Wednesday, November 27, 2013

My Diaries : The First 2 Months in Japan

PART 1

Hari ini tanggal 27 November 2013. Tepat dua bulan sudah aku berada di sebuah kota bernama Toyohashi. Meski baru dua bulan, ada begitu banyak cerita menarik yang kudapatkan. Banyak fenomena dan momentum yang terlalu sayang untuk tidak diabadikan dalam tulisan. Maka aku pun memutuskan untuk menuangkan pengalaman dua bulan pertamaku di sini....

---

Haha, serius amat sih paragraf pertamanya. Capek juga pake bahasa serius begitu, ganti mode yang agak nyantai deh, hihi. Di tulisan ini aku akan merangkum dengan singkat event-event menarik selama dua bulan pertamaku di sini. Mulai dari welcome party, festival, dll. Banyak banget deh! Karena saking banyaknya, makanya gawat kalo nggak segera didokumentasiin, keburu lupa ntar (sekarang aja memorinya  udah mulai samar-samar gitu). So, sudah siap menyimak? Here we go!


Recycling Day (Kaikan, 3 Oktober 2013)
Recycling Day? Apaan tuh? Itu adalah hari dimana kami bagaikan memulung barang-barang bekas, mulai dari tempat tidur, lemari, sepeda, peralatan elektronik, hingga segala macam peralatan dapur. Di acara itu kami saling berebut barang yang diinginkan. Serius!

Hm, sebenernya nggak rebutan beneran sih. Jadi nih prosedurnya, semacam pelelangan gitu. Pertama, panitia menunjuk barang yang akan diperebutkan, misal TV. Siapa yang mau langsung angkat tangan. Nah yang kepengen tuh TV kan mestinya nggak cuma satu orang, so mereka yang bersangkutan akan diberi tantangan. Mereka-mereka akan saling dipertarungkan. Bukan tarung adu jotos gitu sih, tapi jan kem pon alias suit a.k.a pingsut ala Jepang. Penantang terakhir yang berhasil mengalahkan lawan-lawannya lah yang berhak mendapatkan si barang idaman tersebut. Kalo barang pertama dah laku, lalu berlanjut ke barang kedua, ketiga, dan seterusnya.

Mungkin ada yang berpikir begini. "Idiih, barang bekas. Amit-amit deh!"
Jangan salah, di sini yang namanya barang bekas bukan berarti rongsokan. Meskipun bekas, barang-barang terebut masih dalam kondisi bagus dan layak pakai. Beneran bagus, nggak pake acara nipu-nipu segala kok. Ini Jepang gitu lho! Nipu? Gengsi lah!

Sekedar info, berebut barang bekas alias second di sini bukan sesuatu yang memalukan. Hal itu sudah menjadi sesuatu yang biasa. Mulai dari baju bekas hingga elektronik. Ada lho toko yang khusus menjual barang second (my favorite destination banget lah!).

Di Jepang, membuang peralatan elektronik dan barang-barang bekas itu biasanya malah dikenai biaya yang nggak sedikit. So, beberapa orang pun berpikir daripada harus bayar mahal, mending dikasihin orang lain. Simbiosis mutualisme kan, sama-sama seneng, sama-sama enak. Hehe....

Di hari itu aku tentunya juga punya barang inceran dong. Maklum, diriku kan dateng ke Jepang dengan barang bawaan seadanya. Mumpung ada obral barang bagus gratis, kenapa enggak? Kesempatan yang pastinya sayang untuk dilewatkan!

Dan, alhamdulillah... dari recycling day aku dapet beberapa barang. Yang pertama adalah microwave. Sebenernya aku udah kebagian microwave sih dari temen-temen PPI. Tapi karena kegedean, aku pengen ganti sama yang agak kecilan. Terus yang kedua dapet TV. Kalo soal TV, ceritanya panjang.

Jadi begini nih. Sebenernya aku nggak ngincer TV. Realistis aja, kamarku kan cuma kecil bakal ribet kalo kebanyakan barang. Tapi kebetulan ada temenku orang Indonesia yang ketiban hoki berupa TV dari Recycling Day itu, padahal dia udah punya TV. Nah berhubung dapet TV yang lebih seksi dan mempesona, dia berencana membuang TV lamanya dengan menawarkan ke temen-temen Indonesia lainnya.  Tapi entah kenapa nggak ada satupun yang bersedia menerima tawaran itu dengan alasan yang mungkin kurang lebih sama kayak aku. Jelas aja, you know what, tu TV ukurannya segedhe gaban! Akhirnya jadilah ia terbengkalai tanpa ada yang menampung.

Tapi, yah, bukan aku namanya kalo tega ngeliat suatu kemubadziran. Dengan berat hati (padahal senengnya selangiiitt!!) kuadopsi TV itu dengan membawanya ke kamar sempitku. (Makasih buat temenku yang udah berbaik hati ngangkatin TV sendirian dari lantai 1 ke kamarku di lantai 3).

Bismillah, semoga berkah ya... :)


Welcome Party (Kaikan, 5 Oktober 2013)
Kalo nggak salah inget, ini adalah event pertama yang kuikuti di sini setelah Recycling Day (itu mah namanya bukan pertama kali tauk!). Eh sebelumnya ada event lain dink di hari keduaku dateng ke Jepang, KOCA namanya. Aku lupa itu singkatan dari apaan, yang jelas itu semacam tradisi presentasi ilmiah dari PPI-TY (Persatuan Pelajar Indonesia Toyohashi). Waktu itu aku sih cuma dateng aja ikut nonton, sambil kenalan sama temen-temen PPI-TY lah ya. Anak baru gitu, setor muka dulu deh sama senior.... :P

Oke, well, back to Welcome Party. Acara dilangsungkan bakda Maghrib di ruang pingpong Kaikan. Kaikan adalah sebutan lain dari International House, asrama milik kampus khusus mahasiswa internasional, tempat kami tinggal. Sesuai dengan namanya, acara ini dibikin untuk menyambut para penghuni baru asarama dari berbagai macam negara, mulai dari Indonesia, Malaysia, Turki, Afghanistan, Belanda, Belgia, Meksiko, dan Rumania. Dan namanya juga welcome party, so acaranya ya gitu-gitu aja sih. Perkenalan, makan, games, diiringi dengan musik.


Oya, ada sedikit hal yang menarik buatku. Perlahan aku mulai memahami kalo Jepang adalah negara yang bisa menghormati keyakinan setiap orang. Di acara ini contohnya. Panitia mengupayakan untuk menyajikan makanan yang aman dimakan untuk para Muslim. Well, meski mereka nggak sepenuhnya paham dengan maksud dari makanan HALAL sih (sebagian dari mereka mengartikan halal hanya sebatas tanpa kandungan babi dan alkohol). Tapi setidaknya, upaya mereka untuk menyediakan makanan halal patut diacungi jempol.


Gikadaisai (TUT, 12-13 Oktober 2013)
Gikadaisai, alias TUT Festival (buat yang belum tau, TUT itu nama kampusku, kepanjangan dari Toyohashi University of Technology). Festival kampus gitu deh... kalo kubilang sih semacam bazar gitu yang dimeriahkan dengan beberapa pertunjukan on stage. Acara ini dibuka untuk umum. Siapa aja boleh dateng.

Nah di acara ini, tiap-tiap warga kampus diberi kesempatan untuk berpartisipasi. Dan kami, keluarga PPI -TY nggak mau ketinggalan dong! Kami pun membuat stan yang diberi nama "Indonesian Village."

Stan kami menjual makanan khas nusantara dan juga suvenir. Nggak cuma itu, kami juga membuka semacam photo corner buat mereka yang mau foto dengan kostum tradisional Indonesia.


Nggak tau gimana ceritanya, selama gikadaisai aku kebagian jualan suvenir. Mana seringnya sendirian pula! Padahal bahasa Jepangku acak adut, jadi kadang komunikasinya pake bahasa tarzan. Dan kalo udah darurat, baru deh terpaksa nyeret temenku buat bantuin ngomong, hihi.

Selain punya spesialisasi baru sebagai penjual suvenir, aku jadi tukang make up dadakan. Bukan make up sih sebenernya, penata kostum lebih tepatnya. Lha abisnya selalu aku deh yang disuruh makein kostum buat pengunjung yang pengen foto pake baju adat. Padahal tau cara makenya aja enggak! Jadi ya terpaksa belajar dadakan. Yah, lumayan lah dapet ilmu baru. Dan hasilnya nggak jelek-jelek amat kok! Hehe, mau coba? ^_^

Hm, ternyata baju Minang paling laku di antara baju-baju adat lainnya. Mungkin karena baju Minang itu unik dan "ribet" makanya paling menarik.


Ada beberapa hal menarik yang kudapatkan dari acara ini. Tapi cuma keinget dua nih, maklum nggak langsung kutulis sih, hiks....

Yang pertama adalah masalah kebersihan. Meskipun pengunjungnya banyak, tapi kebersihan lokasi tetap terjaga. Nggak ada tuh yang namanya sampah bertebaran dimana-mana. Kalopun ternyata ada sampah tercecer, itu karena terbawa angin. Maklum, angin di Toyohashi kencengnya parah. Tapi itupun nggak banyak.

Yang kedua, higienitas. Lha apa bedanya sama kebersihan? Hihi, maksudku higienitas makanan. Panitia sangat menjaga kualitas dan higienitas makanan yang dijual di acara tersebut. Buat orang Indonesia yang terbiasa agak jorok untuk urusan makanan, mungkin ini sesuatu yang merepotkan. Gimana enggak, apa-apa diatur. Misalnya nih, saat mengolah makanan, tangan nggak boleh bersentuhan langsung dengan makanan. Lha trus pake apa donk? Pake sarung plastik. Di Indonesia mah boro-boro... tangan bekas megang duit lusuh aja dipake buat ngublek-ngublek makanan.

Panitia bahkan menyediakan cairan antiseptik atau apalah namanya buat mensterilkan tangan. Keren nggak tuh? Oya satu lagi, makanan yang disajikan harus "fresh from the oven" . Dengan kata lain adalah makanan yang diolah hari itu juga, bukan yang makanan kemarin. Nah lho... ribet banget ya? Ah kalo kata aku nggak juga. For me, it's really amazing! Nice.

Well, udahan dulu ah pembahasan tentang Gikadaisai. Terakhir, kututup dengan sebuah video hasil rekamanku. Check this out!

(Eh aduh, ini videonya gagal dimuat. Ntar kapan-kapan deh insya Allah menyusul yak!)

Idul Adha (15 Oktober 2013)
Alhamdulillah, meskipun hidup di negeri dimana Muslim menjadi minoritas, aku pun bisa merasakan hari raya. Pagi-pagi udah berangkat ke masjid tempat dilaksanakannya sholat ied. Setauku sih, shalat hari raya itu lebih utama dilaksanakan di lapangan terbuka. Tapi di sini nggak ada lapangan yang available, so di masjid pun nggak masalah. Ada masjid aja udah bersyukur kok!

Shalat ied dipimpin oleh imam yang entah dari mana aku lupa, tapi sih kayaknya daerah Timur Tengah deh. Selama shalat ied berlangsung, aku cuma duduk di belakang shaf perempuan. Yah, belum rezekinya nih shalat ied di negeri orang. Nggak papa lah, insya Allah masih ada lain waktu, hehe.

Tapi, nggak sholatnya aku nggak mengurangi suka citanya lebaran. Ketemu saudara-saudara Muslim dari berbagai negara, gimana nggak seneng? Muslim gathering. Ngobrol sambil menikmati hidangan dari berbagai macam negara, masakan buatan masing-masing untuk dimakan rame-rame. Asik nggak tuh? Tapi ya, ehem, aku sih nggak bawa makanan. Maklum, anak baru.... :3

Selese sholat ied, aku cuma sempet nimbrung dan makan sebentar. Sebenernya pengeennn banget lama-lama di sana. Sayangnya, keburu ada kelas pagi. So, terpaksa deh nggak bisa ikutan gathering-nya sampe akhir. Tapi aku nggak perlu terlalu bersedih hati, karena di malam hari raya ada undangan gathering yang lain. Keluarga Indonesia. Horee!!

Masih dalam nuansa Idul Adha, beberapa hari kemudian, ada kiriman mendadak berupa daging sapi. Padahal aku kan nggak qurban lho. Ternyata daging itu dari salah seorang keluarga PPI-TY yang berqurban, trus dibagi deh ke kita-kita. Alhamdulillah....

Tapi hebatnya aku (kepedean mode: ON), meskipun gak bisa masak, tuh daging berhasil kuubah menjadi masakan lho! Hehe. Bermodalkan bumbu kare instan kiriman dari ibu, jadilah sepanci kare daging sapi yang cukup untuk dimakan rame-rame sama tetangga. Well, rasanya sih nggak oke-oke banget, tapi alhamdulillah habis dimakan sama mereka tanpa ada yang protes tentang gimana rasanya dan penampilannya yang acak adut... ^_^ Success!!


Indonesian Welcome Party (Kaikan, 19 Oktober 2013)
There was another welcome party! Kali ini welcome party internal keluarga Indonesia aja. Seru sih, asik. Jadi semakin kenal sama keluarga baruku di sini.

Tapi, I will be blunt aja deh. Yang namanya welcome party adalah untuk menyambut tamu baru, dimana seharusnya mereka diservis (emang sepeda diservis?) sedemikian rupa oleh para pendahulu, kan? Tapi hebatnya orang Indonesia, anak baru malah dibebani jadi panitia. Aku yang nggak bisa masak ini  tanpa babibu ditunjuk sebagai koordinator tim masak. Mantep nggak tuh? No offense. Jadi semacam OSPEK gitu. Sebenernya sih kalo aku, nggak masalah karena dengan begitu aku malah tertantang untuk belajar dan menjajal kemampuan memasak. Tapi kalo welcome party sengaja di-setting sebagai OSPEK itu lain cerita.

Well, yeah... aku rada sensitif kalo ngomongin soal itu. Maklum dari dulu nggak pernah suka sama budaya orang Indonesia yang namanya OSPEK. Berdalih mendewasakan, buatku itu nggak beda sama yang namanya penjajahan. Hanya menciptakan generasi yang menyukai penindasan dan tunduk dalam ketakutan. (Haduh, aku nih ngomong apa sih? Gini deh kalo udah ngomongin OSPEK, jadi terbawa esmosi.)

Hm, dari welcome party, jadi malah ngomongin OSPEK. Ya udah lah, daripada makin panas dan makin melenceng kusudahi aja deh bahasanku tentang ini, hehe. Let's continue to the next story!

Toyohashi Festival (Toyohashi City, 19 Oktober 2013)
Malam harinya, di hari yang sama dengan Indonesian welcome party, ada acara lagi yang namanya Toyohashi Festival. Aku nggak terlalu paham awalnya, cuma diajakin temenku aja buat ngeramein. Katanya ntar kami disuruh ikutan nari dalam parade, semacam flash mob gitu lah. Akhirnya kuiyain aja, mumpung di Jepang, jadi bisa mengenal budaya dan kehidupan setempat lebih dekat.

Untuk menuju lokasi, yaitu Toyohashi City, kami berangkat bareng-bareng naik mobil ke stasiun buat pindah kereta. Sebenernya dalam kondisi normal, lokasi bisa dicapai dengan mobil atau bus. Tapi karena ada festival, dikhawatirkan bakal kena macet dan nggak kedapetan tempat parkir.

Sampe di lokasi, kami hampir telat. Duh, malu. Segera kostum yukata dari panitia kami pake dengan cepat lalu bergabung dengan barisan. Then we started the dance!

Kami nari di jalanan sekitar satu setengah jam lamanya, di bawah guyuran hujan yang mulai turun membasahi kami. Tapi hebatnya, hujan nggak menghentikan parade. Acara tetep jalan setelah panitia bagi-bagi mantel plastik.

Sekitar jam 20.30 parade berakhir, banzai!! Setelah itu kami nggak langsung pulang, karena mau ditraktir makan malem sama panitianya. Fufufufuu, itadakimasu!

Sekedar info, kalo kata sensei, ada secara garis besar ada dua jenis festival atau matsuri di Jepang. Yang pertama adalah pemujaan terhadap dewa, dan satu lagi adalah festival biasa yang diadakan oleh pemerintah atau organisasi setempat. Nah makanya itu harus itu harus hati-hati. Tapi tenang, insya Allah, Toyohashi Festival yang aku ikutin ini termasuk kategori yang kedua kok (menurut sensei sih, semoga bener).

Tahara Festival (Tahara, 27 Oktober 2013)
Ada pengumuman baru di website universitas: Tahara Festival. Kampus membuka lowongan buat mahasiswa internasional yang mau berpartisipasi dalam acara di kota Tahara tersebut. Festival itu nanti, para peserta akan mengikuti parade dengan memakai pakaian nasional. Wow!! Kalo urusan ini mah, Indonesia jagonya. You know what, dari total peserta yang mendaftar, bisa dibilang 98% persennya adalah orang Indonesia. Yah, sekitar 20 orang lah yang ikutan. Mantafff....

Ehm, meskipun aku orang Jawa, tapi di festival kali ini aku pake baju daerah lain. Habisnya aku nggak bawa kebaya sendiri dari Indonesia sih. Alhasil kupinjem aja tuh koleksi baju adat punya PPI-TY. Dan atas rekomendasi temen, pilihanku pun jatuh pada baju adat Minang. Yaa, boleh lah....

Tapi apesnya aku, tuh baju ada pasangannya. Padahal baju Minang yang kupake itu kan baju pengantin. Duh, gawat, aku kan masih single! (Apa hubungannya coba?)

Hari-H festival, para peserta berangkat bareng naik bus yang disediain sama kampus. Sebelum turun ke jalan, kami diampirin ke suatu tempat buat ganti kostum. Daannn, kostum yang paling ribet ada kostum pilihanku, terutama di bagian sanggulnya. Harus dipasang kuat-kuat, kalo nggak bakalan rubuh tuh.

Selesai berganti kostum, kami segera bergabung ke rombongan parade lain. Yah, paradenya mirip-miriplah sama Toyohashi Festival. Bedanya, di festival kali ini kami cuma jalan aja, nggak pake acara nari-nari. Nggak kebayang deh kalo harus nari pake baju Minang begitu. Cuma jalan biasa aja udah pengen nangis. Dikit-dikit aku harus megangin sanggul setiap kali angin bertiup. (Kalo kata temenku, sanggul taifun cakrawala! Hihi....) Lalu dikit-dikit ngebenerin sanggul yang mulai miring-miring nggak karuan. Belum lagi bawahan roknya yang mulai ikutan mencong-mencong. Arghhh!!!!

Parade pun berakhir setelah berlalu sekitar dua jam (bener nggak ya?). Uwhh, rasanya lega banget deh begitu acaranya selesai dan ganti kostum. Berasa melepas beban berat di hati, halah.


Well, terlepas dari ribetnya kostumku, pengalaman baru dan menyenangkan kudapatkan dari festival tersebut. It was interesting! See you on the next festival! ^_^


To be continued....


Meidwinna Saptoadi
Kaikan, 27 November 2013 23:58
Malam hari di musim gugur yang mulai mendingin....
Udah lama banget aku menduakan blogku demi kesenangan baru yang berdalihkan kesibukan. Sejak bulan September tanggal 27 lalu, kehidupan baruku di kota Toyohashi, Jepang telah dimulai. Namanya juga orang pindahan, sibuk belanja ini itu. Sibuk me-layout kamar baru dengan perabotan-perabotan dan "hiasan" di sana sini. Maklum, ini pertama kalinya aku hidup sendiri. Pertama kalinya aku mengurusi apa-apanya sendiri. Jadi wajar saja, kalau out of control.

Well, udah dua bulan lamanya sejak aku meninggalkan tanah air. Nggak kerasa ya? Tapi kenapa juga masih belum nulis blog? Sibuk? Ah, itu hanya alasan yang dibuat-buat aja kan, Mei? Jujur aja, semua lebih dikarenakan males kan?

Huff, bener. :( Kesenangan dan kehidupan "foya-foya"-ku telah merenggut passion menulis. Halloo... kemana idealismemu selama ini? Kamu bilang, menulis itu adalah energi. Kamu bilang berbagi cerita kepada orang lain lewat tulisan adalah cinta dan hikmah. Apa kamu rela melewatkan cerita-cerita serumu di Jepang tanpa mengabadikannya lewat tulisan dan berbagi kepada dunia? Dan... tidakkah kamu ingat pernah berjanji pada diri sendiri untuk terus menulis blog selama di Negeri Sakura agar bisa menceritakan kisahmu kepada keluarga di tanah air? Apa semua itu hanya omong kosong?

Yosh!
Bismillah, ayo nulis!


Toyohashi, 27 November 2013
Meidwinna Saptoadi

Monday, September 2, 2013

BUKU BARU: CATATAN AKTIVIS KAMPUS BIRU

MILIKI SEGERA BUKU INI!

"CATATAN AKTIVIS KAMPUS BIRU"





Friday, August 16, 2013

Cellphones in Japan

These are references for using cellphones in Japan:
1. http://www.insidejapantours.com/frequently-asked-questions/faq#mobile
2. travel.stackexchange.com/questions/3490/cell-phones-in-japan

Want to know about quad-band? This is it:
http://www.techopedia.com/definition/24270/quad-band

If any of you have information about cellphones in Japan, please tell me... Thanks.. :)

Tuesday, July 23, 2013

Kuper


Pernahkah kalian ngerasa jadi orang paling kuper?
Aku pernah. Nggak kuper-kuper amat sih sebenarnya, tapi seenggaknya ngerasa “cukup” kuper. Kisah itu terjadi beberapa tahun silam, sekitar permulaan aku bergabung di dakwah kampus.

---

Awal bergabung dengan dakwah kampus, kurasakan benar adanya perbedaan level “otak” yang sangat besar. Gimana enggak? Di sana sini kutemui percakapan high class ala aktivis dakwah kampus yang benar-benar nggak kumengerti. Aku, yang masih baru di dakwah kampus kala itu, seolah menjadi anak kuper. Paling bodoh dan serba nggak tahu apa-apa.

“Apa tujuan dakwah kita?” Sebuah pertanyaan retoris dilontarkan sang pimpinan mengawali suatu rapat sore hari itu.

Memang apa sih tujuan dakwah? Tanyaku dalam hati.

“Sudahkah kita bermimpi akan seperti apakah kultur kampus yang ideal? Sudahkah pula kita menyusun rencana jangka panjang 10 tahun ke depan?” lanjutnya.

Mimpi sepuluh tahun ke depan? Mimpi satu tahun ke depan aja aku belum yakin. Yang realistis aja deh....

“Jangan memandang sebelah mata pada kekuatan mimpi. Seorang pemimpi akan selalu mempunyai cita-cita yang besar, sedangkan seseorang yang hanya memandang realita adalah seorang pesimis!”

Jleb! Kata-kata itu seolah ditujukan kepadaku.

“Untuk itulah kita di sini, bersama-sama merumuskan sebuah grand design untuk kampus yang islami. Oke, sekarang kita mulai dengan analisis lapangan. Bla… bla… bla….”

Dakwah kampus. Serius deh, anak kuper ini cuma bisa melongo menyimak pembicaraan itu. Bagiku, pembicaraan itu ibarat ndengerin orang bicara bahasa Korea, bahasa India, atau bahkan bahasa Tarzan… ra dong blas! Tapi, mau nggak mau, pembicaraan itu menjadi –mungkin– makanan sehari-hari di dunia dakwah kampus, entah itu di kajian, forum liqo, maupun rapat.

Awalnya sih aku suka pasang tampang sok ngerti aja. Jaim gitu. Tapi lama-lama risih juga. Gatel juga kan jadi orang bego sendiri.

“Eh sebenernya tadi tuh rapatnya ngebahas apa sih?” bisikku pada peserta lainnya seusai rapat. Sementara yang ditanya hanya bisa bengong memandangku.

---

Nggak jarang pula gendang telinga ini dijejali paksa istilah-istilah dewa alias bahasa langit dalam bahasa Arab. Suatu ketika aku menjadi peserta dalam sebuah kajian, diajakin temen sih katanya biar makin pinter.

“Wah, ternyata pengisi materi kajian kali ini tu Pak Yoyok,” celetuk seorang akhwat, sesaat sebelum orang yang dimaksud maju ke depan.

“Oh ya?” responku.

“Iya, beneran!”

Aku manggut-manggut.

“Eh, tapi… ngomong-ngomong Pak Yoyok tuh siapa sih?” tanyaku kemudian.

Gubrak… masa sih kamu nggak tau? Beliau itu salah seorang sesepuh dakwah kampus kita yang cukup getol dan terkenal loh! Mantan ketua BEM fakultas sebelah.”

“Oh…”

Denger namanya aja belum pernah. Jadi, salah siapa? Salah guweehh?? Gumamku dalam hati. Sok-sokan.

Aku pun khusyuk menyimak materi yang disampaikan oleh sang pembicara. Bukan, bukan khusyuk karena menghayati setiap kata demi kata yang terucap. Namun sebaliknya, aku terlalu khusyuk menyetting otak dengan susah payah untuk menyamai frekuensi beliau.

“Perkaya diri kita dengan kafaah keislaman,” pesan Pak Yoyok menutup materi. “Jagalah amalan untuk tetap istimror. Ciptakan bi’ah yang kondusif bagi dakwah.”

Kafaah[1]? Istimror[2]? Bi’ah[3]?

Glek, apapula itu?

Boro-boro bahasa Arab, bahasa Indonesia aja kadang nggak kupahami maksudnya. Dulu pernah sih belajar bahasa Arab, tapi itu waktu masih SD. Paling-paling cuma tahunya haadzaa kitaabun[4], haadzihii tilmiidzah[5], masmuk[6], min aina anta[7], dan lain-lain. Terus pas SMA, berhubung gabung di Rohis (Kerohanian Islam), aku jadi tahu sedikit-sedikit bahasa Arab juga. Tapi kan cuma istilah simpel kayak akhi, ukhti, syukron, afwan…. Udah gitu doang.

---

Minder nggak sih ngerasa jadi orang paling kuper dan bodoh? Yup. Frustasi? Lumayan. Tapi awalnya sih aku nggak terlalu ambil pusing. Kupikir mereka begitu karena mereka adalah aktivis dakwah kampus. Kalau anak aktivis dakwah sekolah pasti beda tuh, gak bakal ada bahasan dewa kayak begitu. Nggak bakal jauh beda sama aku, setidaknya ada kawan senasib lah. Pikirku sok tahu. Rada songong juga sih, tapi pada kenyataan pas dulu masih beramanah di dakwah sekolah, nggak ada tuh yang namanya gagal nyamain frekuensi.

So, santai aja... batinku makin songong.

Tapi....

Ternyata aku salah besar. Terpaksa aku menemui kenyataan bahwa teman-teman aktivis dakwah sekolah pun nggak kalah hebat. Baik itu dari segi materi pembicaraan, bahasa yang digunakan, terlebih lagi soal tsaqofah (wawasan keagamaan). Shock. Aku udah ketinggalan jauh. Aku semakin ngerasa nggak ada apa-apanya dibandingkan dengan mereka semua. Dan ini membuatku semakin nggak nyaman.

Sepertinya ini bukan ranah yang cocok untukku. I felt that it’s a kind of annoyance!

Puncaknya, aku sengaja menghindari pembicaraan dan pertemuan dengan teman-teman, bahkan dengan mereka yang satu jurusan denganku. Ya, aku lebih suka diam memendam masalahku sendiri daripada harus repot-repot menceritakannya pada orang lain. Biar ini menjadi rahasia hati antara Allah dan aku. Itu lebih nyaman bagiku.

Dan...

Bye... bye....

Aku pun menghilang dari peredaran. Hilang, bagaikan ditelan bumi.

                                                                            ---

“Gimana kabarnya, Dek? Udah nyaman dengan amanah di kampus?” sapa Mbak Mur, salah seorang senior di dakwah kampus.

Setelah kucing-kucingan selama berbulan-bulan lamanya, siang itu ia pun berhasil menyergapku untuk sekedar ngobrol. Si tikus pun terpaksa harus tunduk pada si kucing, tak berdaya melepaskan diri dari cengkeramannya. Apa siih?

By the way, mbak lihat kayaknya kamu lagi ada masalah nih? Ada apa, nggak kerasan po?”

“Eh, si Mbak, kenapa tiba-tiba nanyain itu?” ujarku salah tingkah. Gelagapan. Nggak nyaman.

“Kelihatan tuh dari wajahmu….”

“Ah, si Mbak nih, mukaku emang dari dulu udah begini…” sahutku menghindar.

Heran deh, apa emang tampangku kelihatan bermasalah ya? Jadi ingat beberapa hari lalu, sampai-sampai teman akhwatku kirim SMS. Belum lagi ada teman ikhwan yang ikutan nimbrung. Duh, udah kayak terdakwa aja sih… coba lihat deh SMS mereka.

From : Melati
18 Oktober 2009 18:33
Na, anti punya masalah ya? Kadang proses itu butuh waktu untuk memahaminya…. Jalani aja, nggak usah dibikin pusing. Dan lagi, jangan dibuat mikir sendiri.... Banyak diskusi aja ya, Na? Emang ke depan nanti ada banyak amanah yang mesti diselesaikan, sambil gitu bangun kepahaman kita. Oke? Keep hamasah!

From : Melati
22 Oktober 2009 20:40
Na, anti sebenarnya ada masalah apa? Ngomong aja sama kita-kita, curhat aja sama Melati. Kita kan saudara toh? Melati khawatir aja masalah "kecil" ini akan jadi benalu bahkan bom yang mungkin akan membuat siapa aja terpental jauh dari rel kereta dakwah ini.... Kalau ada masalah tolong jangan dipendam, Na. Afwan.

From : Toni
23 Oktober 2009 19:30
Ukhti, gimana kabarnya? Anti ingat pesan saya dulu kan? “Kita bukanlah yang terbaik, tetapi kita adalah orang-orang yang berusaha menjadi lebih baik, bagi dirinya sendiri dan orang lain.” Semangat!

Oke, kembali ke percakapanku dengan Mbak Mur.

Jadi, entah gimana ceritanya, pada akhirnya Mbak Mur berhasil merayuku untuk buka mulut. Padahal sebelumnya aku sempat bersikukuh untuk tetap bungkam walau digoda dengan traktiran sekalipun. Eh?

“Aku ngerasa kurang nyaman di dakwah kampus.” Sebuah pengakuan.

“Kenapa? Nggak suka sama teman-teman dakwah kampus?”

“Eh, ya nggak gitulah, Mbak….”

“Lalu?”

Aku terdiam. Menerawang, mencoba bertanya pada hati mengenai alasan.

“Ealah, ditanyain malah bengong....

Uh... eh... iya Mbak....

Aku meringis.

“Hm, Na pikir… seringkali saat rapat ataupun koordinasi, teman-teman begitu idealis dengan mimpi dan angan yang melambung tinggi…” jawabku akhirnya.

Aku menelan ludah, lalu kembali melanjutkan.

“Aku sering nggak paham dengan apa yang dibicarakan oleh mereka. Pembicaraan itu terlalu berat bagiku. Belum lagi mereka selalu pake bahasa-bahasa Indonesia tingkat tinggi dan bahasa Arab yang bikin pusing tujuh keliling. Padahal aku nggak doyan deh bahasa-bahasa begitu, nih otak nggak bisa kompromi, Mbak. Bakalan ngehang. Serius.”

“Bahkan terkadang aku berpikir mereka menjadi terlalu idealis dan meribetkan hal-hal yang seharusnya bisa diselesaikan dengan mudah.”

Kata-kata meluncur tanpa jeda dari mulutku. Mulus. Selancar jalan tol (padahal jalan tol di jakarta macet kan, ya?) Maklum, kalau udah terlanjur curhat... susah deh diberhentiin!

“Ada lagi, Dek?” dengan gayanya yang santai Mbak Mur kembali menanyaiku.

Aku terdiam.

Haruskah kukatakan semuanya?

Kucoba memutar otak.

“Sebenarnya ada alasan lain, Mbak. Aku minder dengan mereka,” keluhku. “Kok kayaknya mereka tuh sempurna banget gitu. Ibadahnya keren, semangatnya oke, tsaqofah-nya pun luar biasa. Sedangkan aku?”

Ya, kalau masalahnya cuma kendala bahasa tingkat dewa yang digunakan oleh kebanyakan dari mereka, mungkin tidak akan membuatku seminder ini. Tapi, kesempurnaan merekalah yang membuatku frustasi. Mereka terlalu saleh dan sempurna di mataku.

Aku mendesah. Sementara Mbak Mur hanya memandangku dengan sedikit terkekeh.

“Kamu nggak perlu maksain diri untuk berpikir seperti mereka. Be yourself aja. Allah nggak menilai seberapa tinggi idealisme kita, tapi dari seberapa hebat amalan kita. Selain itu, kesimpelan cara berpikirmu mungkin justru menjadi sebuah kekuatan dan kelebihan. Dengan kelebihanmu itu, kamu bisa mengimbangi dan mengingatkan teman-teman untuk tetap memandang realita ketika mereka sudah menjadi terlalu idealis,” komentarnya.

Mbak Mur menepuk-nepuk bahuku.

“Nggak papa Dek, pelan-pelan aja. Ada orang yang belajar dengan cepat, ada juga yang sedikit lambat. Mungkin Dek Na tipe orang yang harus belajar pelan-pelan. Tapi jangan khawatir, itu bukan berarti sebuah kekurangan lho. So, jangan minder. Masih ada kesempatan buat belajar.”

“Iya juga sih, Mbak. Tapi….”

“Udah, nggak usah pakai tapi-tapian.” Kali ini Mbak Mur menabok bahuku agak keras. “Daripada galau terus, mending sekarang langsung action deh!”

Aku mengerutkan dahi. Bau-baunya ada yang nggak beres nih.

“Ayo ikut Mbak ke kajian! Oke?” ia mengerling nakal.

“Heh?”

“Ayo, buruan….”

“Kajian apa, Mbak?”

“Kajian keislaman lah!”

“Sekarang, Mbak?”

“Ya iyalah, masa tahun depan?”

“Tapi… tapi….”

Tanpa babibu, Mbak Mur mengeret paksa lenganku.

Eehhh… aduh, Mbak sabar dong…” aku berusaha menyeimbangkan tubuhku yang terseok-seok.

“Yuukk... berangkaaaaatt!!!”


Meidwinna Saptoadi
Pertengahan Ramadhan 1433 H
(Direvisi pada pertengahan Ramadhan 1434 H)
Kisah ini hanya fiktif belaka yang terinspirasi oleh kisah nyata dengan penambahan di sana sini....





Footnote:
[1] Kompetensi
[2] Kontinyu, konsisten
[3] Lingkungan
[4] Itu buku.
[5] Ini murid (perempuan).
[6] Siapa namamu?
[7] Dari mana asalmu?

Sunday, July 14, 2013

"Katakan Cinta" Edisi Juli with FLP Jogja

Iman bagi ibadah ibarat lidah bagi makanan. #KCJuliFLPJogja

Faktor ruhiyah mempengaruhi produktivitas kita. #KCJuliFLPJogja

Modal utama seorang penulis adalah KEPEKAAN dalam menanggapi setiap peristiwa dengan aksi positif. #KCJuliFLPJogja

Ubahlah kekecewaan menjadi energi positif. #KCJuliFLPJogja

Ada empat tipe orang yang menanggapi peristiwa.
Tipe pertama: tipe orang yang suka mengutuki keadaan.
Tipe kedua: tipe orang yang selalu berpikir dari sisi positif.
Tipe ketiga: tipe orang yang membiarkan semuanya mengalir begitu saja, alias "penikmat takdir".
Tipe keempat: tipe orang yang suka mengeluh, curhat ini itu, curhat sana sini....
So, tipe yang manakah kita?
#KCJuliFLPJogja

Apabila kamu ditimpa sesuatu, katakanlah: "Entah ini berkah atau musibah, tugas saya hanya berprasangka baik pada Allah..." #KCJuliFLPJogja

Ketika Rasulullah saw didzolimi, yang keluar dari mulut beliau adalah DOA... sedangkan yang seringkali keluar dari mulut kita tak lain hanyalah umpatan... #KCJuliFLPJogja

Tulisan yang islami adalah tulisan yang memuat nilai-nilai kebaikan dan mampu memunculkan energi positif bagi sekitar. #KCJuliFLPJogja



Jogja, 14 Juli 2013
"Katakan Cinta" Edisi Juli with FLP Jogja
@Foodcourt UNY

Friday, June 21, 2013

Laskar Walimah



Bulan-bulan menjelang Ramadhan dan sesudahnya, kelihatannya menjadi bulan-bulan tersibuk laskar walimah. Laskar walimah? Ups, maaf aku lupa memperkenalkan diri. Salam kenal, aku adalah seorang aktivis laskar walimah.

Laskar walimah sebenernya cuma sebuah istilah, akal-akalan dari seorang temen untuk melabeli mereka yang rajin menyambangi satu walimah ke walimah lainnya, tanpa dibatasi ruang dan waktu. Nggak peduli seberapa jauh jarak yang mesti dilalui, nggak peduli waktu yang harus ditempuh. Selama masih bisa, berangkat! Begitulah prinsip para laskar walimah, mereka-mereka yang bukan lagi rajin tapi hobi memenuhi undangan walimah dengan berbekal keyakinan, Nggak papalah bersabar sebagai aktivis pendatang walimah, sebelum nantinya jadi orang yang didatangi.

---

Sebenernya kalau dibilang rajin banget sih enggak juga, tapi entah kenapa temen-temen melabeliku sebagai orang yang hobi banget datengin walimah. Sampai-sampai dengan ekstrimnya salah seorang temen membercandaiku begini, Kalau Dwinna nggak dateng, walimahnya nggak afdhol. Paraaaahh, teori yang super sesat -__-

Awalnya saat masih berstatus mahasiswa, aku bukan orang yang rajin banget banget dateng walimah. Selain undangan yang emang belum sebanyak sekarang, kesibukanku di kampus cukup menyita waktu dan perhatian. Padahal, nggak sedikit undangan yang kuterima. (Maaf beribu maaf buat temen-temen yang undangannya tidak berhasil aku penuhi.) Nah, pasca lulus kuliah barulah aku memulai kiprah sebagai aktivis laskar walimah. Aku pun mulai rajin menghadiri walimah. Yah, anggep aja sebagai wujud rasa bersalahku.

Selalu kutekankan pada diri sendiri untuk berusaha memenuhi undangan. Selama masih diberi kesehatan dan kekuatan, tidak alasan untuk nggak dateng (toh masih di Pulau Jawa, deket ini). Biar nggak nyesel atau ngerasa bersalah kemudian. Tapi emang sih, tetep ada pertimbangan-pertimbangan lain semisal budget, kesesuaian waktu, ada enggaknya barengan, dan lain-lain.

Well, aku percaya di dunia ini berlaku hukum karma. Dalam artian begini, kalau kita suka berbuat baik pada orang lain, insya Allah kita pun akan diperlakukan baik pula oleh orang lain. Sementara kalau kita hobinya bikin orang nelangsa, jangan kaget kalau suatu ketika kita dapet perlakuan serupa dari orang lain. Pernah kebayang nggak sih, udah susah-susah bikin acara, eh yang diundang pada nggak dateng? Aku jelas nggak mau dong kalau besok tiba giliranku yang nyebar undangan, eh malah pada nggak dateng. Bisa banjir air mata tujuh hari tujuh malem tuh! So, kalau masih bisa dateng undangan walimahan, kenapa enggak?

Selain itu, kebaikan-kebaikan dari mendatangi undangan walimah kukira nggak sedikit kok. Berikut ini sedikit dari yang berhasil kutemukan. Lets have a look!

  • Dengan mendatangi undangan walimah, kita berarti telah memenuhi hak saudara kita. Memenuhi undangan itu merupakan akhlak sesama muslim kan?
  • Dapet keberkahan dan pahala silaturahmi. Nggak cuma silaturahmi dengan mempelai dan keluarganya aja, tapi juga dengan tamu-tamu lainnya. (Aku jadi saksi hidup yang merasakan efek silaturahmi dari ngedatengin walimah. Nggak jarang pake banget, aku dapet temen baru gara-gara dateng walimah. :P)
  • Kedatangan kita merupakan kebahagiaan bagi si pengundang. Membuat orang lain bahagia itu berpahala kan?
  • Ceritanya nih, si pengundang bahagia dengan kedatangan kita, terus mereka berdoa sama Allah semoga kita-kita yang masih single ini segera nyusul. Eh siapa tau diaminin malaikat, lumayan kan?
  • Selain itu, kalau kita mendoakan kebaikan bagi orang lain, maka doa itu akan berbalik pada kita. Wah, siapa yang nggak mau?
  • Dapet makan gratis. (Ups, ketulis) Haha maaf maaf, kalo yang satu ini sebenernya cuma cipratan rezeki gara-gara dateng walimah, bukan tujuan utama. (Serius, aku dateng walimah bukan buat hunting makan gratis kok! XD)
  • dan lain-lain.

---

Secara pribadi, aku sebenernya punya pertimbangan lainnya. Waktuku di sini kayaknya udah nggak lama lagi. Mumpung aku masih berada di tanah air ini, puas-puasin deh datengin undangan walimah temen. Ntar kalau udah berpindah posisi ke Negeri Sakura, dipastikan bakal repot kalau harus balik ke sini buat ngedatengin walimah. Ya nggak? So, buat temen-temen yang masih single, ayo kapan segera menyusul? Mumpung aku masih di Jogja lho. ^o^d *pede mode: on*

Oiya sebagai penutup, ada sedikit intermezzo nih. Para anggota laskar walimah yang masih berstatus singlewan singlewati hampir pasti tak luput dari pertanyaan, Kapan nyusul?
 
Wajar sih kalau pertanyaan seperti itu semakin menjadi-jadi. Maklum, udah masuk usia siap atau layak nikah (?) versi orang Indonesia. Tapi udah, udah nggak usah galau. Jawab saja begini, Tak ada gunanya kau bertanya padaku karena aku pun tak tahu. Hanya Allah yang tahu jawabannya. *tsaaahh!

Dan biarkan waktu yang menjawabnya. :)
Barakallah!


Jogja, June 21, 2013 17:30
Meidwinna Saptoadi

Assalamu'alaykum warahmatullahi wabarakatuh...

(Puji syukur kehadirat Allah yang masih memberikan nikmat iman dan Islam pada diri ini..)

Selamat datang di blogku yang mungkin hanya berisi secuil pemikiran dan ungkapan isi hati...

Sungguh, kebenaran datangnya hanya dari Allah. Adapun kesalahan datangnya murni dari diri ini. Untuk itu mohon masukan, kritik, dan sarannya serta mohon dimaafkan atas segala kesalahan. Terima kasih. Selamat menikmati. Semoga bermanfaat dan membawa berkah. Amin

(Mulakanlah dengan membaca Basmalah.... dan akhirilah dengan Hamdalah..)