.

Si Putih makan dengan lahapnya saat mas-mas petugas pom bensin menyodorkan bensin padanya. Sementara aku dengan sabar menungguinya.

Tiba-tiba mataku tertuju pada layar yang menampilkan digit angka yang perlu kukeluarkan untuk membayar pakan si Putih. What?! Tiga puluh ribu? tanyaku dalam hati. Kaget.

“Anu Mas, tadi ngisinya nggak dari nol ya?” protesku pada si Petugas.

“Kan harga seliternya delapan ribu, Mbak..” jelasnya. Sementara digit-digit angka di layar harga terus bertambah.

“Hah?”

“Pertamax..” si Petugas kembali menjelaskan. Tepat saat angka harga berhenti di tiga puluh empat ribu.

ARRGGGHHHH!!! Kenapa nggak bilang sejak awal sih Mas??? Bilang donk!! Mana gue tempe kalau ini stasiun untuk pengisian Pertamax??!!
Mana belinya full tank pula!!? Teriakku keras-keras (tapi dalam hati dink) sambil membuka dompetku. Dan..

Oh No!! Teriakku sekali lagi (masih di dalam hati). Hanya ada lima lembar uang lima ribuan yang tersisa di dompet. Aku baru ingat, uang telah kuhabiskan untuk membeli kertas kalkir dengan hanya menyisakan dua puluh lima ribu rupiah. Jumlah yang lebih dari cukup untuk sekedar membeli premiumfull tank.

”A..a..anu mas, duit saya kurang.. i..ii.iini cuma ada dua puluh lima ribu..” kataku kemudian sambil terbata-bata. Panik (aslinya sih aku tetep stay cool gitu, tapi biar lebih ngena ke pembaca kubikin lebay gitu dehhh..).

“Saya bayar segini dulu, Mas. Setelah ini saya mau mencari bala bantuan dulu. Saya nggak kabur kok Mas..” lanjutku.

“Iya, Mbak..” jawabnya dengan nada mi-fa-mi. (nggak penting banget sih?)

“Saya parkirin motor saya di sebelah sono ya Mas..”

“Iya, Mbak..” jawabnya lagi (kali ini pun dengan nada mi-fa-mi) sambil menyodorkan selembar uang seribu. “Ini saya kembalikan seribu. Biar kekurangannya pas sepuluh ribu.”

“...”

---

Beberapa menit yang lalu, aku berhasil mengontak ibu setelah sebelumnya gagal mengontak adik tertuaku, Benk (bukan nama sebenarnya).

“Ibu sudah bilang Benk. Nanti dia yang nyusulin duit ke sana,” kata ibu mengakhiri perbincangan kami di telepon.

Menunggu. Hanya itu yang bisa kulakukan saat itu. Sementara rintik-rintik hujan mulai turun membasahi jilbab merah jambu yang kukenakan. Ah, rupanya langit pun ikut menangisi kemalanganku. Apakah langit ataukah Miss Gumiho si Siluman Rubah Betina yang menangis? Lho kok malah nyambung ke Gumiho sih?

Kubiarkan saja tetes-tetes air hujan yang lembut membelai tubuhku. (Mellow yak? Nggak juga sih, seru aja main hujan-hujanan. Lagian cuma gerimis kok.. :-P) Sementara tanganku mulai sibuk beralih pada ponsel mungilku. Mengetikkan huruf demi huruf pada layarnya. Bosen sih.. adikku belum dateng-dateng. Makanya aku sms temenku aja deh. Curhat.

Pada saat yang bersamaan, para petugas pom bensin yang sedang ngeyup tampaknya mulai resah melihat tingkahku. Iba. Yes! Strategiku berhasil! Eh?? Dari kejauhan kulihat salah seorang dari mereka berjalan ke arahku sambil memasang ekspresi : mesakke men to, cah wedok dhewean, udan-udanan.. Mungkin itulah yang dipikirkan si Petugas, tebakku asal (ge-er banget sih?).

”Mbak..” sapanya.

”Ya?”

”Mbak kurang sepuluh ribu ya?” tanyanya sopan.

”Iya, Mas..”

”Gini aja, Mbak ngutang dulu nggak papa kok.. Lebih baik Mbak sekarang pulang aja. Hujan..” katanya dengan melemparkan sorot mata kasihan.

”Beneran Mbak.. Mbak pulang aja, besok ke sini lagi. Boleh ngutang dulu kok. Seminggu..” lanjutnya. Ngotot.
”Nggak usah, Mas. Saya mau nunggu aja,” tegasku.

”Ya udah deh Mbak.. tapi ini hujan lho soalnya..” ujarnya menyerah sambil pergi meninggalkanku.

---

Dan.. Penantianku berujung indah. Adikku datang dengan mustang merahnya. ”Nih..” katanya sambil menyodorkan selembar uang lima puluh ribuan padaku.

”Hehe..” aku meringis menerima pemberiannya, ”makasih..”

Segera kuberlari menghampiri salah seorang petugas sambil menyerahkan uang tersebut. Alhamdulillah.. no debt anymore.. J

---

Tahukah Anda? Peristiwa naas di atas sebenarnya bukanlah yang pertama. Namun itu adalah kali kedua tertahannya aku di pom bensin. Lalu bagaimana kronologis kejadian yang pertama?

Alkisah. Bertahun-tahun yang lalu, pengalaman pertama terjadi gara-gara alasan yang lebih tidak masuk akal. Ketika itu, berbekal selembar uang seratus ribu, aku mampir di sebuah pom bensin. Aku percaya diri. Namun pada saat hendak membayar...

”Maaf Mbak, ini uangnya udah nggak laku..” kata si Petugas.

”Maksudnya?”

”Uangnya udah nggak laku..” ulangnya lagi.

”Hah, masa sih?” tanyaku tak percaya.

”Iya Mbak..”

”Lha trus?” aku masih tidak percaya.

”Yang dipakai sekarang yang ini..” ujarnya lagi sambil memperlihatkan selembar uang seratus ribuan yang berbeda dengan lembaran milikku.

”Masa sih Bu yang ini udah nggak laku??” tanyaku ngotot.

”Iya Mbak, uangnya Mbak udah lama ditarik dari peredaran..”

”Tapi...” (puyeng)

Alhamdulillah, ketika itu aku bisa lolos setelah mendapat bala bantuan dari seorang teman. Kebetulan peristiwa itu terjadi tak jauh dari rumah salah seorang teman.. Fyuuhh..

Jadi, hikmah apa yang bisa diambil dari kisahku? Silakan dimaknai sendiri-sendiri. Dan jangan lupa, BERHATI-HATILAH KETIKA HENDAK MEMBELI BENSIN jika tidak mau berakhir sepertiku.. Oke?


Yogyakarta, 13 Desember 2011
Meina Fathimah
www.meidwinna.blogspot.com
#edisi galau tugas akhir#
#Kisah ini tentu saja diangkat dari kisah nyata yang ditambahi sedikit bahkan sangat banyak bumbu-bumbu lebay. Harap maklum, efek samping dari tugas akhir.. So, jangan percayai kisah ini 100% atau anda akan tertipu.. (apa sih, Dwin??) So.. ini kisahku, mana kisahmu? (malah iklan)#

Assalamu'alaykum warahmatullahi wabarakatuh...

(Puji syukur kehadirat Allah yang masih memberikan nikmat iman dan Islam pada diri ini..)

Selamat datang di blogku yang mungkin hanya berisi secuil pemikiran dan ungkapan isi hati...

Sungguh, kebenaran datangnya hanya dari Allah. Adapun kesalahan datangnya murni dari diri ini. Untuk itu mohon masukan, kritik, dan sarannya serta mohon dimaafkan atas segala kesalahan. Terima kasih. Selamat menikmati. Semoga bermanfaat dan membawa berkah. Amin

(Mulakanlah dengan membaca Basmalah.... dan akhirilah dengan Hamdalah..)